Juga Muncul Dugaan Kekerasan dalam Rumah Tangga
KABUPATEN – Seorang istri tewas karena racun di Perumahan Bumi Mondoroko Raya Blok GO I nomor 32, RT 4/RW 15, Desa Watugede Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.
Perempuan berinisial DS, 41, yang menghuni rumah di Perum Bumi Mondoroko Singosari Malang itu meninggal dunia dengan dugaan diracun.
Polisi sudah mengamankan bukti bekas racun dan saksi kunci kasus pria berinisial DMM, 41, yang merupakan suami korban dari rumah di Perum Bumi Mondoroko Singosari Malang.
Tapi hingga kemarin polisi belum menetapkannya sebagai tersangka.
DS ditemukan para tetangga dalam kondisi lemas dan muntah-muntah pada Rabu pagi, sekitar pukul 09.30.
Perempuan yang biasa dipanggil dengan nama Santi itu sempat dibawa ke puskesmas setempat, kemudian dirujuk ke RS Mardiwaluyo.
Namun nyawanya tak berhasil diselamatkan.
DS dinyatakan meninggal dunia pada pukul 20.00. Hingga tadi malam (25/1), polisi belum merilis hasil penyelidikan tentang kronologi kematian DS.
Selain memeriksa dan mengamankan DMM, polisi juga meminta keterangan para saksi. Termasuk melakukan olah TKP kemarin siang (25/1) mulai pukul 13.57.
Selain dugaan diracun, muncul indikasi adanya unsur kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada kasus tersebut.
Dugaan itu diungkapkan Kapolsek Singosari Kompol Masyhur Ade kepada wartawan di lokasi kejadian kemarin.
Karena itu pula, polisi mengamankan suami korban untuk mempermudah proses pemeriksaan di Mapolres Malang.
”Untuk motifnya masih dilakukan pendalaman,” ujarnya.
Penjelasan Kapolsek Singosari itu selaras dengan keterangan sejumlah tetangga DS.
Misalnya yang diungkapkan Dewi Beja, 57, pemilik toko kelontong di depan rumah DS.
Pada Rabu pagi (24/1), dia mendengar pertengkaran antara korban dengan suaminya.
Di ujung pertengkaran terdengar suara DS menjerit.
Beberapa tetangga juga mendengar pertengkaran maupun jeritan itu.
Tapi tidak ada satu pun yang mendekat untuk melerai.
Hingga pada pukul 09.00, salah seorang anak korban yang masih berusia 5 tahun datang ke toko milik Dewi.
Bocah itu mengaku disuruh ibunya untuk meminta air minum.
Namun saat itu stok air mineral di toko milik Dewi sedang kosong.
”Kemudian dia pergi dan meminta air ke Pak Edi (tetangga yang lain),” kata Dewi.
Kepada Edi, bocah tersebut sempat mengatakan apa yang dialami ibunya.
Tapi karena masih terlalu kecil, kalimat yang digunakan tidak mudah dimengerti.
Artikulasinya kurang jelas.
Para tetangga baru bergerak setelah korban menelepon istri Edi dan memberitahukan kondisinya.
Lima orang warga mendatangi rumah DS, termasuk Dewi.
Mereka terkejut saat menemukan korban berada di lantai kamar tidur dalam posisi miring dan muntah-muntah.
Dari mulutnya juga keluar cairan berwarna kuning dan tercium aroma seperti zat kimia.
Menurut Dewi, saat itu di dalam rumah juga ada tiga anak kecil.
Namun warga tidak menemukan suami DS yang biasa dipanggil dengan nama Yayan.
Warga kemudian membersihkan tubuh korban dan membawanya ke fasilitas kesehatan.
”Pertama dibawa ke puskesmas. Tapi kemudian dirujuk RS Marsudi Waluyo,” imbuh Dewi.
Kabar terakhir yang dia dengar, DS dinyatakan meninggal pada hari itu sekitar pukul 20.00.
Saksi lain mengungkapkan bahwa pasangan DS dan DMM sudah tinggal di kawasan itu sejak 2015.
Mereka merawat enam anak.
Tidak semuanya merupakan hasil pernikahan pasangan tersebut.
Dua anak merupakan buah hati DS dengan suami sebelumnya.
Sedangkan satu lainnya merupakan anak DMM dengan istri sebelumnya.
DMM dikenal sebagai pria pendiam.
Sebaliknya korban cukup sering bersosialisasi dengan para tetangga.
Anak-anak pasangan itu juga sering bermain ke toko kelontong milik Dewi.
Sementara itu, Ketua RT 4 Ali Masyudi mengaku ikut mengantar korban ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, DS masih dalam kondisi sadar.
Tapi terus mengeluh perutnya mual dan lemas.
DS juga sempat berbisik minta dibawa ke RS UMM di kawasan Langdungsari.
”Tapi karena mempertimbangkan jarak dan kondisinya, korban kami bawa ke RS Marsudi Waluyo,” terangnya.
Ali mengatakan, sepanjang perjalanan DS lebih banyak diam.
Dia sama sekali tidak menceritakan apa yang baru saja dialaminya.
Ali juga tidak melihat adanya luka pada tubuh korban.
”Itu berdasar penglihatan saya. Yang bisa memastikan ya petugas medis,” tandasnya.
Sementara itu, dugaan korban diracun diperkuat temuan oleh TKP yang dilakukan Tim Inafis Polres Malang kemarin.
Di antaranya, sisa muntahan yang mengeluarkan aroma bahan kimia di kamar, botol cairan pembersih lantai di dapur, satu buah gelas, baju korban yang ada bekas muntahannya.
Informasi yang diterima polisi dari hasil pemeriksaan medis, korban meninggal karena meminum cairan pembersih lantai.
Tapi belum bisa dipastikan apakah minum sendiri atau dipaksa orang lain. (iza/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana