47 Guru SMP Negeri dan Swasta di Kota Malang Hasilkan Dua Buku Antologi

Antik Widaya Gita Asmara • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:03 WIB
PRODUKTIF: (Depan, dari kiri) Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, dan Direktur Jawa Pos Radar Malang Tauhid Wijaya menyalami sejumlah guru yang menjadi penulis dua buku antologi, kemarin. (Darmono/Radar Malang)
PRODUKTIF: (Depan, dari kiri) Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, dan Direktur Jawa Pos Radar Malang Tauhid Wijaya menyalami sejumlah guru yang menjadi penulis dua buku antologi, kemarin. (Darmono/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Dua buku antologi karya insan pendidikan tingkat SMP negeri dan swasta di Kota Malang resmi diluncurkan, kemarin (1/10). Yang pertama ada buku berjudul ’Yang Tak Terlihat di Dalam Kelas’. Berikutnya berjudul ’Menyemai Karakter Menenun Prestasi’.

Peluncuran itu bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Balai Kota Malang. Buku itu menjadi bagian dari kolaborasi Jawa Pos Radar Malang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang dan Inara Publisher.

Penulisnya adalah kepala sekolah (kasek) dan guru SMP di Kota Malang. Baik SMP negeri maupun SMP swasta. Buku berjudul ’Yang Tak Terlihat di Dalam Kelas’ disusun guru SMP Negeri dan Swasta.

Sementara buku ’Menyemai Karakter Menenun Prestasi’ turut disusun kasek SMP negeri. Total ada 47 guru yang menjadi penulis dalam kedua buku tersebut.

Proses lahirnya buku itu bermula dari kegiatan pelatihan kepenulisan yang digelar pada 31 Maret 2026 lalu. Sebanyak 35 guru SMP negeri dan swasta mengikuti pelatihan. 

Mereka mendapatkan materi kepenulisan dari Kepala Editor Penerbit PT Cita Intrans Selaras Uni Ruchul Janah dan Redaktur Jawa Pos Radar Batu Fajar Andre Setiawan. Direktur Operasional PT Cita Intrans Selaras Wawan Sulthon Fauzi menceritakan, proses penyusunan kedua buku dilakukan secara bertahap. 

Dia menyebut peserta tidak langsung diminta menyelesaikan buku. Mereka terlebih dahulu mendapatkan pelatihan. Materinya mulai dari teknik dasar menulis, menciptakan ide, hingga bagaimana memulai sebuah tulisan.

Setelah pelatihan, peserta kembali mendapatkan pendampingan melalui grup. Komunikasi dilakukan antara penulis dan pihak penerbit untuk membahas perkembangan tulisan maupun persoalan yang ditemui selama proses penulisan.

Menurut Wawan, tantangan dalam proses awal pelatihan yakni kemampuan menulis para peserta yang tidak sama. Ada guru yang sudah terbiasa menulis.

Ada pula yang baru mulai belajar. Kesibukan masing-masing guru juga membuat proses pengumpulan tulisan membutuhkan waktu lebih panjang. ”Sebagian sudah cepat, sebagian masih lama,” kata Wawan, kemarin (1/10).

Proses dari pelatihan hingga buku selesai berlangsung sekitar tiga bulan hingga resmi diterbitkan pada 1 Agustus 2026 setelah melalui proses menulis dan editing bersama tim PT Cita Intrans Selaras melalui Inara Publisher.

”Saat ini sudah 30 sampai 40 buku tercetak. Untuk sementara untuk dibagikan ke Guru dan untuk inventaris. Ke depannya akan dicetak sesuai permintaan,” ujarnya.

Muhammad Afri, salah satu penulis dari SMP Negeri 21 Malang mengatakan, dia memang diarahkan untuk menulis berdasar pengalaman yang mereka alami di sekolah.

Tidak hanya mengenai kegiatan mengajar, peserta juga mendapatkan bekal jurnalistik dan materi mengenai cara menghadapi informasi bohong atau hoaks yang muncul di lingkungan sekolah. 

”Kami menulis apa yang betul-betul kami alami,” ujar Afri. Pengalaman tersebut dituangkan dalam karya agar masyarakat dapat melihat sisi lain dari pekerjaan guru.

Ada cerita dan pengalaman inspiratif yang berlangsung di balik aktivitas mengajar di dalam kelas. ”Ada banyak sisi lain seorang guru yang tidak banyak diketahui. Harapannya lewat buku ini dapat menjadi jembatan,” ujar guru Bahasa Jawa Itu.

Penerbitan buku itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi di lingkungan pendidikan khususnya Kota Malang. Program tersebut juga selaras dengan program Disdikbud Kota Malang, yakni One Teacher, One Book. 

Program itu diharapkan menjadi agenda literasi yang digelar secara rutin. Wawan menyebut pendampingan penulisan ke depan tidak hanya menyasar guru SMP.

Namun juga dapat mencakup jenjang pendidikan lain sesuai situasi dan kebutuhan. Tujuannya agar menulis tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tugas, namun juga menjadi tradisi di kalangan pendidik. (wb1/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
guru smp kota malang guru smp negeri kota malang guru smp swasta kota malang buku antologi disdikbud kota malang