MALANG, RADAR MALANG —Upaya pencegahan stunting terus dilakukan di Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Salah satunya melalui program pemberdayaan masyarakat yang digagas Tim Pengabdian Masyarakat Dosen Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang (Polkesma) dengan memanfaatkan potensi tanaman herbal dan bahan pangan lokal.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya remaja dan kader kesehatan, mengenai pencegahan stunting sejak dini melalui pemenuhan gizi dan edukasi kesehatan reproduksi.
Berdasarkan data Desa Saptorenggo, jumlah balita yang mengalami stunting turun dari 20 anak atau 2,18 persen pada 2023 menjadi 16 anak atau 1,76 persen dari total 906 balita pada 2024. Meski mengalami penurunan, pemantauan terhadap balita dengan kondisi pendek dan sangat pendek tetap dilakukan.
Desa Saptorenggo yang sebagian masyarakatnya bekerja sebagai petani dan buruh tani memiliki potensi tanaman obat keluarga (TOGA) dan hasil pertanian yang cukup besar. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi bahan pangan lokal yang dapat diolah menjadi makanan tambahan bernilai gizi.
Tim pengabdian masyarakat Polkesma yang diketuai Dr. Heny Astutik, S.Kep.Ns., M.Kes., bersama Dr. Roni Yuliwar, S.Kep.Ns., M.Ked., Duhita Dyah Apsari, S.Keb.Bd., M.Kes., serta mahasiswa, menjalankan program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal tersebut.
Kegiatan diawali rapat koordinasi dan sosialisasi pada 21 April 2026 di Aula Desa Saptorenggo. Kegiatan melibatkan pemerintah desa, Puskesmas Pakis, bidan desa, Babinsa, tokoh masyarakat, serta kader kesehatan.
Selanjutnya, pada 18-20 Juni 2026, sebanyak 25 kader PKK dan kader kesehatan mengikuti pelatihan selama tiga hari. Materi yang diberikan meliputi pencegahan stunting dan wasting, pemanfaatan tanaman herbal serta bahan alam lokal untuk mendukung gizi remaja, penyusunan resep olahan pangan, hingga praktik pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Evaluasi pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan kader. Persentase kader dengan kategori pengetahuan baik dan sangat baik meningkat dari 52 persen saat pre-test menjadi 96 persen pada post-test.
Setelah mengikuti pelatihan, kader kemudian melakukan edukasi dan pendampingan pembuatan PMT berbahan lokal di empat dusun, yakni Dusun Bulurejo, Krajan Timur, Krajan Barat, dan Boro Bugis. Kegiatan tersebut berlangsung pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026 dengan menyasar kelompok remaja.
Dalam pelaksanaannya, edukasi menggunakan sejumlah media pembelajaran yang dikembangkan tim pengabdian, di antaranya Modul SEHATI (Sehat Anti Stunting dengan Gizi Remaja) serta buku panduan pengolahan pangan sehat yang dilengkapi leaflet resep berbahan herbal dan pangan lokal.
Kegiatan di tingkat dusun mendapat respons positif dari para remaja. Hasil evaluasi juga menunjukkan olahan pangan lokal yang dibuat para kader memperoleh penilaian sangat baik di empat dusun sasaran.
Program tersebut ditutup pada 17 September 2026 di Balai Desa Saptorenggo. Penutupan diisi dengan pemutaran dokumentasi kegiatan, penyerahan sertifikat pelatihan, pemberian apresiasi kepada kelompok terbaik, serta penyerahan sarana pendukung kepada pemerintah desa.
Sarana tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan program sehingga pemanfaatan bahan pangan lokal untuk mendukung pencegahan stunting dapat terus dilakukan oleh masyarakat.
Monitoring dan evaluasi program masih dilakukan hingga Oktober 2026. Melalui kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan kader masyarakat, pemanfaatan potensi pangan lokal diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam pencegahan stunting di Desa Saptorenggo. (aw)
Editor : Aditya Novrian