Rumah Sakit Lawang Medika yang menampung korban kecelakaan bus pariwisata dan truk pakan ternak dipadati keluarga korban hingga kemarin. Seluruhnya berasal dari luar kota. Ada yang datang menggunakan kendaraan pribadi, kereta api, maupun pesawat terbang.
NAHDIATUL AFFANDIAH
SELASA sore (24/12), seorang pria terlihat duduk lesu di kursi tunggu ruang instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Lawang Medika.
Kepada Jawa Pos Radar Malang dia mengenalkan diri bernama Aji.
Baru datang ke Malang setelah mendapat kabar dari sang istri bahwa anaknya mengalami kecelakaan bus di jalan tol.
”Saya sebenarnya sedang dinas luar kota di Banjarmasin. Buru-buru cari tiket pesawat terbang ke Malang setelah mendapat kabar dari istri saya,” kata pria yang merupakan orang tua korban kecelakaan berinisial N, 13.
Saat mendengar putrinya mengalami kecelakaan pada sore hari, Aji langsung memesan tiket pesawat Banjarmasin Malang.
Kebetulan langsung dapat dan tiba di Malang pada malam hari.
Saat itu yang terlintas di benaknya hanya berupaya cepat bertemu sang buah hati.
”Padahal baru kemarin dia dengan semangat bercerita akan liburan ke Bromo,” kenang Aji.
Jauh sebelum terjadi kecelakaan, putri pertamanya itu berpamitan mengikuti intensive camp di Kampung Inggris, Pare, Kediri.
Baru dua hari tiba di sana sudah ada jadwal liburan ke Bromo bersama teman-temannya. N bahkan sempat membeli bunga edelweiss dan memamerkan foto keseruan di Bromo kepada orang tuanya.
Selesai jalan-jalan ke Bromo, N berpamitan untuk melakukan perjalanan kembali ke Kediri.
Tiba-tiba pada sore hari saat, busnya mengalami kecelakaan.
Padahal jadwal intensive camp yang sudah lama diidam-idamkan anaknya itu berakhir pada 2 Januari.
Banyak program yang sudah dirancang untuk mengisi libur sekolah pada intensive camp itu.
Namun semuanya harus kandas karena kecelakaan lalu lintas.
Saat ini, kondisi anaknya masih dalam perawatan medis.
Sudah bisa diajak berkomunikasi, namun masih ada trauma tersendiri.
”Anak saya mengalami luka di bagian wajah sampai harus mendapat beberapa jahitan di pelipis,” ujarnya.
Tak hanya Aji, hampir seluruh orang tua dan saudara korban kecelakaan KM 77+200 Tol Pandaan Malang merasakan hal yang sama.
Lelah dan khawatir pada kondisi anak-anaknya.
Sebagian ada yang datang untuk langsung menjemput anaknya yang luka-luka untuk dirawat di rumah.
Kini di lima rumah sakit yang menjadi rujukan tersisa pasien-pasien yang mengalami luka parah.
Mulai dari gegar otak, patah tulang, dan luka-luka lainnya.
Orang tua para korban pun tak berhenti berdoa agar anaknya lekas membaik dan kembali sekolah seperti semula.
Mayoritas korban di dalam bus kala itu memang sedang tertidur.
Lelah setelah berlibur, tapi malah terbangun karena benturan yang sangat keras.
Semua penumpang dalam keadaan kesakitan, syok, dan sempat linglung. (*/fat)
Editor : Aditya Novrian