Kebijakan Baru Pendidikan di Kota Malang, Boso Walikan Bakal Jadi Mulok Sekolah  

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 13:19 WIB
PENDIDIKAN BERBUDAYA: Penari menyuguhkan kemampuan terbaiknya di ajang Deklarasi Kebudayaan Ngalam Hebak kemarin (27/9). Dalam acara tersebut, wali kota mengumumkan rencana memasukkan budaya boso walikan sebagai mulok (foto Darmono/Radar Malang).
PENDIDIKAN BERBUDAYA: Penari menyuguhkan kemampuan terbaiknya di ajang Deklarasi Kebudayaan Ngalam Hebak kemarin (27/9). Dalam acara tersebut, wali kota mengumumkan rencana memasukkan budaya boso walikan sebagai mulok (foto Darmono/Radar Malang).

 

MALANG KOTA - Pelestarian Boso Walikan menjadi perhatian serius Pemkot Malang. Bahasa slang khas Kota Malang itu rencananya menjadi pembelajaran muatan lokal (Mulok) di sekolah. Hal itu terungkap dalam Deklarasi Kebudayaan Ngalam Hebak, di Sasana Krida Budaya Celaket, Kota Malang, kemarin (27/9).

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, dekorasi Ngalam Hebak ini merupakan inisiasi Kapolresta Malang Kota. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Boso Walikan atau Kiwalan.

"Sebagai orang asli Malang, kami harus melestarikan salah satu tradisi ini," ujar Wahyu dalam sambutan acara kemarin.

Alumnus Institute Teknologi Nasional (ITN) Malang itu menuturkan, selama ini Boso Walikan melekat dari masyarakat sampai Pemkot Malang. Indikasinya terlihat dalam penggunaan dasa bakti atau 10 program unggulan. Di antaranya Ngalam Pinter, Ngalam Tahes, dan Ngalam Ngopeni.

”Kami akan terus menjaga budaya yang sudah menjadi ciri khas Kota Malang. Tidak ada di daerah lain," imbuh pemilik kursi N1 itu.

Cara lainnya untuk melestarikan Boso Walikan, lanjutnya, dengan cara memasukkan pembelajaran di sekolah. Pihaknya tengah mempersiapkan bahasa tersebut menjadi muatan lokal. Saat ini modul pembelajaran masih disusun dengan perguruan tinggi.

Ke depan, katanya, Pemkot Malang tidak hanya mempertahankan eksistensi Boso Walikan. Namun bakal dicoba disebarluaskan kepada masyarakat di luar daerah. Sehingga budaya tersebut bisa lebih banyak diketahui masyarakat luas.

”Setiap ada kunjungan pejabat ke sini (Kota Malang), saya selalu menggunakan Boso Walikan,” katanya.

”Ini salah satu pengenalan," tambah mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang itu.

Di sisi lain, katanya, ada satu hal yang juga menjadi perhatian Pemkot Malang. Terkait sosok pahlawan asli Kota Malang Hamid Rusdi. Sejumlah sumber mengungkap bahwa Hamid Rusdi merupakan tokoh yang memopulerkan Boso Walikan. Bahasa tersebut digunakan sebagai sandi dalam menghadapi penjajah.

”Sudah tiga tahun terakhir ini kami mengusulkan Hamid Rusdi sebagai pahlawan nasional. Tahun ini kami menambah dokumen lain untuk memperkuat usulan tersebut," terangnya. Di antaranya hasil survei penuturan masyarakat, kajian akademisi, hingga cerita keluarga.

"Jadi tahapannya banyak. Kami serius mengusulkan Pak Hamid Rusdi menjadi pahlawan nasional. Sudah bekerja sama dengan kampus swasta mendukung kajian," pungkas Wahyu.(adk/dan)

Editor : Mahmudan
Mulo boso walikan Bahasa Walikan Malang Pendidikan Malang