MALANG KABUPATEN – Kasus bunuh diri makin sering terdengar di Malang Raya. Sepekan terakhir, dua warga Kecamatan Turen, Kabupaten Malang nekat mengakhiri hidup karena putus asa. Satu kasus di Desa Tanwangrejeni, satu kasus lainnya di Desa Sanankerto. Peristiwa terakhir terjadi pada Jumat lalu (16/6). Seorang guru agama bernama Indra Wahyudi, 50, ditemukan tak bernyawa pada pukul 09.00.
Tubuhnya menggantung dengan tali terikat di leher di sebuah bangunan bekas kandang ayam Desa Sanankerto, Kecamatan Turen. Kapolsek Turen AKBP Yusuf Suryadi menjelaskan, peristiwa itu diketahui pertama kali oleh tetangga korban yang bernama Sukoyo. Saat itu Sukoyo berjalan melewati kandang ayam di belakang rumah korban.
Tiba-tiba dia melihat ada orang dengan tubuh tergantung. ”Seketika itu dia teriak memanggil warga lain,” jelas dia kemarin (18/6). Dalam waktu singkat, warga desa mendatangi kandang ayam itu. Mereka melihat tubuh indra tergantung sebuah tali tampar warna biru yang melilit di lehernya. Setelah polisi dan tim medis datang, tubuh Indra langsung diturunkan dan dibawa ke Puskesmas Turen.
Awalnya polisi kesulitan mendapatkan keterangan penyebab Indra mengakhiri hidup. Keterangan dari istri korban menyebutkan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan pada Jumat pagi. Sekitar pukul 05.00, Indra masih sempat mengantarkan istrinya ke perempatan Desa Kedok untuk naik angkutan ke Kota Malang guna menjalankan pekerjaan sebagai pengajar.
Namun setelah itu polisi memiliki dugaan lain. Kemungkinan besar Indra merasa putus asa karena menderita penyakit yang menahun. ”Sakit wasir yang tidak sembuh-sembuh. Katanya selalu terasa sakit saat dia buang air besar,” ungkap mantan Kapolsek Kedungkandang Polresta Malang Kota tersebut.
Di luar itu, posisi kejiwaan korban ternyata sedang tak baik-baik saja. Dia menjadi pendiam sejak setahun belakangan. Itu buntut dari kematian orang tua Indra. Sementara itu, dua hari sebelumnya terjadi kasus bunuh diri di Desa Tawangrejeni, Kecamatan Turen. Perempuan 52 tahun bernama Turiyah mengakhiri hidup dengan cara melompat ke Sungai Lesti pada Rabu (14/6).
Turiyah dikabarkan pertama kali meninggalkan rumahnya pada pukul 03.30 pagi. Bukan tanpa jejak, Musman, suami korban yang tengah tertidur pun bangun karena teriakan korban. ”Dia mengatakan ’ndang metuo’ (cepat keluar) sebanyak tiga kali. Suaminya langsung berlari mengejar dia,” kata Yusuf.
Sayangnya Musman kehilangan jejak. Sampai hari terang, dia masih terus mencari sang istri ke sekitar rumah dan area persawahan terdekat. Baru sekitar pukul 12.30, salah seorang warga bernama Sumarsono melihat ada mayat di tengah aliran sungai yang dangkal. Setelah diperiksa, jenazah itu adalah Turiyah yang dilaporkan pergi dari rumah pada pagi hari.
Berdasar pengakuan Musman dan anggota keluarga lain, Turiyah seperti depresi memikirkan anak nomor duanya yang tak kunjung pulang dan tak ada kabar. Depresi itu menyebabkan perubahan perilaku korban yang sejak satu bulan belakangan selalu menyendiri, melamun, dan tidak mau makan.
Dari dua kasus bunuh diri itu polisi menarik satu kesimpulan. ”Penyebabnya karena putus asa. Yang satu karena penyakit, satu lagi karena anaknya tidak pulang dan tak memberi kabar,” tandas Yusuf. (biy/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana