FKUB dan Pemkab Jember Perkuat Kolaborasi Pentahelix Tekan Stunting

Aditya Novrian • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:04 WIB
FKUB dan Pemkab Jember Perkuat Kolaborasi Pentahelix Tekan Stunting
FKUB dan Pemkab Jember Perkuat Kolaborasi Pentahelix Tekan Stunting

JEMBER, RADAR MALANG – Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember untuk mempercepat penurunan stunting dan meningkatkan pemberdayaan perempuan melalui Program MIRSANI Menjadi Ibu Riang, Sehat, Intelek, dan Mandiri.

Kolaborasi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Program MIRSANI di Kantor Pemkab Jember, Kamis (30/7/2026). Kegiatan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dosen Kebidanan FKUB.

Ketua Pengabdian Masyarakat Program MIRSANI, Dr. Yuseva Sariati, SST., SE., M.Keb., mengatakan persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan faktor kesehatan dan gizi. Sejumlah faktor sosial turut memengaruhi, seperti pendidikan ibu, kondisi ekonomi, kehadiran orang tua di posyandu, serta pernikahan dini.

“Persoalan stunting tidak hanya dari sisi kesehatan dan dapat dicegah dengan intervensi gizi. Namun, terdapat sejumlah faktor yang berkaitan dengan probabilitas stunting, antara lain pendidikan ibu, pendapatan per kapita, indeks modal, kehadiran orang tua di posyandu, dan pernikahan dini,” ujarnya.

Program MIRSANI dikembangkan FKUB dengan pendekatan multidisiplin yang mencakup kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan, serta kemandirian ekonomi. Jember dipilih sebagai salah satu lokasi program karena memiliki tantangan sosial dan kesehatan, termasuk prevalensi stunting yang masih tinggi.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang tercantum dalam bahan diseminasi, prevalensi stunting di Jember mencapai 30,4 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pentingnya penguatan intervensi berbasis masyarakat.

Selain stunting, MIRSANI juga memberikan perhatian terhadap persoalan pernikahan dini. Berdasarkan penelitian Yuseva pada 2024, terdapat 400 perkara pernikahan dini di Jember. Kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan berbagai persoalan, mulai pendidikan, kesehatan reproduksi, ekonomi hingga pengasuhan anak.

Melalui MIRSANI, FKUB menawarkan pemberdayaan ibu muda dengan melibatkan berbagai sektor. Program mencakup edukasi kesehatan, peningkatan pendidikan, keterampilan, kewirausahaan, serta penguatan kemandirian ekonomi.

Pada aspek kesehatan, program memberikan edukasi mengenai kontrasepsi, deteksi dini kanker payudara melalui SADARI, deteksi kanker serviks melalui IVA, serta pemeriksaan *pap smear* gratis sesuai indikasi.

Sementara pada bidang pendidikan, MIRSANI mendorong pembentukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi perempuan yang belum menyelesaikan pendidikan dasar. Program juga menyiapkan kelas khusus Paket C bagi perempuan yang putus sekolah karena menikah dan telah menjadi ibu.

Intervensi lainnya berupa edukasi melalui e-book MIRSANI yang dapat dimanfaatkan kader dan bidan desa. Edukasi e-MIRSANI juga akan diberikan kepada ibu yang memiliki balita stunting melalui petugas homecare dan bidan koordinator di puskesmas.

Program tersebut turut mencakup pelatihan kewirausahaan dan *life skill* bagi ibu muda, serta deteksi dini risiko kesehatan reproduksi bagi perempuan yang menikah pada usia dini.

Kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam implementasi MIRSANI. Konsep pentahelix melibatkan unsur akademisi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media sesuai peran masing-masing.

Pemkab Jember menyambut program tersebut karena dinilai sejalan dengan sejumlah program kesehatan daerah, termasuk Universal Health Coverage* (UHC) dan layanan*homecare. Kerja sama UB dan Pemkab Jember juga telah memiliki landasan kelembagaan melalui nota kesepahaman di tingkat rektorat serta kerja sama fakultas dengan Dinas Kesehatan.

Ke depan, implementasi MIRSANI diarahkan tidak hanya menghasilkan luaran penelitian dan publikasi ilmiah, tetapi juga model intervensi berbasis masyarakat. Program ini diharapkan mampu memperkuat keluarga sekaligus mempercepat penurunan stunting melalui peningkatan pendidikan, kesehatan, pengasuhan, keterampilan, dan kemandirian ekonomi perempuan. (aw)

Editor : Aditya Novrian
gender ineque universitas brawijaya sdgs