Eurasia Lecturer Series FIB UB Hadirkan Prof. Loch Leaksmy dari Kamboja

Aditya Novrian • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 13:01 WIB
FIB UB

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) membuka rangkaian Eurasia Lecturer Series 2026 dengan menghadirkan Prof. Loch Leaksmy dari Kamboja pada Selasa (8/9/2026). Bertempat di Aula Gedung A Lantai 2 FIB UB, kuliah tamu internasional tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif global melalui pengalaman hidup, pendidikan, bahasa, dan perjumpaan lintas budaya.

Pada sesi perdana, Prof. Loch Leaksmy membawakan materi bertajuk “My Life Story as an Educator Who Lived through Turbulent Cambodia and Encountering the Japanese Language and Culture”. Kuliah berlangsung mulai pukul 09.30 WIB setelah sesi pembukaan dan dilanjutkan dengan diskusi bersama mahasiswa. Fitriana Puspita Dewi, S.S., M.Si., Ph.D., mendampingi sesi sebagai penerjemah.

fib ub

Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang didukung Eurasia Foundation (from Asia), lembaga yang mendorong terciptanya masyarakat dunia yang harmonis dan damai melalui berbagai aktivitas pendidikan dan pertukaran. Sepanjang 2026, program Eurasia Foundation juga berlangsung di berbagai perguruan tinggi di sejumlah negara. Pada Agustus 2026, misalnya, Eurasia Convention Busan di Korea Selatan dihadiri oleh sekitar 600 akademisi dari 357 universitas di 34 negara dan wilayah. UB juga tercatat menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam konvensi tersebut.

Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UB, Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A., menilai Eurasia Lecturer Series memiliki posisi penting dalam memperkuat pengalaman internasional mahasiswa.

FIB UB

“Program Eurasia ini sangat penting bagi para mahasiswa FIB karena akan membuka cakrawala mereka secara global,” ujar Yusri.

Menurutnya, rangkaian kegiatan akan menghadirkan dosen tamu dari berbagai negara, baik dari kawasan Asia Tenggara maupun dari negara Asia lainnya, termasuk Jepang. Pertemuan langsung dengan akademisi internasional memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang tidak hanya berasal dari buku atau proses pembelajaran reguler di kelas.

FIB UB

“Kawasan internasional dan global yang disampaikan oleh para pembicara tentu akan mampu meningkatkan pengetahuan dan wawasan mahasiswa,” katanya.

Pengalaman tersebut dinilai semakin relevan bagi mahasiswa FIB UB, khususnya mereka yang mempelajari bahasa dan budaya asing. Penguasaan bahasa perlu berjalan bersama dengan pemahaman terhadap masyarakat, kebudayaan, serta dinamika global yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut.

FIB UB

Yusri berharap wawasan internasional yang diperoleh melalui program ini dapat menjadi bekal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia profesional.

“Mahasiswa kita, terutama dari program studi bahasa asing, harus memiliki pengetahuan dan juga pengalaman internasional. Harapannya, melalui program ini mahasiswa menjadi lebih siap dan memiliki kompetensi untuk menghadapi persaingan global serta peluang-peluang yang bisa mereka dapatkan di dunia internasional,” jelasnya.

Kuliah Prof. Loch Leaksmy membawa mahasiswa memasuki pengalaman yang jauh lebih personal. Ia menceritakan perjalanan hidupnya di tengah sejarah Kamboja yang diwarnai konflik dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk pandangannya mengenai pendidikan. Prof. Loch Leaksmy menjelaskan bahwa pengalaman tumbuh dengan menyaksikan berbagai dampak konflik membuatnya memikirkan bagaimana Kamboja dapat bergerak menuju keadaan yang lebih baik.

 

Dari pergulatan tersebut, ia menemukan salah satu jawabannya pada pendidikan. Pengalaman itu kemudian membentuk perjalanan Prof. Loch Leaksmy sebagai seorang pendidik. Baginya, belajar tidak semata-mata berkaitan dengan capaian individual, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

“Yang ingin saya katakan kepada para mahasiswa hari ini adalah kita harus melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan hingga akhir. Kita tidak boleh menyerah,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi salah satu inti dari kuliah yang ia sampaikan. Kisah hidup digunakan sebagai titik masuk untuk menunjukkan kepada mahasiswa bahwa pendidikan dapat tumbuh dari pengalaman yang tidak mudah sekaligus menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.

Ketua pelaksana program Eurasia Foundation di FIB UB, Dr. Sri Aju Indrowaty, M.Pd., menilai pengalaman Prof. Loch Leaksmy memberikan perspektif yang berbeda kepada mahasiswa. Menurutnya, latar belakang akademik dan perjalanan hidup narasumber memperlihatkan bahwa proses belajar dapat melintasi batas disiplin maupun kebudayaan.

“Prof. Loch Leaksmy memberikan motivasi dan semangat. Meskipun latar belakangnya berbeda, kemudian bertemu dengan bahasa Jepang, ini menjadi pengalaman lintas budaya,” jelas Sri Aju.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut membuka pemahaman bahwa proses pendidikan tidak selalu berlangsung dalam jalur yang lurus. Pertemuan dengan bahasa, budaya, organisasi, dan pengalaman sosial dapat ikut membentuk arah kehidupan seseorang.

Dalam perjalanan akademiknya, perjumpaan Prof. Loch Leaksmy dengan bahasa dan budaya Jepang menjadi salah satu pengalaman yang berpengaruh. Ia melihat adanya sejumlah kedekatan antara masyarakat Kamboja, Indonesia, dan Jepang, termasuk nilai yang tumbuh dalam masyarakat dengan tradisi agraris. Menurutnya, perhatian terhadap alam, hubungan antarmanusia, dan harmoni menjadi titik-titik yang memungkinkan dialog antarbudaya berlangsung.

Dari sana, bahasa tidak lagi hanya dipahami sebagai alat komunikasi. Bahasa dapat menjadi pintu masuk untuk memahami cara pandang masyarakat lain sekaligus membangun hubungan antarnegara.

Prof. Loch Leaksmy juga melihat besarnya jumlah generasi muda di Indonesia dan Kamboja sebagai potensi. Menurutnya, generasi muda dapat menggunakan pendidikan serta interaksi dengan negara seperti Jepang untuk mempelajari pengetahuan dan teknologi, kemudian mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat masing-masing.

Ia pun mendorong mahasiswa Indonesia untuk terus belajar dan memanfaatkan peluang yang dimiliki generasi muda saat ini. Kesan positif juga disampaikan Prof. Loch Leaksmy terhadap UB. Ia mengaku senang berada di lingkungan UB dan berharap dapat kembali berkunjung.

“Saya senang datang ke sini. Kampusnya besar dan udaranya juga sejuk. Saya ingin datang lagi,” ungkapnya.

Kuliah Prof. Loch Leaksmy tidak menjadi satu-satunya agenda dalam program Eurasia di FIB UB. Sri Aju menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung hingga Desember 2026 dengan menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri. Program tersebut dapat terselenggara setelah FIB UB memperoleh hibah dari Eurasia Foundation.

“Tidak semua universitas mendapatkan hibah ini. Alhamdulillah, UB mendapatkan hibah ini setelah sebelumnya kami sempat gagal, kemudian pada pengajuan berikutnya berhasil,” jelasnya.

Setelah kuliah perdana ini, rangkaian berikutnya direncanakan menghadirkan pembicara dari berbagai negara, termasuk Jepang dan Malaysia. Agenda kemudian berlanjut pada Oktober, November, dan Desember. [dts/Humas FIB]

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
Eurasia Lecturer Series Prof. Loch Leaksmy mahasiswa fib ub