Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pembunuhan di Dampit Malang, Mantan Napi Hajar Lansia hingga Tewas

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 30 April 2024 | 20:26 WIB

 

Lokasi pembunuhan dan penganiayaan terhadap lansia oleh seorang mantan narapidana, di Desa Rembun, Dampit Kabupaten Malang
Lokasi pembunuhan dan penganiayaan terhadap lansia oleh seorang mantan narapidana, di Desa Rembun, Dampit Kabupaten Malang

KABUPATEN – Dua kali dipenjara atas kasus penganiayaan tak membuat Mariono, 57, bisa mengendalikan emosi.

Minggu sore (28/4), pria asal Dusun Lambangkuning, RT 26/RW 4, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit itu menghajar tetangganya yang sudah lanjut usia hingga akhirnya meninggal. 

Penganiayaan dilakukan di makam Mbah Kandang, Dusun Sentong RT 21/RW 5, Desa Rembun, Kecamatan Dampit.

Baca Juga: Update Penganiayaan Balita oleh Baby Sitter, Aghnia Bagikan Story Bukti Transfer Bantah Klaim Gaji Tertunda dari Pengacara Tersangka

Korban terdata atas nama Satip. Pria 74 tahun itu tinggal di lingkungan atau RT yang sama dengan Mariono.

Keduanya sudah saling mengenal. Bahkan pernah berseteru pada 2019.

Kapolsek Dampit AKP Bagus Wijanarko menjelaskan, penganiayaan terjadi sekitar pukul 16.50.

Awalnya Mariono datang ke makam untuk menemui Satip yang sudah lebih dulu berada di lokasi tersebut. 

Pertengkaran terjadi setelah Mariono bertanya di mana motor anaknya yang diambil Satip. 

Pertanyaan itu terkesan menuduh, sehingga memicu kemarahan Satip.

”Selanjutnya korban mengambil balok kayu di sekitar lokasi kejadian, tapi berhasil direbut oleh pelaku,” kata Bagus. 

Kemudian balok kayu itu dipukulkan ke kepala Satip berkali- kali. 

Setelah melakukan pemukulan, Mariono pergi meninggalkan makam.

Saat pulang ke rumahnya yang berjarak 2 km dari lokasi kejadian, Mariono memberi tahu warga bahwa dia baru saja menghabisi Satip. 

Informasi itu dibenarkan Mujiono selaku Kasi Kesra Desa Majangtengah.

Mujiono menerima kabar pemukulan itu sekitar 17.00. 

Dia pun bergegas menuju Makam Mbah Kandang dan sampai di lokasi kejadian 17.30.

Dari kejauhan, Mujiono melihat Satip dalam posisi tengkurap di bawah bangku panjang bangunan kayu dekat makam.

Bangunan itu biasa digunakan orang untuk jagongan.

”Korban mengalami luka di bagian tengah kepala dan mulut,” terang Mujiono.

Baca Juga: Pembunuhan Gunung Katu Wagir Kabupaten Malang Terungkap, Ini Identitas dan Motif Pelaku

Meski mengalami luka dan mengeluarkan banyak darah, Satip masih bernapas saat ditemukan.

Beberapa kali tangannya terlihat bergerak.

Mujiono langsung menghubungi tim medis dan mengevakuasi Satip ke RSUD Kanjuruhan menggunakan ambulans.

Satip sempat mendapat perawatan di RSUD Kanjuruhan.

Tapi karena lukanya terlalu parah, lansia itu mengembuskan napas terakhir pada pukul 23.40. 

Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang pada Senin dini hari (29/4).

Mujiono menambahkan, pelaku sebenarnya sudah pernah dua kali dipenjara.  Semuanya karena kasus penganiayaan.

Bahkan dia belum setahun keluar dari balik tembok lembaga pemasyarakatan.

Pada 2021 lalu, pelaku bertengkar dengan warga desa setempat ketika ada kegiatan kerja bakti. 

Seorang warga sampai mengalami luka sayatan di bagian punggung.

Sebelumnya, pada 2019 pelaku juga bertengkar dengan Satip.

Di dua kejadian itu Mariono selalu menggunakan senjata tajam, tapi tidak mengakibatkan korban kehilangan nyawa.

Perangkat Desa Rembun Dampit Malang menunjukkan titik lokasi penganiayaan lansia oleh mantan napi
Perangkat Desa Rembun Dampit Malang menunjukkan titik lokasi penganiayaan lansia oleh mantan napi

Perilaku Mariono yang temperamental sudah lama meresahkan warga. 

Bahkan pihak desa pernah mengingatkan agar dia tidak mengulangi penganiayaan selepas keluar dari penjara. 

Namun saran tersebut tidak mempan.

Baca Juga: Bukan Perampokan? Polres Malang Endus Motif Lain dalam Pembunuhan Lansia dan Penganiayaan Pendeta di Jalan Anggodo Pakis Malang

Saat ini Mariono sudah diamankan polisi. Barang buktinya antara lain balok kayu 4x6 cm dengan panjang 97 cm, topi milik korban, dan pakaian milik pelaku. 

Dia dijerat pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Ancaman maksimalnya tujuh tahun penjara. 

Korban Hidup Sendirian Sementara itu, Jenazah Satip tiba di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) sekitar pukul 02.00.

Setelah menjalani otopsi, jenazah korban dipulangkan untuk dimakamkan.

Anak kedua Satip yang Bernama Siswanto mengaku tidak mengetahui detail penganiayaan yang mengakibatkan ayahnya meninggal.

Sebab dia tinggal di desa yang berbeda.

”Selama ini bapak memang tinggal sendiri di rumah. Itu memang keinginan beliau,” kata Siswanto saat ditemui di RSSA.

Satip sebenarnya memiliki lima anak. Namun tidak satu pun yang tinggal bersama pria lanjut usia itu. 

Satip juga memiliki istri yang masih hidup. Tapi tinggal di rumah yang berbeda.

”Saya mendengar bapak meninggal dari Pak Mujiono. Katanya jenazah sudah dibawa ke RSSA,” kata Siswanto.

Malam itu juga Siswanto bersama dua saudaranya berangkat ke RSSA.

Saat ditanya tentang perseteruan antara Satip dengan Mariono, Siswanto mengaku tidak tahu. 

Bahkan dia mengaku sudah lama tidak berkomunikasi dengan ayahnya.

”Yang saya tahu, bapak pernah menderita stroke ringan. Tapi masih bisa beraktivitas, seperti pergi ke Makam Mbah Kandang yang merupakan punden di Dusun Sentong, Desa Rembun, Kecamatan Dampit,” imbuhnya.

Baca Juga: Warga Gondanglegi Malang Tewas dengan 32 Luka Bacok, Polisi : Murni Pembunuhan

Cerita lain diungkapkan anak bungsu Satip yang Bernama Siti Uswatun Hasanah. Perempuan 25 tahun itu mendengar ayahnya meninggal dari tetangganya yang Bernama Rizky.

Berdasar cerita Rizky, sore itu Mariono melintas di perempatan Kampung Lambangkuning sambil tertawatawa dan membawa celurit.

Kepada orang-orang di sekitar perempatan, tersangka mengatakan bahwa musuhnya sudah meninggal. 

”Lek kepi kepingin weruh delok en ndek krapyak (Kalau ingin tahu lihat sendiri di makam),” ucap Mariono seperti ditirukan Rizky.

Mendengar perkataan itu, Rizky bergegas menuju makam Mbah Kandang. 

Di sana dia melihat Satip sudah tergeletak bersimbah darah. Ada luka di dahi, pipi, kepala, dan tubuh bagian belakang.

”Saat itu tidak ada warga yang berani membawa korban ke rumah sakit,” cerita Siti.

Beberapa warga sempat mengejar Mariono, namun tidak berhasil. 

Dua warga yang ikut mengejar Mariono malah menjadi korban. 

Satu orang mengalami luka di pelipis kiri dan mendapat enam jahitan dari tim medis di RS Bala Keselamatan Bokor Turen. 

Satu warga lain mengalami luka lebam.

Terkait sosok Mariono, Siti menyebut pria itu memang dikenal temperamen. 

Satip pernah dianiaya Mariono pada 2019, 2021, dan Minggu kemarin.

”Waktu tahun 2021 dibacok menjelang azan Subuh. Bapak sampai dapat 16 jahitan,” sebutnya.

Selain Satip, tetangga lain pernah dianiaya Satip sampai isi perutnya keluar. 

Masalahnya hanya karena jalan air yang buntu.

Satu tetangga lagi juga pernah merasakan amarah Satip, tapi tidak dianiaya.

”Anaknya saja pernah dipukuli. Dengan bapak tidak ada hubungan. Masalah benci atau dendam, kami juga kurang tahu,” imbuh dia. (iza/mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#dampit #Pembunuhan #malang