
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) mempertemukan akademisi dari berbagai negara melalui The 6th International Conference on Language, Literary, and Cultural Studies (ICON LATERALS) 2026 pada Rabu (16/9/2026). Mengangkat tema “Translated Worlds: Literature, Culture, and Media in the Age of AI and Global Flows”, konferensi internasional ini membahas perubahan bahasa, sastra, budaya, dan media ketika berhadapan dengan perkembangan kecerdasan artifisial (AI), teknologi digital, serta pertukaran global yang semakin intensif.
Kegiatan berlangsung secara hibryd mulai pukul 07.00 hingga 16.30 WIB dengan kegiatan utama luring di Aula Gedung A Lantai 2 FIB UB. Tahun ini menjadi penyelenggaraan keenam ICON LATERALS, melanjutkan forum akademik internasional yang telah dikembangkan oleh FIB UB untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam kajian humaniora.
Ketua Pelaksana The 6th ICON LATERALS 2026, Dr. Nurul Laili Nadhifah, M.Hum., menjelaskan bahwa pemilihan tema tahun ini mempertimbangkan isu-isu yang sedang berkembang dalam kajian humaniora. AI menjadi salah satu perkembangan yang sulit dilepaskan dari pembicaraan tentang produksi bahasa, sastra, budaya, dan media.
Menurutnya, tantangan penyelenggara adalah menemukan isu yang aktual sekaligus mampu membuka ruang kajian baru bagi akademisi.
“Dengan timeline yang hampir berdekatan, kami harus mencari celah, isu apa yang paling tren saat ini dan paling menarik agar banyak orang tertarik untuk mengikuti acara kita,” jelas Nurul.

Tema “Translated Worlds” tidak menempatkan penerjemahan semata-mata sebagai proses memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Perubahan teknologi membuat gagasan, identitas, narasi, dan praktik budaya kini bergerak melintasi bahasa, media, teknologi, budaya, dan batas geografis.
Dalam sambutan pembukaan, FIB UB menyoroti bagaimana AI dan teknologi digital telah mengubah cara manusia menciptakan, mengomunikasikan, dan mengalami bahasa, sastra, serta kebudayaan.
Teknologi membuka kemungkinan baru bagi pertukaran budaya dan produksi pengetahuan. Namun, perkembangan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai representasi, identitas, kepengarangan, keberagaman budaya, dan etika.
Di titik tersebut, humaniora memiliki posisi penting. Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan untuk mempertanyakan konsekuensi sosial dan budayanya sehingga inovasi tidak mengorbankan pengetahuan lokal, keberagaman budaya, maupun nilai-nilai kemanusiaan.
Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., mengatakan tema tersebut membuat penyelenggaraan ICON LATERALS tahun ini relevan dengan perubahan yang sedang berlangsung.
“ICON LATERALS 2026 adalah rangkaian konferensi tahunan yang mengkaji bahasa, sastra, budaya, dan media. Ini adalah keenam kalinya kami menyelenggarakannya dan fokus utamanya adalah bagaimana kita melihat peran AI di dunia humanities,” jelas Sahiruddin.
Menurutnya, konferensi tersebut penting bagi sivitas akademika FIB UB karena menyediakan ruang untuk mendiskusikan bagaimana AI memengaruhi perkembangan berbagai bidang humaniora.
“Harapannya, para dosen, peserta, dan mahasiswa memiliki update terbaru tentang pengetahuan di bidang humaniora sehingga ke depan mereka bisa mengantisipasinya dalam dunia nyata,” ujarnya.
ICON LATERALS 2026 menghadirkan enam pembicara utama dari Indonesia, Tiongkok, Finlandia, Singapura, dan Korea Selatan.
Mereka adalah Prof. Manneke Budiman dari Universitas Indonesia; Dr. M. Andhy Nurmansyah dari Universitas Brawijaya; Sun Meicheng, Ph.D. dari Beijing Language and Culture University, Tiongkok; Dr. Matti Pöyhönen dari University of Helsinki, Finlandia; Miguel Escobar Varela, Ph.D. dari National University of Singapore; serta Lee Jeeheng, Ph.D. dari Korea Selatan. Sebagian narasumber hadir secara langsung, sedangkan lainnya bergabung secara daring.
Konferensi dibagi menjadi dua sesi pleno sebelum dilanjutkan dengan sesi paralel pada sore hari. Prof. Manneke Budiman, Sun Meicheng, dan Matti Pöyhönen mengisi sesi pleno pertama, sedangkan sesi kedua menghadirkan M. Andhy Nurmansyah, Miguel Escobar Varela, dan Lee Jeeheng.
Sahiruddin menilai kehadiran akademisi internasional memungkinkan peserta melihat persoalan humaniora dari konteks geografis yang berbeda.
“Kehadiran pembicara dari berbagai negara diharapkan membuat pembicaraan mengenai bidang-bidang humaniora datang dari berbagai wilayah geografis. Setiap daerah memiliki pola yang berbeda dalam perkembangan pengetahuan dan teknologi,” jelasnya.
Dari perbedaan tersebut, peserta dapat mempelajari praktik dan perkembangan kajian di berbagai negara untuk kemudian menjadi bahan dalam pengembangan keilmuan di Indonesia.
Salah satu persoalan yang mengemuka dalam konferensi ini adalah bagaimana teknologi mengubah hubungan antara manusia, teks, dan proses kreatif. Prof. Manneke Budiman menilai kehadiran teknologi dan kecerdasan artifisial membawa persoalan baru bagi perkembangan sastra. Salah satunya terlihat dari batas antara pembaca dan pengarang yang semakin sulit dibedakan.
“Sekarang, pembaca dan pengarang, batasnya makin lama makin kabur. Pembaca juga bisa mengarang dengan bantuan teknologi dan pengarang kemudian juga menjadi bagian dari pembaca,” jelas Manneke.
Perubahan tersebut berpotensi menggeser cara memahami produksi dan konsumsi karya. Ketika teknologi memungkinkan seseorang yang semula hanya menjadi pembaca ikut menghasilkan teks, gambar, maupun bentuk ekspresi lainnya, kategori produsen dan konsumen budaya menjadi semakin cair.
“Proses-proses konsumsi dan produksi pada suatu titik nanti tidak akan lagi bisa dibedakan dengan tegas,” lanjutnya.
Persoalan ini berkaitan langsung dengan tema besar konferensi. AI bukan hanya alat baru untuk mempercepat produksi teks. Kehadirannya juga memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang disebut pengarang, bagaimana sebuah karya dihasilkan, siapa yang memiliki otoritas atas narasi, hingga bagaimana masyarakat memberikan nilai terhadap kreativitas manusia.
Manneke juga membawa pembahasan mengenai hilirisasi budaya. Menurutnya, istilah hilirisasi belakangan banyak digunakan dalam berbagai sektor. Namun, ketika gagasan tersebut diterapkan pada sumber daya budaya, diperlukan refleksi yang lebih kritis.

“Saya ingin merefleksikan secara kritis, kalau untuk sumber daya budaya, bagaimana cara mengelolanya, konsekuensinya seperti apa, lalu alternatifnya apa,” jelasnya.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena budaya memiliki karakter berbeda dari sumber daya material. Bahasa, tradisi, pengetahuan lokal, sastra, dan ekspresi budaya tidak semata-mata memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas, sejarah, ingatan kolektif, serta hubungan sosial masyarakat.
Menurut Manneke, kajian sastra dan budaya kini semakin dituntut untuk ikut berbicara secara konkret mengenai persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Sastra dan budaya semakin lama semakin dituntut untuk bisa ikut berbicara secara konkret dalam urusan-urusan yang selalu menjadi pokok pembicaraan dalam masyarakat, termasuk di antaranya hilirisasi,” ujarnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa humaniora tidak berada di luar persoalan kontemporer. Justru melalui pendekatan kritisnya, humaniora dapat mempertanyakan konsekuensi yang mungkin tidak terlihat ketika perubahan teknologi, ekonomi, dan sosial hanya dibaca melalui ukuran efisiensi atau produktivitas.
Luasnya persoalan yang dibicarakan tercermin dalam enam subtema ICON LATERALS 2026. Konferensi membuka pembahasan mengenai Resistance, Activism, and Alternative AI Futures; Cultural Heritage, Memory, and the Digital Commons; Literature, Narrative, and Digital Future; AI, Power, and Ideology; World Literature and the Translation Machine; serta Film, Visual Culture, and AI-Mediated Digital Worlds.
Dengan cakupan tersebut, AI tidak ditempatkan hanya sebagai persoalan teknis. Teknologi dibaca melalui hubungannya dengan kekuasaan, ideologi, ingatan, warisan budaya, narasi, film, budaya visual, dan masa depan sastra.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pesan pembukaan konferensi bahwa perkembangan teknologi perlu dibaca secara kritis. AI memang membuka kemungkinan baru bagi produksi dan distribusi pengetahuan, tetapi pada saat yang sama menuntut akademisi mempertanyakan bagaimana teknologi membentuk kembali manusia dan kebudayaan.

ICON LATERALS juga dirancang sebagai ruang pertemuan antarakademisi, bukan sekadar tempat mempresentasikan hasil penelitian. Nurul Laili menyampaikan bahwa salah satu target setelah konferensi adalah membawa gagasan dan artikel yang terkumpul menuju publikasi ilmiah.
“Target kami adalah bagaimana kami bisa mengembangkan keilmuan sesuai dengan isu-isu terbaru. Paper-paper yang terkumpul nanti kami harapkan bisa masuk ke jurnal yang sudah bekerja sama dengan kami, juga book chapter dan lain sebagainya,” jelasnya.
Harapan serupa disampaikan Manneke. Ia berharap ICON LATERALS dapat terus berlangsung dan membicarakan semakin banyak persoalan yang relevan bagi masyarakat.
“Semoga terus berlanjut dan semakin banyak hal penting yang bisa dibicarakan sebagai bentuk sumbangan UB terhadap perkembangan sastra dan budaya di Indonesia,” katanya.
Dengan penyelenggaraan keenamnya, ICON LATERALS memperlihatkan bagaimana konferensi humaniora dapat bergerak mengikuti persoalan zaman. Jika bahasa, sastra, dan budaya sebelumnya banyak dibicarakan melalui teks dan masyarakat yang menghasilkannya, kini ruang tersebut juga harus berhadapan dengan algoritma, mesin generatif, perpindahan informasi global, serta batas antara manusia dan teknologi yang semakin cair.
Pertanyaan yang muncul kemudian tidak lagi hanya mengenai apa yang dapat dilakukan AI terhadap bahasa, sastra, media, dan budaya, tetapi juga bagaimana manusia akan mempertahankan keberagaman, pengetahuan lokal, kreativitas, etika, dan nilai kemanusiaan ketika teknologi semakin terlibat dalam proses produksi kebudayaan. [dts/Humas FIB]
Editor : Aditya Novrian