Tiga UMKM Kota Batu Asah Pitching untuk Perkuat Komunikasi Bisnis

Aditya Novrian • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 12:29 WIB
Tiga UMKM peserta bersama mahasiswa pendamping dan panel penilai setelah sesi pitching di Kota Batu. Praktik ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mempresentasikan nilai produk dan memperoleh umpan balik atas cara mereka menjelaskan profil serta rencana pengembangan bisnis.
Tiga UMKM peserta bersama mahasiswa pendamping dan panel penilai setelah sesi pitching di Kota Batu. Praktik ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mempresentasikan nilai produk dan memperoleh umpan balik atas cara mereka menjelaskan profil serta rencana pengembangan bisnis.

CV Berkah, Wild Bloom, dan Kharisma Craft berlatih merumuskan profil usaha, keunggulan produk, target pasar, dan rencana pengembangan dalam presentasi yang singkat dan terstruktur.

KOTA BATU — Tiga usaha mikro binaan di Kota Batu, yakni CV Berkah, Wild Bloom, dan Kharisma Craft, mengikuti pelatihan dan praktik pitching untuk memperkuat kemampuan memperkenalkan usaha secara singkat, terstruktur, dan mudah dipahami. Ketiganya mempresentasikan profil usaha, keunggulan produk, target pasar, serta rencana pengembangan di hadapan panel penilai dan menerima umpan balik langsung.

Pendampingan dilakukan melalui kolaborasi mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu. Tiga UMKM tersebut dipilih berdasarkan rekomendasi Diskumperindag dan mewakili jenis usaha berbeda: CV Berkah bergerak pada kerajinan kayu, Wild Bloom pada kerajinan ecoprint, dan Kharisma Craft pada tas anyaman.

Pitching Membantu Merumuskan Nilai Produk

Pelatihan diarahkan agar pelaku usaha tidak hanya menjelaskan apa yang dijual, tetapi juga mampu menguraikan alasan produknya layak diperhatikan. Materi mencakup penyusunan profil usaha, keunggulan produk, target pasar, serta potensi pengembangan bisnis sebagai bagian dari cerita usaha yang ringkas dan relevan.

Setelah sesi pembekalan, ketiga UMKM mengikuti praktik pitching singkat. Format ini memberi kesempatan kepada masing-masing pelaku usaha untuk mencoba materi yang telah dipelajari, menyampaikan gagasan di depan penilai, lalu menerima masukan mengenai cara mempresentasikan bisnis secara lebih jelas dan meyakinkan.

Umpan Balik Juri Menjadi Bagian dari Proses Belajar

Panel penilai terdiri atas Hanifa Maulani Rahmadhani, perwakilan Diskumperindag Kota Batu Richard, serta perwakilan mahasiswa pendamping. Keterlibatan unsur akademik, pemerintah daerah, dan mahasiswa memberi sudut pandang berbeda terhadap cara pelaku UMKM menyusun serta menyampaikan pesan bisnis.

Umpan balik juri diposisikan sebagai bahan perbaikan komunikasi bisnis, bukan sebagai penilaian kelayakan investasi. Bahan kegiatan juga tidak menunjukkan bahwa pitching menghasilkan investor, kontrak penjualan, atau peningkatan pendapatan. Karena itu, hasil yang dapat dinyatakan pada tahap ini adalah adanya praktik presentasi usaha dan kesempatan memperoleh evaluasi dari panel.

Digitalisasi Mendukung Komunikasi Usaha

Sebelum praktik pitching, pendampingan juga mencakup pembenahan sejumlah sarana digital sesuai kebutuhan masing-masing UMKM, antara lain akun bisnis, integrated link, katalog digital, dan chatbot. Tim juga menyusun panduan promosi media sosial yang memuat tips waktu unggah serta penggunaan AI sebagai alat bantu penyusunan caption.

Komponen digital tersebut menjadi pendukung agar informasi usaha lebih mudah diakses konsumen. Namun, fokus utama pendampingan tetap berada pada kemampuan pelaku usaha menyusun dan menyampaikan nilai bisnis karena keterampilan tersebut dibutuhkan ketika berhadapan dengan calon mitra, pelanggan, lembaga pembina, maupun jejaring usaha.

Komunikasi Bisnis sebagai Bagian dari Penguatan UMKM

Presentasi yang terstruktur membantu pelaku usaha memilih informasi paling relevan dan mengomunikasikan nilai produk tanpa harus menjelaskan seluruh aspek bisnis sekaligus. Manfaat jangka lanjut dari pelatihan ini tetap bergantung pada konsistensi pelaku usaha berlatih, menyesuaikan pesan dengan audiens, serta memperbaiki materi digital yang digunakan untuk mendukung komunikasi usahanya.

Penguatan kapasitas komunikasi dan pemasaran UMKM tersebut sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama melalui peningkatan keterampilan kewirausahaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah juga mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan pendampingan yang disesuaikan pada kebutuhan UMKM binaan di Kota Batu.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
Tiga UMKM Komunikasi Bisnis Asah Pitching Diskumperindag