89 Siswa SDN Mojorejo 1 Belajar Inklusivitas lewat Simulasi Rumah Inklusi

Aditya Novrian • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 11:58 WIB
Mahasiswa mendampingi siswa SDN Mojorejo 1 dalam salah satu aktivitas Rumah Inklusi. Interaksi langsung digunakan untuk mengenalkan bahwa kebutuhan setiap orang dapat berbeda dan dukungan perlu diberikan dengan cara yang tepat.
Mahasiswa mendampingi siswa SDN Mojorejo 1 dalam salah satu aktivitas Rumah Inklusi. Interaksi langsung digunakan untuk mengenalkan bahwa kebutuhan setiap orang dapat berbeda dan dukungan perlu diberikan dengan cara yang tepat.

Pembelajaran interaktif berbasis simulasi dan permainan membantu siswa kelas IV mengenali perbedaan kemampuan, komunikasi yang saling menghargai, dan pentingnya lingkungan sekolah yang inklusif.

KOTA BATU, RADAR MALANG — Sebanyak 89 siswa kelas IV SDN Mojorejo 1, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, mengikuti pembelajaran interaktif mengenai disabilitas dan inklusivitas melalui program “Rumah Inklusi” pada Jumat, 24 Juli 2026. Materi disampaikan melalui sosialisasi, simulasi, dan permainan edukatif model pos-to-pos agar siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga mengalami situasi belajar yang konkret.

Program yang didampingi mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) tersebut menekankan pengenalan perbedaan kemampuan, cara berinteraksi yang menghargai orang lain, serta pentingnya membangun lingkungan sekolah yang dapat menerima keberagaman.

Mahasiswa memberikan materi pengantar sebelum siswa mengikuti aktivitas di setiap pos. Sesi awal membahas disabilitas, keberagaman, dan cara membangun interaksi yang menghargai perbedaan.
Mahasiswa memberikan materi pengantar sebelum siswa mengikuti aktivitas di setiap pos. Sesi awal membahas disabilitas, keberagaman, dan cara membangun interaksi yang menghargai perbedaan.

Belajar melalui Pengalaman, Bukan Sekadar Penjelasan

Dalam pelaksanaannya, siswa berkeliling ke beberapa pos dengan aktivitas berbeda. Materi mencakup pengenalan disabilitas, simulasi keterbatasan fisik dan sensorik, serta permainan yang dirancang untuk mendorong perhatian, kerja sama, dan kepekaan sosial.

Pendekatan berbasis pengalaman dipilih agar isu disabilitas tidak hanya dipahami sebagai konsep abstrak. Setelah menerima pengantar, siswa mencoba aktivitas yang mengharuskan mereka berkomunikasi, bekerja sama, dan memperhatikan kebutuhan teman sehingga pembahasan mengenai keberagaman dapat dikaitkan dengan situasi sehari-hari.

Simulasi Melatih Kepekaan dalam Berinteraksi

. Siswa berinteraksi dengan teman dalam salah satu aktivitas pembelajaran Rumah Inklusi. Kegiatan berpasangan digunakan untuk melatih komunikasi, perhatian terhadap kebutuhan teman, dan sikap saling menghargai dalam ruang bersama.
. Siswa berinteraksi dengan teman dalam salah satu aktivitas pembelajaran Rumah Inklusi. Kegiatan berpasangan digunakan untuk melatih komunikasi, perhatian terhadap kebutuhan teman, dan sikap saling menghargai dalam ruang bersama.

Sepanjang rangkaian kegiatan, siswa mengikuti permainan dan simulasi secara bergantian. Keterlibatan mereka terlihat saat mengikuti instruksi, mencoba aktivitas, dan berdiskusi bersama pendamping. Namun, partisipasi aktif selama kegiatan tidak serta-merta diperlakukan sebagai bukti bahwa sikap atau stigma terhadap disabilitas telah berubah.

Kegiatan ini berfokus pada pengenalan dan pengalaman belajar. Perubahan empati atau sikap siswa belum diukur melalui evaluasi sebelum dan sesudah yang sebanding. Karena itu, nilai utama Rumah Inklusi terletak pada kesempatan bagi siswa untuk mengenal isu disabilitas secara lebih dekat dan membicarakan cara bersikap inklusif sejak usia sekolah dasar.

Mendorong Percakapan tentang Sekolah Inklusif

Rumah Inklusi juga memperkenalkan gagasan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, berpartisipasi, dan berkontribusi di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan tersebut, pembahasan tidak hanya menyoroti karakteristik disabilitas, tetapi juga bagaimana ruang sosial dapat dibangun agar lebih terbuka bagi semua siswa.

Pendekatan ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pemahaman mengenai lingkungan belajar yang inklusif. Pada saat yang sama, upaya menumbuhkan penerimaan terhadap perbedaan berkaitan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, khususnya dalam mendorong partisipasi yang lebih setara.

Program Rumah Inklusi menjadi ruang belajar sosial bagi siswa sekaligus sarana bagi mahasiswa untuk menyampaikan isu inklusivitas dengan metode yang dekat dengan dunia anak. Keberlanjutan dampaknya tetap membutuhkan pembiasaan di sekolah, keluarga, dan masyarakat sehingga sikap menghargai keberagaman tidak berhenti pada satu kali kegiatan.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
SDN Mojorejo 1 Belajar Inklusivitas Lewat Simulasi fia ub