ICOLLEC 2026 FIB UB Perkuat Pendidikan Bahasa yang Multikultural dan Kritis di Era AI

Aditya Novrian • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:36 WIB
-

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) menyelenggarakan The 6th International Conference on Language, Literature, Education, and Culture (ICOLLEC) 2026 pada Kamis (17/9/2026). Mengangkat tema “Language Without Borders: Advancing Linguistics, Language Education, and Multicultural Understanding in the Age of Artificial Intelligence”, konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, dan mahasiswa untuk membahas perkembangan bahasa dan pendidikan di tengah pesatnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI).

Kegiatan berlangsung secara hibryd dan diikuti sekitar 70 presenter dan peserta dari lima negara. ICOLLEC tahun ini menghadirkan enam pembicara utama dari Indonesia dan sejumlah negara lain, dengan pembahasan yang mencakup linguistik, pendidikan bahasa, komunikasi digital, multikulturalisme, hingga penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran.

Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., dalam sambutannya menekankan bahwa perkembangan AI telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia berkomunikasi, mengajar, belajar, dan melakukan penelitian.

“Mesin saat ini dapat menerjemahkan, merangkum, menulis, dan berkomunikasi dengan kemampuan yang semakin berkembang. Bagi akademisi yang bekerja dalam bidang bahasa, perkembangan tersebut menawarkan berbagai kemungkinan baru sekaligus menghadirkan tantangan,” terangnya.

Menurut Sahiruddin, respon terhadap AI tidak seharusnya berhenti pada menerima atau menolaknya.

-

“Perkembangan teknologi perlu tetap berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang bermakna, hubungan antarmanusia, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya,” ujarnya.

Transformasi tersebut juga telah terlihat dalam kehidupan akademik sehari-hari. Pertemuan ilmiah yang sebelumnya sangat bergantung pada kehadiran fisik kini dapat mempertemukan akademisi dari berbagai negara dalam satu ruang virtual. Penelitian menjadi semakin mudah diakses dan kolaborasi dapat dilakukan melintasi batas geografis.

Di balik berbagai kemudahan tersebut, Sahiruddin mengingatkan adanya tanggung jawab lain yang tidak kalah penting, terutama yang berkaitan dengan literasi digital, etika, dan preservasi bahasa. Hal tersebut relevan karena teknologi AI tidak berkembang dalam ruang yang sepenuhnya netral. Sistem AI banyak dilatih menggunakan bahasa-bahasa yang memiliki sumber daya digital besar. Kondisi ini dapat menimbulkan tantangan tersendiri bagi bahasa lokal dan minoritas yang memiliki representasi digital lebih terbatas.

“Jika bahasa memang ingin benar-benar tanpa batas, maka dunia digital harus menjadi tempat bagi semua bahasa, bukan hanya bahasa-bahasa yang dominan,” tegasnya.

-

Karena itu, “Language Without Borders” bukan berarti menghilangkan perbedaan bahasa. Gagasan tersebut justru menempatkan bahasa sebagai jembatan yang memungkinkan manusia dengan latar geografis, budaya, dan disiplin berbeda saling berkomunikasi tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

ICOLLEC 2026 menghadirkan Prof. Dr. Subhan Zein dari Sunway University, Malaysia; Prof. Dr. Drs. Oktavianus, M.Hum., Dipl.Appl.Ling. dari Universitas Andalas, Indonesia; Prof. Hsueh-Hua Chuang, Ph.D. dari National Sun Yat-sen University, Taiwan; Assoc. Prof. M. Obaid Hamid dari The University of Queensland, Australia; Assoc. Prof. Ivana Rancovic dari Kroasia; serta Dr. Eni Maharsi, S.S., M.A. dari Universitas Brawijaya.

Para pembicara memberikan perspektif berbeda mengenai perkembangan linguistik dan pendidikan bahasa dalam dua sesi utama yang berlangsung secara luring maupun daring. Setelah sesi keynote, konferensi dilanjutkan dengan presentasi paralel. Sesi tersebut diselenggarakan dalam lima ruang dengan empat presentasi pada setiap ruang. Format ini memberikan kesempatan kepada para presenter untuk mendiskusikan hasil penelitian secara lebih terfokus.

Bidang yang dibicarakan juga cukup luas, mulai dari Language, Media, and Digital Communication, Corpus Linguistics and Discourse Analysis, Language Education and Digital Pedagogy, AI and Language Technologies, Multilingualism and Global Communication, hingga Professional and Workplace Communication.

Ketua Departemen Bahasa dan Sastra FIB UB, Dr. Esti Junining, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa ICOLLEC merupakan bagian dari rangkaian konferensi internasional yang dikembangkan sesuai bidang keilmuan di FIB UB.

-

Pada 2026, Departemen Bahasa dan Sastra menyelenggarakan dua konferensi secara berurutan. ICON LATERALS yang berlangsung sehari sebelumnya, Rabu (16/9/2026), memberikan perhatian pada bahasa, sastra, budaya, dan media. ICOLLEC kemudian melanjutkan diskusi dengan penekanan lebih besar pada bahasa dan pendidikan bahasa.

Ketua Pelaksana The 6th ICOLLEC 2026, Scarletina Vidyayani Eka, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa karakter tersebut membawa ICOLLEC lebih dekat dengan ranah applied linguistics.

“Untuk hari kedua ini lebih kepada bidang bahasa, kemudian pendidikan sebagai applied linguistics-nya. Jadi lebih pada bagaimana mengaplikasikan bahasa dan pendidikan bahasa di era digital,” jelas Scarletina.

Konferensi tersebut sekaligus menjadi forum pertemuan akademisi, peneliti, dan berbagai pihak yang bergerak dalam kajian bahasa, sastra, budaya, serta pendidikan.

Menurut Scarletina, salah satu hal yang ingin diperluas dalam penyelenggaraan ICOLLEC tahun ini adalah batas antardisiplin. Bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan tidak lagi dipandang sebagai bidang yang sepenuhnya berdiri sendiri. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi membuat berbagai bidang tersebut semakin saling berhubungan.

“Tahun ini kita meluaskan lagi batas. Tidak hanya batas bidang ilmu bahasa, tidak hanya sastra, tetapi lebih pada bagaimana semuanya bisa bersinergi, multikultural, ada sebuah pengertian kebersamaan yang interdisipliner,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, AI menjadi salah satu medium yang turut mengubah ruang pendidikan.

“AI saat ini memang merupakan sebuah medium, sebuah penggerak juga, dan merupakan sebuah ruang yang kemudian pendidikan ini bisa bersinergi dengan lebih cepat,” lanjut Scarletina.

Namun, konferensi tidak menempatkan teknologi sebagai tujuan akhir. Pemanfaatan AI tetap perlu dibaca dalam hubungannya dengan manusia, pendidikan, bahasa, dan masyarakat yang multikultural.

Hal tersebut juga menjadi salah satu dasar pemilihan tema ICOLLEC. Perkembangan AI dalam pendidikan telah meluas menjadi bidang penelitian yang bersinggungan dengan hampir setiap tingkat pembelajaran. Pada saat yang sama, teknologi juga membawa kembali pertanyaan mengenai identitas, rasa memiliki, dan komunikasi antarbudaya.

Salah satu pembahasan utama disampaikan Prof. Dr. Subhan Zein dari Sunway University, Malaysia. Dalam paparannya, ia memperkenalkan kerangka DEIS—Diversity, Equity, Inclusion, and Sustainability—sebagai pendekatan untuk melihat pengajaran bahasa, sastra, dan budaya secara lebih komprehensif.

Kerangka tersebut diarahkan untuk membangun pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berpartisipasi, memperoleh akses belajar, serta menggunakan kemampuan berpikir kritis dalam melihat berbagai persoalan di sekitarnya. Menurut Subhan, kelas bahasa, sastra, dan budaya seharusnya tidak terputus dari persoalan nyata dalam masyarakat.

“Kasus-kasus yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kelas bahasa, kelas budaya, dan juga kelas sastra bisa dibahas di kelas supaya para pembelajar kita memiliki awareness tentang apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita, apa yang terjadi di negara kita, dan apa yang terjadi di dunia,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, belajar bahasa tidak berhenti pada penguasaan struktur, kosakata, atau kemampuan berkomunikasi. Pendidikan juga menjadi ruang untuk membantu mahasiswa memahami persoalan masyarakat dan membangun kemampuan untuk meresponsnya secara kritis.

Subhan memberikan perhatian khusus pada kondisi masyarakat digital. Arus informasi melalui media sosial membuat mahasiswa memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap berbagai peristiwa. Namun, akses tersebut juga diikuti oleh penyebaran misinformasi dan disinformasi. Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya melihat suatu fenomena hanya melalui satu sumber atau satu sudut pandang.

Menurut Subhan, terdapat tiga hal penting yang perlu dimiliki mahasiswa: kesadaran terhadap persoalan yang terjadi, keberanian untuk berpikir kritis, dan keberanian untuk mengambil tindakan yang dapat memberikan solusi.

Kesadaran dapat dibangun melalui membaca buku, mengikuti berita, dan memperluas sumber informasi. Namun, mahasiswa juga perlu melakukan verifikasi dan mempertanyakan informasi yang diterima sebelum membentuk kesimpulan. Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan pada era AI.

Ketika teknologi dapat menghasilkan teks dan informasi dengan sangat cepat, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan memperoleh atau membaca informasi. Mahasiswa juga harus mampu mengevaluasi sumber, memahami konteks, membandingkan perspektif, dan menentukan apakah suatu informasi layak dipercaya.

Scarletina menilai diskusi tersebut memiliki hubungan erat dengan karakter keilmuan FIB UB.

“Kalau kita melihat dasar dari fakultas kita, ini kan literasi. Fakultas Ilmu Budaya dasarnya literasi,” ujarnya.

Teknologi digital dan AI kemudian membuka kemungkinan baru untuk memperluas proses literasi tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian dapat didiseminasikan dengan lebih cepat dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Karena itu, ICOLLEC diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan konferensi tahunan. Forum tersebut dapat menjadi bagian dari proses pengembangan pengetahuan sekaligus memperluas jejaring akademik antarinstitusi dan antarnegara. [dts/Humas FIB]    

Editor : Aditya Novrian
ICOLLEC Language Without Borders AI fib ub