
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menyambut mahasiswa internasional yang akan menjalani studi di lingkungan FIB UB pada Senin (7/9/2026). Bertempat di Ruang Rapat Lantai 6 Gedung A FIB UB, kegiatan tersebut menjadi ruang perkenalan sekaligus memberikan bekal awal bagi mahasiswa asing untuk beradaptasi dengan kehidupan akademik dan sosial selama berada di Malang.
Mahasiswa internasional yang hadir berasal dari empat negara, yakni Pakistan, Rusia, Cina, dan Jerman. Mereka adalah mahasiswa baru di jenjang S1 maupun S2 di FIB UB. Kehadiran mereka mempertemukan beragam latar bahasa dan budaya dalam lingkungan akademik FIB UB sekaligus memperkuat suasana pembelajaran lintas budaya di fakultas.

Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UB, Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa menempuh pendidikan di negara lain dapat menjadi pengalaman yang berharga, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan tersendiri.
“Saya harap masa studi Anda di FIB UB akan bermakna. Belajar di negara lain bisa jadi menantang. Memang tidak mudah untuk beradaptasi,” ujar Yusri.
Menurutnya, mahasiswa internasional tidak hanya akan berhadapan dengan lingkungan akademik yang baru, tetapi juga dengan kebiasaan, bahasa, dan kehidupan sosial yang mungkin berbeda dari negara asal mereka. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari perjalanan studi di Indonesia.

Yusri menjelaskan bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang multikultural. Selama berada di FIB UB, mahasiswa akan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar budaya sekaligus menemukan berbagai kebiasaan yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya.
“Di sini kalian akan melihat keberagaman budaya dan keunikan Indonesia. Jadi, saran saya, jika ada hal yang belum kalian ketahui, kalian bisa bertanya dan meminta bantuan selama menempuh studi di sini,” pesannya.
Ia meminta mahasiswa tidak ragu berkomunikasi dengan dosen maupun tenaga kependidikan ketika membutuhkan informasi atau menghadapi kesulitan selama proses adaptasi.
“Jangan ragu untuk berkomunikasi dengan staf akademik kami. Kalian disambut dengan hangat, dihormati, dan didukung,” tegas Yusri.
Pesan tersebut menjadi penting karena proses adaptasi mahasiswa internasional tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di ruang kuliah. Hal-hal sederhana seperti memahami sistem administrasi, berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, hingga menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat dapat menjadi pengalaman baru bagi seseorang yang pertama kali tinggal di Indonesia.
Yusri juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa studi mereka untuk mengenal Malang. Kota dan wilayah sekitarnya memiliki berbagai tradisi, kebudayaan lokal, serta tempat yang dapat dikunjungi, sehingga pengalaman belajar tidak harus berhenti ketika mahasiswa meninggalkan ruang kelas.
“Ada banyak tempat wisata dan budaya lokal di Malang yang bisa dikunjungi,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk membangun hubungan dengan dosen dan mahasiswa lokal. Interaksi tersebut dapat membantu proses akademik sekaligus menjadi jalan untuk memahami kehidupan masyarakat Indonesia secara lebih dekat.
“Jalin hubungan dengan para dosen dan mahasiswa,” pesannya.
Dengan demikian, pengalaman internasional tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan mahasiswa dari satu negara ke negara lain. Interaksi sehari-hari menjadi bagian dari proses pertukaran pengetahuan dan kebudayaan. Mahasiswa internasional belajar mengenai Indonesia, sementara mahasiswa dan sivitas akademika FIB UB memperoleh kesempatan berinteraksi langsung dengan perspektif budaya yang dibawa mahasiswa dari negara asalnya.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FIB UB, Ismatul Khasanah, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Ph.D., juga menyampaikan rasa senangnya atas kehadiran mahasiswa internasional tersebut. Ia berharap pengalaman selama berada di FIB UB tidak hanya menghasilkan pengetahuan akademik. Mahasiswa juga diharapkan membawa pulang pengalaman sosial dan budaya yang berkesan.
“Kami berharap kalian tidak hanya memperoleh pengetahuan akademis, tetapi juga pengalaman. Saya harap ini akan menjadi pengalaman yang bermakna dan menyenangkan. Nikmati pengalaman yang tak terlupakan bersama kami,” lanjutnya.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Linguistik FIB UB, Syariful Muttaqin, S.Pd., M.A., Ph.D., menilai kehadiran mahasiswa internasional juga memiliki arti bagi lingkungan akademik FIB UB. Menurut Syariful, melalui kehadiran mahasiswa dari berbagai negara, FIB UB memiliki kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus praktik pembelajaran yang berkembang di lingkungan universitas.
“Dengan kehadiran Anda di sini, kami berupaya memperkenalkan budaya Indonesia dan praktik pengajaran kami,” jelasnya.
Ia berharap mahasiswa dapat menikmati dua sisi kehidupan selama berada di Indonesia, yakni proses belajar di UB dan pengalaman tinggal di lingkungan masyarakat yang baru.
Kehadiran mahasiswa internasional dalam lingkungan ilmu budaya memiliki relevansi tersendiri. Bahasa dan budaya tidak hanya dapat dipahami melalui teks dan teori, tetapi juga melalui perjumpaan langsung dengan penuturnya. Interaksi di kelas, percakapan dengan mahasiswa lokal, hingga pengalaman sehari-hari di Malang dapat menjadi ruang belajar yang melengkapi proses akademik formal.
Kesan positif terhadap lingkungan baru mulai dirasakan para mahasiswa sejak awal kedatangan mereka. Tian Yuxuan, mahasiswa asal Tiongkok, mengaku senang dapat berada di FIB UB.
“Saya senang bisa datang ke sini. Semua orang yang saya temui sangat ramah dan baik hati,” ungkap Tian.
Keramahan yang dirasakan pada masa awal kedatangan menjadi modal penting dalam membantu mahasiswa internasional menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Hal serupa dirasakan Lisa, mahasiswa asal Rusia. Bagi Lisa, berada di Indonesia memberikan kesempatan untuk mempelajari bahasa Indonesia langsung di lingkungan tempat bahasa tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sungguh menyenangkan bisa belajar bahasa Indonesia di Indonesia. Terima kasih telah menyambut kami,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa mobilitas mahasiswa internasional memberikan dimensi pembelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh di negara asal. Bahasa yang sebelumnya dipelajari sebagai materi akademik kini dapat digunakan secara langsung ketika berkomunikasi, berbelanja, berinteraksi di kampus, maupun menjalani kehidupan sehari-hari.
Dari pertemuan pertama di Ruang Rapat FIB UB tersebut, perjalanan mahasiswa dari empat negara itu pun dimulai. Mereka datang untuk belajar, tetapi selama berada di Malang, pengalaman yang diperoleh diharapkan jauh lebih luas: mengenal Indonesia, membangun pertemanan lintas negara, memahami kebudayaan baru, dan membawa pulang pengalaman yang akan tetap diingat setelah masa studi mereka berakhir. [dts/Humas FIB]
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang