Ratusan Mahasiswa di Kota Malang Manfaatkan Layanan Konseling di Kampus-Kampus

Nabila Amelia • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:04 WIB
Universitas Brawijaya membuka layanan konseling untuk mahasiswa. (Sumber: Prasetya UB - Universitas Brawijaya)
Universitas Brawijaya membuka layanan konseling untuk mahasiswa. (Sumber: Prasetya UB - Universitas Brawijaya)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Maraknya isu kesehatan mental membuat kampus mendorong mahasiswa agar tidak ragu mengikuti konseling. Terlebih, layanan konseling sudah disediakan secara rutin. Setiap tahun, kampus bisa menerima ratusan kunjungan.

Salah satu psikolog di Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan Universitas Brawijaya (UB) Ari Pratiwi SPsi MPsi mengungkapkan, dalam sehari pihaknya bisa menerima empat sampai lima mahasiswa yang ingin melakukan konseling.

”Jika ditotal sepanjang Januari sampai September 2026 saja, ada sekitar 700 mahasiswa yang kami tangani,” ungkap dia, kemarin (29/9).

Ari melanjutkan, pihaknya membuka layanan konseling setiap hari pada jam kerja. Terkadang pihaknya juga siaga untuk kasus-kasus khusus, misalnya bunuh diri. Setiap mahasiswa yang datang untuk melakukan konseling dibantu oleh para konselor yang disiagakan. 

”Kami punya 12 psikolog dan konselor serta 2 psikolog paro waktu yang stand-by setiap hari. Selain itu ada 70 orang peer counselor dan volunteer,” sambung Ari.

Para konselor yang disiagakan rutin menerima keluhan mahasiswa. Mulai dari yang bersifat masalah keluarga, tekanan akademik, perundungan, akademik, kekerasan seksual, hingga relasi sosial.

Senada dengan Ari, Kepala Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan (PB3K) Universitas Negeri Malang (UM) Dr Hetti Rahmawati SPsi MSi juga mengaku bisa menerima ratusan mahasiswa yang ingin konseling setiap tahun.

”Setahun rata-rata kami bisa menerima 500 mahasiswa yang berbeda. Sementara kalau dirata-rata per hari antara 3 sampai 4 mahasiswa,” beber dia.

Hetti menyebut, keluhan terkait kesehatan mental yang dirasakan para mahasiswa beragam. ”Namun yang menjadi concern kami adalah mahasiswa yang memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Sejak 2024 ada peningkatan ke arah sana,” tegasnya.

Keluhan kesehatan mental yang dirasakan tidak hanya muncul saat mahasiswa menjalani perkuliahan. Ada juga yang sudah mengalami sejak lama, tapi putus berobat. Sebagai contoh ada mahasiswa yang merasa nilai dirinya kurang. Kemudian tidak diterima oleh lingkungan. 

Hal tersebut semakin parah jika tidak ada dukungan keluarga. Perasaan yang dialami para mahasiswa tidak boleh diremehkan. Terutama jika mengarah kepada kondisi-kondisi seperti delusional, halusinasi, serangan panik, hingga keinginan mengakhiri hidup. Beberapa kondisi itu, menurut Hetti, membuat mahasiswa membutuhkan pertolongan lanjutan.

”Kalau sudah begitu perlu rujukan ke fasilitas kesehatan seperti klinik pratama atau rumah sakit,” terang Hetti. Di fasilitas kesehatan, mahasiswa bisa mendapatkan obat. Namun sering ada stigma jika mahasiswa berobat untuk masalah kesehatan mental. Mereka takut mengalami kecanduan. 

”Padahal agar kondisinya stabil atau mengalami remisi butuh waktu antara 6 bulan sampai 2 tahun,” ucap Hetti. Sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan, mahasiswa biasanya akan mendapat asesmen dari para konselor. Hetti menyebut saat ini UM memiliki 7 psikolog, 1 psikiater, dan peer counselor yang jumlahnya mencapai 50 orang.

Selain layanan konseling, UM juga menggelar skrining kesehatan sejak momentum mahasiswa baru. Hasilnya terbagi menjadi 3 kategori.

Kategori hijau artinya mahasiswa tergolong baik-baik saja. Kategori kuning berarti mahasiswa membutuhkan penanganan bersama peer counselor. Sementara kategori merah berarti mahasiswa membutuhkan penanganan bersama psikolog atau psikiater. (mel/adk/by)

 

Editor : Bayu Mulya Putra
konseling mahasiswa konseling kampus kesehatan mental mahasiswa um UB