MALANG KOTA, RADAR MALANG – Layanan konseling untuk mahasiswa juga dibuka Politeknik Negeri Malang (Polinema). Qori Fanani, Associate psychologist di Polinema menjelaskan, layanan konseling yang dibuka tergolong baru.
Tepatnya sejak Juli 2026. ”Kendati demikian, setiap hari kami bisa menerima 5 mahasiswa yang butuh konseling,” tutur Qori. Dia menyatakan bahwa setiap pekan Poliklinik Polinema membuka layanan konseling dua kali.
Dari informasi yang dihimpun Qori, permasalahan mahasiswa beragam. Ada yang muncul karena merasa tertekan dengan lingkungan kampus sampai yang sudah terdiagnosis sejak lama.
”Kebanyakan merasakan ansietas. Ada juga yang terindikasi skizofrenia, tapi jumlahnya sedikit,” beber dia. Untuk diketahui, ansietas merupakan perasaan takut, cemas, atau khawatir yang berlebihan terhadap suatu kondisi tertentu.
Sementara skizofrenia merupakan gangguan mental berat dan kronis yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku, sehingga mereka kesulitan membedakan antara kenyataan dan khayalan.
Qori melihat kesadaran para mahasiswa untuk mengakses layanan konseling saat ini sudah lebih baik. Jika membutuhkan mereka langsung mencari informasi di poliklinik.
Setelah mendaftar, para mahasiswa akan mendapat konseling. Mereka juga bisa mengakses konseling lanjutan. ”Selama mengikuti konseling kami pantau terus. Kami juga memberi penugasan seperti journaling jika yang bersangkutan kesulitan mengungkapkan emosinya,” kata Qori.
Ke depan, Polinema berencana menggelar sosialisasi berkaitan dengan kesehatan mental dan terus memperkenalkan layanan konseling. Di samping itu ada rencana untuk melakukan skrining kesehatan mental.
Penanganan kesehatan mental mahasiswa juga menjadi perhatian Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki). Dari data sementara, hampir 100 mahasiswa menggunakan fasilitas konseling yang disediakan kampus.
Kepala Laboratorium Konseling Fakultas Psikologi Rika Fu'aturosida MA menerangkan, pada 2025 terdapat 129 mahasiswa yang memanfaatkan layanan konseling kampus. Sedangkan tahun ini, hingga September sudah ada 91 mahasiswa yang memanfaatkannya.
Rika menjelaskan, terdapat beberapa keluhan yang disampaikan mahasiswa. Tetapi belum ada yang sampai mengeluhkan depresi tingkat tinggi.
Seperti misalnya sampai berniat melakukan percobaan bunuh diri. ”Gangguan yang kami terima seperti kecemasan, emosi, dan regulasi diri. Ada yang sampai mengganggu pola tidur,” ucapnya.
Penanganan yang dilakukan tim konseling UIN Maliki seperti terapi dan pendampingan rutin. Untuk memastikan mahasiswa mendapat tempat bercerita hingga diberikan pemahaman cara mengelola emosi dan perasaan. ”Kami juga memberikan tugas membuat jurnal dengan pemantauan,” jelas Rika.
Dari hampir ratusan keluhan yang diterima, Rika mengatakan ada satu penyebab dominan. Yaitu hubungan antara mahasiswa dan orang tua. Bisa disebabkan karena pola asuh atau hubungan yang tidak harmonis.
Selama ini, tim psikologi UIN Malang belum banyak menerima keluhan mengenai stres akademik.
Baik yang disebabkan skripsi atau tugas perkuliahan. ”Mungkin hanya satu sampai dua mahasiswa mengalami stres akademik. Itu pun sumber utamanya berasal dari rumah,” papar Rika.
Selain memberikan layanan pendampingan. UIN Maliki juga melakukan skrining kesehatan mental mahasiswa. Proses itu dilakukan saat penerimaan mahasiswa baru. (mel/adk/by)
Editor : Bayu Mulya Putra