MALANG KOTA, RADAR MALANG - Universitas Negeri Malang (UM) konsisten menambah jumlah guru besar. Kemarin (7/10), empat sosok dikukuhkan dalam Sidang Terbuka Senat Akademik UM yang berlangsung di Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19. Pengukuhan ini memperkuat kualitas pendidikan di kampus.
Prof Dr Raden Bambang Sumarsono SPd MPd
Guru Besar Bidang Manajemen Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan.
Prof Bambang mengangkat tema kepercayaan sebagai fondasi partisipasi dalam tata kelola sekolah. Menurutnya, partisipasi orang tua perlu diarahkan pada keterlibatan yang lebih substantif dalam tata kelola sekolah. ”Orang tua jangan hanya hadir ketika diundang atau membantu secara material, tetapi juga harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” ujarnya kemarin (7/10).
Keterlibatan orang tua dalam pengelolaan sekolah dilihatnya perlu didukung dengan keterbukaan informasi dan kepercayaan. Dengan begitu, hubungan antara sekolah dan masyarakat tidak hanya bersifat administratif. Tetapi, dapat mendorong perbaikan kualitas pendidikan.
Prof Dr Pujiyanto MSn
Guru Besar Kepakaran Desain Media Persuasif pada Program Studi DKV
Prof Pujiyanto mengulas kreativitas Generasi Z melalui karya ilustrasi hasil ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Ia menyoroti penggunaan metafora visual sebagai media persuasif sekaligus ruang untuk mengasah kreativitas. ”Anak-anak menuangkan ide dan kreativitasnya lewat ilustrasi. Dari situ, kita bisa melihat bagaimana mereka menyampaikan pesan melalui karya yang mereka buat,” ungkapnya.
Menurut, karya ilustrasi yang dihasilkan generasi muda dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada kelompok sebaya. ”Metafora dalam karya ilustrasi dapat menjadi media persuasif yang dekat dengan karakter dan pengalaman generasi mereka,” ujarnya.
Prof Dr Ir Triyanna Widiyaningtyas MT
Guru Besar Bidang Penambangan Data (data mining) dan Sistem Rekomendasi
Prof Triyanna mengangkat peran data mining dalam pengembangan sistem rekomendasi cerdas di era big data. Menurutnya, pengolahan data dapat membantu menghasilkan rekomendasi yang lebih akurat dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sistem rekomendasi menjadi semakin penting karena pengguna berhadapan dengan pilihan dan informasi dalam jumlah besar. Sistem ini membantu menyaring informasi berdasar pola yang ditemukan dari data. Pengembangannya diarahkan agar rekomendasi semakin cepat, akurat, dan mampu menyesuaikan konteks kebutuhan pengguna. ”Kita sekarang dihadapkan pada banyak sekali pilihan. Karena itu, keakuratan sistem rekomendasi dibutuhkan supaya lebih mudah menemukan apa yang memang kita cari,” ujarnya.
Prof Dr Imam Agus Basuki MPd
Guru Besar Bidang Kajian Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya.
Prof Imam menyoroti pembelajaran Bahasa Indonesia agar tetap berorientasi pada kemampuan berkomunikasi dan berpikir. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dinilai dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, tetapi tidak menggantikan proses berpikir peserta didik. ”AI boleh dipakai, tetapi proses belajar dan berpikir siswa harus tetap berjalan,” tegas Prof. Imam.
Menurutnya, peserta didik tetap perlu melalui tahapan berpikir, merencanakan, menyusun, hingga menghasilkan karya dalam proses pembelajaran. ”Proses berpikir siswa tetap harus ada. Jangan sampai yang dinilai hanya produk akhirnya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan agar pembelajaran Bahasa Indonesia tidak bergeser terlalu jauh dari tujuan utamanya. Materi yang digunakan dalam pembelajaran boleh beragam, tetapi kemampuan berbahasa dan berpikir tetap menjadi fokus utama.
Editor : Andika Satria Perdana