Gelar Festival Budaya, Ini Visi Universitas Ma Chung di Masa Depan

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:00 WIB
BUDAYA: Pengunjung memberi angpau barongsai yang tampil di ajang CHIFEST 2026 Universitas Ma Chung kemarin (20/9). (foto Darmono/Radar Malang)
BUDAYA: Pengunjung memberi angpau barongsai yang tampil di ajang CHIFEST 2026 Universitas Ma Chung kemarin (20/9). (foto Darmono/Radar Malang)

 

MALANG KOTA - Universitas Ma Chung kembali menghadirkan Chinese–Indonesian Festival (CHIFEST) 2026. Festival ini digelar dua hari, 19-20 September 2026 sebagai ruang perjumpaan dua budaya. Mempertemukan warisan Tionghoa dan kekayaan budaya Indonesia.

Chifest 2026 mengangkat tema “Fostering Transformative Convergence: Chinese Indonesian Cultural Harmony". Tema ini mengajak masyarakat tidak hanya mengenal keberagaman budaya. Tetapi melihat perjumpaan antar-kultur dapat melahirkan sesuatu yang baru, bermakna, dan transformatif.

Rektor Universitas Ma Chung Prof Dr Ir Stefanus Yufra Menahen Taneo MS MSc menyampaikan, CHIFEST menghadirkan pendidikan yang tidak sekadar berorientasi pada pengetahuan. Tujuan lainnya adalah pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman.

Stefanus ingin menunjukkan ketika budaya yang berbeda bertemu dengan keterbukaan dan saling menghargai. Perjumpaan tersebut dapat menghasilkan transformasi positif.

"Harmoni budaya bukan hanya hidup berdampingan. Bagaimana belajar dari satu sama lain dan bersama-sama menciptakan nilai baru bagi masyarakat,” katanya.

Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang memungkinkan pengunjung memahami budaya secara langsung. Panggung utama menghadirkan musik tradisional Tionghoa, Wushu, dan tarian tradisional Tiongkok.

Ruang terbuka di area sekitar rektorat menghadirkan barongsai, Leang-leong, dan Wayang Potehi. Membawa warisan budaya lebih dekat dengan pengunjung. Sementara itu, Chinese Corner menawarkan pengalaman interaktif melalui Mahjong, Shufa atau kaligrafi Tionghoa, Paper Cutting, Chinese Knot, dan menghias lampion.

"Pengunjung dapat membawa pulang kerajinan tangan yang dibuat dalam kegiatan Chinese Corner," tutur Stefanus.

Sedangkan untuk budaya Indonesia yang dihadirkan adalah bantengan atau biasa disebut mberot. Selain itu, Ma Chung juga menghadirkan festival kuliner Indonesia, Tionghoa, dan peranakan.

Melalui CHIFEST 2026, Ma Chung berharap festival ini menjadi ruang yang mempertemukan heritage, education, creativity, and community. Sekaligus mendorong pemahaman keberagaman budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Melainkan energi yang menciptakan perubahan dan membangun harmoni di masa depan. (adk/dan)

Editor : Mahmudan
Festival Ma Chung Budaya Malang Tionghoa Pendidikan Malang