Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Detik-Detik Mencekam Pemuda asal Ngantang Malang Tenggelam di Pantai Nomi Jepang, Inilah Kronologinya!

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 1 Juli 2024 | 19:46 WIB
Erick Kurniawan, pemuda asal Ngantang Malang semasa hidup. Dia meninggal tenggelam di pantai Nomi Jepang
Erick Kurniawan, pemuda asal Ngantang Malang semasa hidup. Dia meninggal tenggelam di pantai Nomi Jepang

KABUPATEN - Musibah menimpa pekerja migran asal Kecamatan Ngantang, Erick Kurniawan, Sabtu lalu (29/6).

Dia ditemukan meninggal setelah tenggelam di Pantai Nomi, Prefektur Ishikawa, Jepang.

Disnaker Kabupaten Malang sedang berkoordinasi dengan Disnakertrans Provinsi Jawa Timur dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2- MI) untuk proses pemulangan jenazah korban.

”Kami mendapat kabar bahwa Disnakertrans Provinsi Jawa Timur bersedia memfasilitasi ambulans gratis dari Bandara Juanda ke rumah duka di Dusun Ngramban, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang,” kata Kepala Disnaker Kabupaten Malang Yoyok Wardoyo kemarin (30/6).

Salah seorang teman Erick yang bernama Muhammad Kenan Ismail mengungkapkan, musibah itu bermula saat korban bersama dua temannya pergi ke Pantai Nomi untuk pelesir.

Dua teman yang pergi bersama Erick terdiri dari satu warga Indonesia dan satu warga Vietnam.

Mereka ke pantai karena sedang libur kerja.

Informasi yang diterima Kenan dari perusahaan outsourcing tempat Erick bekerja menyebutkan, awalnya korban berjalan ke pinggir pantai untuk melihat pemancing.

Pantai itu sebenarnya tidak langsung terhubung dengan laut dalam, sehingga ombaknya tidak terlalu besar.

”Tapi Erick memang tidak pandai berenang,” terangnya.

Dua teman korban sebenarnya mengawasi Erick yang berjalan ke air dangkal.

Namun keduanya sempat lengah.

Tiba-tiba saja mereka melihat Erick sudah terseret ombak.

Tangannya melambai-lambai meminta pertolongan setelah itu menghilang.

Dua rekan Erick langsung meminta bantuan polisi dan petugas pemadam kebakaran setempat.

Sayangnya, Erick ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia sekitar pukul 23,00 waktu Indonesia Bagian Barat.

Jenazah Erick kemudian dibawa ke rumah sakit di Ishikawa dan akan diotopsi.

”Otopsi kemungkinan baru bisa dilakukan hari ini (1/7) dan bisa memakan waktu satu sampai dua hari,” terang Kenan.

Untuk sementara, rekan-rekan Erick di Jepang juga terus meng-update perkembangan informasi dari KJRI.

Seandainya hoken (asuransi tenaga kerja) Erick tidak cair, mereka berencana menggalang dana agar jenazah bisa dipulangkan.

Kenan bercerita bahwa dirinya mengenal Erick saat mengikuti program magang sebagai pekerja migran melalui LPK Sending Organization (SO) Jiritsu Nusantara.

Program itu berlangsung pada 2019 di Bogor.

”Untuk magang kerja di luar negeri harus sudah lulus sekolah. Juga telah mengikuti pelatihan enam sampai tujuh bulan,” jelas Kenan.

Erick akhirnya berangkat magang ke Jepang pada 27 Februari 2020 hingga 2023.

Kenan dan Erick bertemu kembali pada 2023 di Indonesia saat sama-sama membantu mengajar di LPK Hikari, Yogyakarta.

Pada sebuah kesempatan, Kenan menawarkan lowongan pekerjaan sebuah lembaga outsourcing dari Jepang kepada Erick.

Tawaran itu pun diterima.

Erick akhirnya dinyatakan lolos untuk bekerja di perusahaan pengelasan kapal Nitchitsu.

Dia berangkat pada 19 Agustus 2023 melalui Perusahaan Visa Tokutei Ginou (Specified Skilled Workers atau Pekerja Berketerampilan Spesifik).

Selama hidupnya, Erick dikenal sebagai sosok yang baik.

Dia juga bercita-cita membangun LPK sendiri.

”Orangnya mudah bergaul, ceria, setia kawan, dan suka menolong,” kenang Kenan.

Kepala Dusun Ngramban yang juga kerabat Erick, Edi Sunarto, mengatakan bahwa pihak keluarga sudah mengetahui kabar itu sejak Sabtu malam.

Saat ini mereka masih menunggu kabar lanjutan dari pemerintah.

Informasi yang diterima pihak keluarga, Senin atau Selasa pekan depan Erick diberi izin oleh perusahaan untuk mengurus perpanjangan visa di Tokyo.

”Saat tahu Erick meninggal, keluarganya sangat terpukul,” kata Edi.

Orang tua korban, yakni Suliyono dan Tutik, beberapa kali drop.

Terutama Suliyono yang selama ini memiliki riwayat komplikasi.

Karena kondisi itu, seluruh administrasi terkait data diri Erick dibantu pengurusannya oleh keluarga dan pihak desa.

Erick diketahui memiliki satu adik tamatan SMP yang sekarang bekerja membantu mengurus ternak keluarga.

Erick maupun adiknya dikenal sebagai anak-anak istimewa.

Keduanya selalu mendapat ranking selama sekolah.

”Terakhir berkomunikasi dengan keluarganya itu tiga hari lalu. Sempat bilang ingin menikah,” imbuhnya. (mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pantai nomi #ngantang malang #tenggelam #Jepang