MALANG KOTA - SP, 56, seorang pegawai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang ditemukan meninggal dalam keadaan tergantung pada Minggu malam (4/8).
Leher pria yang tinggal di Jalan Imam Sujono, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun itu terlilit tali tampar ke bambu penyangga tanaman di dekat rumah adiknya.
Sebelum mengakhiri hidup, SP sering mengeluh pusing akibat sakit gigi menahun.
Berdasar keterangan warga, malam itu, sekitar pukul 19.30, istri SP mencari suaminya setelah pulang pengajian bersama warga.
Dia sudah hafal dengan tabiat suaminya yang gemar menyendiri di kebun belakang yang juga dekat dengan rumah adiknya.
Istri SP meminta bantuan dua warga yang berada di pos kamling untuk menemani mencari sang suami.
Berbekal lampu senter, tiga orang itu pun menyusuri kebun belakang rumah SP.
Tiba-tiba, istri SP melihat suaminya berdiri di depan pintu seng bagian belakang pekarangan rumah adiknya.
Dikira sedang kencing, istri SP menunggu beberapa menit sebelum menegur suaminya.
Saat dipanggil, SP tidak menyahut.
”Ketika didekati, ternyata tubuh Pak SP dalam keadaan tergantung,” ujar Pramono, 35, Ketua RT setempat Kelurahan Mulyorejo.
SP yang mengenakan celana training dan jaket biru sama sekali tak bergerak.
Lehernya terlilit tali berwarna biru yang diikat ke konstruksi bambu penyangga pohon.
Istri SP pun berteriak dan meminta tolong kepada warga sekitar untuk menurunkan suaminya.
Namun tidak ada yang berani menyentuh mayat pria itu.
Mereka menunggu petugas kepolisian dan relawan medis untuk melakukan evakuasi.
Pramono menjelaskan, selama hidupnya SP selalu berkelakuan baik.
Dia bahkan berani menjamin bahwa SP tidak pernah berselisih paham dengan warga atau tetangganya.
Hubungan dengan istri dan keluarganya pun tidak ada masalah.
Begitu juga kondisi finansialnya.
SP tergolong orang yang berkecukupan dan disegani di daerahnya.
”Sifatnya menjadi lebih pendiam setelah mengalami kecelakaan sekitar tiga tahun silam,” lanjut Pramono.
Menurutnya, SP pernah mengalami kecelakaan saat berangkat kerja ke kantornya.
Beberapa gigi atas SP terlepas, sehingga dia memutuskan untuk melepas semuanya dan menggantinya dengan gigi palsu.
Sayangnya, sakit kepala yang dirasakan SP semakin parah.
Upaya berobat ke banyak tempat sudah dilakukan.
Tapi dokter tidak mendeteksi penyakit apa pun pada kepalanya.
Padahal menurut Pramono, hampir setiap hari SP mengeluh kepalanya sakit dan berdengung.
Beberapa hari sebelum kematiannya, SP sering mengeluh dan berniat mengakhiri hidup.
Perubahan sikap SP itu juga dirasakan oleh Kepala Bidang Persampahan dan Pengolahan B3 DLH Kota Malang Totok Sapto Marjono.
”Setiap hari almarhum masih datang ke tempat kerja, walaupun sering istirahat,” ujar Sapto.
Dia sering melihat anggota lain membantu SP untuk mengerjakan tugasnya.
Sapto pun menyarankan anggotanya itu untuk beristirahat saja apabila masih merasa sakit.
Namun SP selalu bersikeras untuk tetap bekerja. (aff/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana