TIDAK banyak waktu bagi Childnandira Ayu Nur Ittazza dan timnya untuk bersiap. Pada 31 Agustus lalu, Azza, sapaan akrabnya, dihubungi rektorat Universitas Brawijaya (UB). Informasinya cukup mengejutkan. Inovasi yang mereka buat saat mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2024 mendapat perhatian Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Tim kemudian diminta datang ke Istana Negara pada 2 September. Artinya, hanya ada waktu sekitar dua hari untuk menyiapkan keberangkatan sekaligus kembali mematangkan materi tentang TransAID.
Persoalannya, anggota tim sudah tidak lagi berada dalam satu tempat. Setelah lulus, aktivitas mereka berbeda. Azza dan Zhafira Alya Afanin melanjutkan pendidikan profesi dokter gigi. Sementara Inggil Ma’rifat Djati, Farouq Akbar Aldy, dan Siti Nurhaliza telah bekerja di luar kota.
Dari lima anggota, hanya Azza, Zhafira, dan Siti yang bisa hadir. Mereka kemudian didampingi Eka Maulana ST MT MEng, dosen Fakultas Teknik UB sekaligus mantan pembimbing PKM.
Di hadapan Wapres, mereka mempresentasikan TransAID. Alat tersebut dikembangkan untuk membantu mendeteksi karies sekunder, yakni kerusakan gigi yang dapat muncul di sekitar tambalan dan tidak selalu mudah terlihat melalui pemeriksaan biasa.
”Awalnya, saya berdiskusi bersama teman-teman untuk menentukan penelitian PKM,” ujar Azza.
Gagasan itu muncul dari pengalaman tim saat melakukan pemeriksaan gigi. Mereka melihat proses skrining karies sekunder masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya penggunaan alat rontgen yang membutuhkan biaya relatif mahal dan tidak selalu praktis untuk pemeriksaan berulang.
”Namun penggunaan rontgen secara terus menerus juga memiliki dampak jangka panjang dan biaya yang mahal,” lanjutnya.
Dari persoalan tersebut, tim mahasiswa lintas bidang mulai merancang perangkat yang lebih sederhana. Azza dan Zhafira dari bidang kesehatan kemudian berkolaborasi dengan tiga mahasiswa Fakultas Teknik, yakni Siti, Inggil, dan Farouq.
Pengembangan TransAID berlangsung sekitar April hingga Agustus 2024. Waktu mereka cukup terbatas karena alat tersebut dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2024 yang berlangsung pada bulan Oktober.
Prosesnya tidak sekadar merakit perangkat. Tim juga melakukan studi literatur, mengumpulkan ribuan foto kondisi gigi, hingga mengembangkan sistem pencitraan. Koordinasi antarfakultas menjadi bagian penting karena perangkat harus bisa menjawab kebutuhan pemeriksaan sekaligus bekerja secara teknis.
TransAID memanfaatkan kamera mikro, pencitraan infrared, serta laser infrared untuk membantu menampilkan struktur permukaan maupun bagian dalam gigi. Teknologi tersebut kemudian dipadukan dengan mode rekonstruksi tiga dimensi.
Untuk fitur 3D, tim memanfaatkan kamera dan LED yang diproses menggunakan perangkat lunak open source Meshroom. Hasilnya digunakan untuk membantu menghasilkan gambaran kondisi gigi secara lebih detail.
Kerja keras tersebut membawa TransAID melaju ke PIMNAS 2024. Tim juga berhasil membawa pulang dua penghargaan. ”Kami juga mendapat 2 penghargaan,” kata Azza.
Selepas kompetisi, pengembangan TransAID tidak berhenti. Tim mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sementara proses paten masih berjalan.
Kini, perhatian baru datang dari Istana. Dalam pertemuan tersebut, tim mendapat masukan agar perangkat tidak berhenti sebagai karya kompetisi mahasiswa. TransAID diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut hingga memungkinkan diproduksi secara massal.
“Terutama untuk kebutuhan cek kesehatan gratis,” ujar Azza.
Untuk mewujudkan pengembangan tersebut, tim kini menunggu tindak lanjut dari jejaring yang dibuka melalui pertemuan di Istana. Mereka diarahkan untuk berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Bagi tim, perjalanan TransAID kini memasuki tahap berbeda. Alat yang awalnya lahir dari diskusi mahasiswa untuk menjawab persoalan pemeriksaan gigi itu tidak lagi sekadar menjadi proyek PKM. Ada peluang untuk membawa inovasi tersebut lebih dekat dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian