Kompetisi yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya ini digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), pada 22–24 September 2026 di Kampus A UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, dan diikuti 683 tim dari 10 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, hingga Uganda.
Pada kategori Drone Innovation, Tim Baby Atyabrama berhasil meraih Juara 1, sementara Tim Atya Balap membawa pulang penghargaan Best Teamwork di kategori Line Follower.
Di kategori Drone Innovation, Tim Baby Atyabrama beranggotakan tiga mahasiswa: Weaver Simon (Sistem Informasi-2025) sebagai ketua tim sekaligus penanggung jawab elektrikal, Fristian Boas Nathaniel (Teknik Komputer-2025) di bidang pemrograman, serta Damar Dydan Aryapandya Suprapto (Teknik Komputer-2025) yang menangani desain mekanik.
Dalam ajang ini, tim mengusung inovasi VARIO (Variable-Rate Precision Spray Drone), sebuah drone semprot pertanian yang dirancang untuk mengatasi pemborosan cairan akibat metode penyemprotan rata (flat spraying) yang tidak memedulikan kondisi tanaman di bawahnya.
Proses pengembangan VARIO memakan waktu dan dedikasi tinggi, dimulai dari perancangan struktur mekanik tiga dimensi untuk menyeimbangkan beban, hingga perakitan sistem kelistrikan dan pemrograman. Sistem pintar VARIO memadukan flight controller Pixhawk dan GPS M8N untuk navigasi penerbangan otomatis, serta mikrokontroler ESP32 sebagai otak pengambil keputusan.
Drone ini juga memanfaatkan sensor Mateksys Optical Flow yang mampu menganalisis fluktuasi pergerakan kanopi tanaman secara real-time setiap 200 milidetik. Berdasarkan bacaan sensor tersebut, VARIO menyesuaikan dosis penyemprotannya secara instan: tanaman yang lebat disemprot dengan dosis penuh, tanaman yang jarang diberi dosis lebih sedikit, sementara lahan kosong atau pematang sawah tidak disemprot sama sekali.
Perjalanan menuju kemenangan ini tidak mulus. Selama masa persiapan, tim sempat merasa kurang maksimal akibat keterbatasan komponen yang tersedia. Rasa pesimis itu kian memuncak begitu tiba di lokasi perlombaan—mental tim sempat goyah melihat peralatan tim lawan yang tampak jauh lebih rapi dan profesional, terutama tim perwakilan Malaysia.
Namun, berbekal tekad dan penguasaan materi teknis yang kuat, tim tetap melangkah maju mempresentasikan keunggulan dan efisiensi VARIO. Kerja keras itu berbuah manis ketika mereka diumumkan sebagai Juara 1 pada Kamis (24/9/2026), hari terakhir rangkaian ERIC 2026.
“Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan soliditas Tim Baby Atyabrama. Di tengah segala keterbatasan komponen yang kami hadapi di awal, kami fokus memberikan solusi terbaik melalui efisiensi logika sistem VARIO. Kami sangat bersyukur atas pencapaian Juara 1 ini dan berharap teknologi ini bisa terus dikembangkan hingga memberi dampak nyata bagi sektor pertanian Indonesia,” ujar Weaver Simon, ketua Tim Baby Atyabrama.
Rasa senang, bangga, dan haru menyelimuti seluruh anggota tim, yang juga memanjatkan rasa syukur atas kejutan besar di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Kemenangan ini memberi pelajaran berharga: kemewahan alat atau komponen bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan.
Kreativitas yang menciptakan inovasi yang menyelesaikan masalah nyata secara efektif, kerja sama tim lintas disiplin, serta mental pantang menyerah menjadi kunci utama untuk bersaing di tingkat internasional.
Ke depan, tim berencana mengembangkan VARIO agar siap diimplementasikan secara komersial dengan kapasitas tangki cairan yang lebih besar. Selain itu, hasil pencatatan log data penerbangan (file CSV) akan diintegrasikan ke dalam aplikasi yang lebih intuitif, sehingga petani dapat langsung melihat peta distribusi otomatis penyemprotan di lahan mereka.
Pada kompetisi yang sama, Tim Atya Balap turut mengharumkan nama FILKOM UB di kategori Line Follower. Tim yang diketuai Farhan Khairullah (Teknik Komputer-2025) ini beranggotakan Igor Mecca Mohammed (Teknik Informatika-2025) dan Muhammad Minanur Rohman (Teknik Komputer-2024).
Inovasi yang dibawakan berupa robot line follower terprogram yang dirancang untuk bernavigasi secara presisi di sepanjang lintasan. Robot ini bekerja dengan memanfaatkan pembacaan sensor garis (fotodioda/inframerah) yang diproses langsung oleh mikrokontroler. Sinyal tersebut kemudian digunakan untuk mengatur kecepatan serta pergerakan motor kanan dan kiri secara cepat, halus, dan responsif mengikuti alur lintasan.
Proses persiapan dan pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari perancangan mekanik dan skematik elektronik, pengodean algoritma kontrol, hingga pengujian performa di lintasan simulasi. Tantangan terbesar muncul pada H-5 menjelang kompetisi, ketika robot mengalami kendala teknis yang cukup serius. Kondisi ini menuntut tim bekerja ekstra cepat mengidentifikasi kerusakan, mengganti komponen, dan melakukan kalibrasi ulang agar robot kembali optimal.
Selama perlombaan berlangsung, persaingan terasa sangat ketat di setiap babak. Kendati sempat dibayangi kendala saat persiapan, tim mampu beradaptasi dengan baik dan menjaga ketenangan di arena—pengalaman yang membuktikan pentingnya kerja sama tim dan kemampuan troubleshooting yang responsif.
Saat diumumkan meraih penghargaan Best Teamwork, perasaan tim berbaur antara haru, bangga, dan lega. Seluruh perjuangan keras, kerja kelompok hingga larut malam, serta kekompakan dalam mengatasi masalah teknis menjelang hari pertandingan akhirnya mendapat apresiasi terbaik.
Pelajaran paling berkesan dari kompetisi ini adalah pentingnya manajemen risiko teknis, mental pantang menyerah saat menghadapi kendala mendadak, serta komunikasi tim yang solid di bawah tekanan. Ke depan, tim berharap dapat terus mengembangkan riset robotika ini, termasuk mengoptimalkan efisiensi mekanik dan akurasi algoritma kontrol robot agar siap menghadapi ajang kompetisi di tingkat yang lebih tinggi.
Selaku dosen pembimbing, Rakhmadhany Primananda, S.T., M.Kom., mengucapkan selamat atas raihan ini. Ia menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh anggota tim yang telah menunjukkan dedikasi, kerja keras, dan semangat pantang menyerah sepanjang proses persiapan hingga kompetisi berlangsung.
“Keberhasilan ini bukan hanya tentang menang, tetapi tentang bagaimana kalian terus bangkit dan belajar dari setiap proses yang dilalui, apalagi ketika latihan sempat terjadi kegagalan sistem. Dan ternyata kalian bisa memberikan yang terbaik ketika di final berkat kesigapan dan kekompakan kalian,” ujarnya.
Ketua Laboratorium Robotika dan Embedded System (LAB RES), Wijaya Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., menyatakan kebanggaannya atas raihan juara 1 yang diraih Tim Baby Atyabrama. Wijaya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas usaha, dedikasi, dan kerja keras seluruh anggota tim yang telah berjuang maksimal dalam kompetisi ini.
Menurutnya, keberhasilan ini bukanlah hasil dari faktor keberuntungan semata, melainkan buah dari ketangguhan dan kegigihan dalam menghadapi setiap tantangan.
“Robot yang canggih tidak berasal dari yang pintar atau yang kaya, tetapi dari yang tabah dan tekun serta konsisten walau menghadapi kegagalan ataupun tantangan 1000 kali,” kata Wijaya.
Prestasi Tim Baby Atyabrama dan Tim Atya Balap di ERIC UNJ 2026 membuktikan bahwa kreativitas, kerja sama, dan mental pantang menyerah mampu mengungguli keterbatasan sumber daya, bahkan di ajang internasional yang diikuti ratusan tim dari berbagai negara. Kedua tim berharap capaian ini menjadi pijakan bagi FILKOM ROBOTIK untuk terus mengembangkan inovasi robotika Universitas Brawijaya ke jenjang yang lebih tinggi. (rr/pms)
Editor : Kholid Amrullah