MALANG KOTA – MTsN 2 Kota Malang mengembangkan urban farming ramah lingkungan berbasis hidroponik, pupuk hayati, dan kompos bersama Universitas Airlangga (UNAIR). Program tersebut tidak hanya memanfaatkan lahan madrasah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi murid tentang pertanian perkotaan dan pengelolaan sampah organik.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR dengan MTsN 2 Kota Malang sebagai tindak lanjut Memorandum of Understanding (MoU) kedua pihak. Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang penerapan pengetahuan perguruan tinggi dalam pembelajaran berbasis praktik di lingkungan madrasah.
Urban Farming Menjadi Laboratorium Pembelajaran Murid
Urban farming di MTsN 2 Kota Malang dirancang sebagai pembelajaran yang menggabungkan praktik bercocok tanam dengan kepedulian terhadap lingkungan. Murid dikenalkan pada teknik hidroponik, pengolahan sampah organik, pembuatan pupuk hayati dan kompos, hingga pemanfaatan lahan untuk kegiatan produktif.
Kepala MTsN 2 Kota Malang Anita Yusianti mengatakan, kolaborasi dengan perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada murid untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata.
“Kami sangat bersyukur kegiatan hari ini berjalan lancar sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah disepakati. Kerja sama dengan perguruan tinggi merupakan kesempatan berharga untuk memberikan pengalaman belajar yang praktis dan nyata bagi para murid. Harapannya, sinergi ini dapat terus berkembang dan memberi manfaat luas bagi kedua belah pihak,” tutur Anita.
Keberadaan green house di lingkungan madrasah juga akan diarahkan sebagai laboratorium terbuka. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan murid dan guru untuk melakukan riset maupun eksperimen sederhana mengenai pertanian perkotaan.
Sampah Organik Diolah Menjadi Kompos
Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR juga mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah organik. Material yang sebelumnya menjadi limbah dapat diolah menjadi kompos dan kembali digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian di lingkungan madrasah.
Perwakilan Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR Dr. Almando Geraldi mengatakan, MTsN 2 Kota Malang dinilai menjadi mitra yang tepat untuk menerapkan hasil riset perguruan tinggi secara langsung.
Konsep tersebut membuat kegiatan urban farming tidak berhenti pada aktivitas menanam. Murid juga belajar memahami hubungan antara pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan.
Program itu sekaligus menjadi media penerapan nilai Panca Cinta yang dikembangkan MTsN 2 Kota Malang. Nilai Cinta Lingkungan diterapkan melalui kegiatan merawat tanaman dan mengelola sampah. Sementara Cinta Ilmu diperkuat melalui praktik hidroponik serta pembuatan pupuk.
Pengawas Madrasah Kemenag Kota Malang Farid Wajdi menilai kegiatan tersebut dapat menjadi media pembentukan karakter murid. Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan tidak sebatas persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan pribadi yang mandiri, solid, religius, dan memiliki budaya menjaga lingkungan.
Pendampingan UNAIR Diarahkan Berkelanjutan
Untuk menjaga keberlanjutan program, Tim Pengabdian Masyarakat UNAIR akan melakukan pendampingan dan monitoring secara berkala. Pendampingan tersebut diharapkan membuat green house tidak hanya menjadi fasilitas penghijauan, tetapi berkembang sebagai ruang belajar dan penelitian bagi warga madrasah.
Kolaborasi MTsN 2 Kota Malang dan UNAIR pun diarahkan tidak berhenti pada kegiatan urban farming. Kerja sama kedua pihak diharapkan dapat berkembang ke bidang pendidikan, penelitian, serta program lingkungan berkelanjutan lainnya.
Dengan demikian, kegiatan bercocok tanam di lingkungan madrasah memiliki fungsi yang lebih luas. Murid tidak hanya belajar menghasilkan tanaman, tetapi juga memahami pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya, kerja sama, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang