FILKOM UB Ajak Mahasiswa Peduli Kesehatan Mental Lewat Talk Show Zona Sahabat Kampus

Kholid Amrullah • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:39 WIB
DOKUMENTASI: Narasumber dan tim berfoto bersama usai talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).
DOKUMENTASI: Narasumber dan tim berfoto bersama usai talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).

MALANG KOTA - Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) mengajak mahasiswa untuk berbicara secara terbuka tentang kesehatan mental melalui talk show bertema “Tidak Harus Sendiri: Beradaptasi, Bertumbuh, dan Berani Mencari Bantuan”. Talk show ini mengudara dalam program Zona Sahabat Kampus di UB Radio pada Kamis, 15 Oktober 2026, dan menghadirkan tiga unsur, yaitu Dharma Wanita Persatuan (DWP) FILKOM UB, Rekan Melangkah, dan Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) FILKOM UB.

Masa kuliah sering digambarkan sebagai masa yang menyenangkan, tetapi kenyataannya tidak lepas dari tekanan. Tuntutan akademik, relasi sosial, masalah keuangan, hingga rasa takut tertinggal dari teman menjadi tantangan tersendiri. Banyak mahasiswa merasa harus selalu terlihat mampu di depan orang lain, padahal di dalam dirinya sedang berjuang. Dalam kondisi seperti itu, meminta bantuan merupakan salah satu bentuk keberanian.

Perwakilan DWP FILKOM UB, Sumarah Noor Widyastuti, menekankan pentingnya ruang kepedulian yang hangat bagi mahasiswa, dan langkah pertamanya adalah mendengarkan.

“Mulailah dengan mendengarkan. Tidak semua cerita membutuhkan nasihat cepat. Kadang mahasiswa perlu merasa didengar terlebih dahulu. Hindari kalimat yang mengecilkan perasaan, seperti ‘begitu saja kok sedih’, atau membandingkan dengan pengalaman orang lain,” ujarnya. DWP hadir sebagai figur orang tua di kampus yang siap memberikan dukungan tanpa menghakimi.

BERDISKUSI: Narasumber dari DWP FILKOM UB, Rekan Melangkah, dan ULKT FILKOM UB saat mengisi talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).
BERDISKUSI: Narasumber dari DWP FILKOM UB, Rekan Melangkah, dan ULKT FILKOM UB saat mengisi talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).

Dari sisi teman sebaya, Rekan Melangkah hadir sebagai dukungan yang setara. Dari Rekan Melangkah, hadir empat mahasiswa, yaitu I Wayan Ivan Zenatmaja, Arsal Bil Hakki R. Said, Muhammad Fathan, dan Allyndra Dyalista Darduran. “Rekan Melangkah adalah semangat untuk berjalan bersama. Kami ingin membangun budaya saling menyapa, mendengarkan tanpa menghakimi, menguatkan, dan menemani teman mencari bantuan jika persoalannya terasa berat. .

“Rekan Melangkah adalah semangat untuk berjalan bersama. Kami ingin membangun budaya saling menyapa, mendengarkan tanpa menghakimi, menguatkan, dan menemani teman mencari bantuan jika persoalannya terasa berat. Kami bukan pengganti tenaga profesional, tetapi bisa menjadi jembatan awal,” tutur perwakilan Rekan Melangkah.

Mereka juga menegaskan batas perannya, yaitu mendengarkan dan menemani, bukan mendiagnosis atau memberi label.

Dari sisi profesional, ULKT FILKOM UB membantu mahasiswa membahas persoalan akademik maupun nonakademik. Perwakilan ULKT FILKOM UB, Prasetyo Iskandar, S.T., menjelaskan bahwa stres sesekali adalah hal wajar. Namun, jika kesulitan berlangsung terus-menerus, mengganggu tidur, makan, konsentrasi, dan aktivitas kuliah, hingga membuat seseorang merasa tidak sanggup menjalani keseharian, mahasiswa disarankan untuk berkonsultasi.

“Mahasiswa tidak harus menunggu sampai masalah menjadi sangat berat untuk mencari bantuan. Konseling bukan hanya untuk kondisi krisis, tetapi juga untuk mengenali diri dan menyusun strategi menghadapi perubahan,” imbuhnya. ULKT juga memastikan layanan konseling menjaga privasi konseli sesuai ketentuan dan etika yang berlaku.

Ketiga pihak menyepakati tiga pesan praktis bagi sivitas akademika. Pertama, mahasiswa yang sedang berjuang disarankan untuk memulai dari langkah kecil dan realistis, seperti mengatur napas, memecah tugas, dan menghubungi orang tepercaya. Jika keselamatan terancam, segera cari bantuan langsung dan jangan sendirian. Kedua, teman yang melihat orang lain kesulitan sebaiknya mendekat dengan empati, mendengarkan tanpa memaksa, dan menawarkan diri untuk menemani mencari layanan yang tepat. Ketiga, keluarga dan sivitas akademika diharapkan menjadi tempat yang aman untuk berbicara, mengurangi stigma, dan tidak menghakimi.

Melalui talk show ini, FILKOM UB menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang harus berjuang sendirian. Kerja sama DWP, Rekan Melangkah, dan ULKT diharapkan menumbuhkan lingkungan kampus yang lebih peduli dan suportif terhadap kesehatan mental seluruh mahasiswa. (rr)DOKUMENTASI: Narasumber dan tim berfoto bersama usai talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).

DOKUMENTASI: Narasumber dan tim berfoto bersama usai talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) mengajak mahasiswa untuk berbicara secara terbuka tentang kesehatan mental melalui talk show bertema “Tidak Harus Sendiri: Beradaptasi, Bertumbuh, dan Berani Mencari Bantuan”. Talk show ini mengudara dalam program Zona Sahabat Kampus di UB Radio pada Kamis, 15 Oktober 2026, dan menghadirkan tiga unsur, yaitu Dharma Wanita Persatuan (DWP) FILKOM UB, Rekan Melangkah, dan Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) FILKOM UB.

Masa kuliah sering digambarkan sebagai masa yang menyenangkan, tetapi kenyataannya tidak lepas dari tekanan. Tuntutan akademik, relasi sosial, masalah keuangan, hingga rasa takut tertinggal dari teman menjadi tantangan tersendiri. Banyak mahasiswa merasa harus selalu terlihat mampu di depan orang lain, padahal di dalam dirinya sedang berjuang. Dalam kondisi seperti itu, meminta bantuan merupakan salah satu bentuk keberanian.

Perwakilan DWP FILKOM UB, Sumarah Noor Widyastuti, menekankan pentingnya ruang kepedulian yang hangat bagi mahasiswa, dan langkah pertamanya adalah mendengarkan.

“Mulailah dengan mendengarkan. Tidak semua cerita membutuhkan nasihat cepat. Kadang mahasiswa perlu merasa didengar terlebih dahulu. Hindari kalimat yang mengecilkan perasaan, seperti ‘begitu saja kok sedih’, atau membandingkan dengan pengalaman orang lain,” ujarnya. DWP hadir sebagai figur orang tua di kampus yang siap memberikan dukungan tanpa menghakimi.

BERDISKUSI: Narasumber dari DWP FILKOM UB, Rekan Melangkah, dan ULKT FILKOM UB saat mengisi talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).
BERDISKUSI: Narasumber dari DWP FILKOM UB, Rekan Melangkah, dan ULKT FILKOM UB saat mengisi talk show Zona Sahabat Kampus di UB Radio 107.5 FM, Kamis (15/10).

Dari sisi teman sebaya, Rekan Melangkah hadir sebagai dukungan yang setara. Dari Rekan Melangkah, hadir empat mahasiswa, yaitu I Wayan Ivan Zenatmaja, Arsal Bil Hakki R. Said, Muhammad Fathan, dan Allyndra Dyalista Darduran. “Rekan Melangkah adalah semangat untuk berjalan bersama. Kami ingin membangun budaya saling menyapa, mendengarkan tanpa menghakimi, menguatkan, dan menemani teman mencari bantuan jika persoalannya terasa berat. .

“Rekan Melangkah adalah semangat untuk berjalan bersama. Kami ingin membangun budaya saling menyapa, mendengarkan tanpa menghakimi, menguatkan, dan menemani teman mencari bantuan jika persoalannya terasa berat. Kami bukan pengganti tenaga profesional, tetapi bisa menjadi jembatan awal,” tutur perwakilan Rekan Melangkah.

Mereka juga menegaskan batas perannya, yaitu mendengarkan dan menemani, bukan mendiagnosis atau memberi label.

Dari sisi profesional, ULKT FILKOM UB membantu mahasiswa membahas persoalan akademik maupun nonakademik. Perwakilan ULKT FILKOM UB, Prasetyo Iskandar, S.T., menjelaskan bahwa stres sesekali adalah hal wajar. Namun, jika kesulitan berlangsung terus-menerus, mengganggu tidur, makan, konsentrasi, dan aktivitas kuliah, hingga membuat seseorang merasa tidak sanggup menjalani keseharian, mahasiswa disarankan untuk berkonsultasi.

“Mahasiswa tidak harus menunggu sampai masalah menjadi sangat berat untuk mencari bantuan. Konseling bukan hanya untuk kondisi krisis, tetapi juga untuk mengenali diri dan menyusun strategi menghadapi perubahan,” imbuhnya. ULKT juga memastikan layanan konseling menjaga privasi konseli sesuai ketentuan dan etika yang berlaku.

Ketiga pihak menyepakati tiga pesan praktis bagi sivitas akademika. Pertama, mahasiswa yang sedang berjuang disarankan untuk memulai dari langkah kecil dan realistis, seperti mengatur napas, memecah tugas, dan menghubungi orang tepercaya. Jika keselamatan terancam, segera cari bantuan langsung dan jangan sendirian. Kedua, teman yang melihat orang lain kesulitan sebaiknya mendekat dengan empati, mendengarkan tanpa memaksa, dan menawarkan diri untuk menemani mencari layanan yang tepat. Ketiga, keluarga dan sivitas akademika diharapkan menjadi tempat yang aman untuk berbicara, mengurangi stigma, dan tidak menghakimi.

Melalui talk show ini, FILKOM UB menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang harus berjuang sendirian. Kerja sama DWP, Rekan Melangkah, dan ULKT diharapkan menumbuhkan lingkungan kampus yang lebih peduli dan suportif terhadap kesehatan mental seluruh mahasiswa. (rr)

Editor : Kholid Amrullah
Universitas Brawijaya_SDG17 Universitas Brawijaya_SDG3 Zona Sahabat Kampus kesehatan mental mahasiswa