Tiga hari berlibur di Kota Batu menjadi momen kebersamaan terakhir M. Syafiudin Nuris Wanto dengan anak dan istrinya.
Sesaat setelah dihantam bus, dia sempat menggendong anaknya.
Dia tahu saat itu anaknya yang berusia 20 bulan masih hidup.
RORI DINANDA BESTARI
SEPULUH korban kecelakaan beruntun di Kota Batu langsung dibawa ke ruang instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Hasta Brata Kota Batu, Rabu malam (9/1).
Ada yang mengalami luka di bagian kaki dan tangan.
Ada juga yang mengalami luka di bagian kepala dan patah tulang.
Beberapa bercak darah tampak tercecer di lantai.
Di setiap ranjang, mayoritas korban ditemani sanak familinya.
Namun, ada seorang pria yang duduk terbaring sendirian tanpa ada yang menemani.
Tangannya kanan nya di bungkus arm sling.
Kaki kanannya tampak terluka parah karena tergores aspal.
Luka di kakinya memanjang dari mata kaki hingga paha.
Wajahnya juga penuh dengan darah.
Pelipis sebelah kanannya tampak di perban.
Dialah Muhammad Syafiudin Nuris Wanto, salah satu korban kecelakaan yang selamat.
Meski selamat, wisatawan asal Jember itu harus mendapati kenyataan pahit.
Dia kehilangan istri dan anaknya yang masih berusia 20 bulan.
”Tadi (sorenya) saya baru saja jalan-jalan di Alun-Alun Kota Batu sejak pukul 4 sore,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Malang.
Menggunakan motor yang dia sewa, sepulang dari sana Nuris berencana keliling Kota Batu bersama anak dan istrinya.
Sebelum akhirnya kembali ke penginapan di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu.
Kendaraannya sempat terhenti karena ada bus yang putar balik di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Batu.
Sesaat berikutnya, sebuah bus dengan kecepatan cukup tinggi melaju dari arah timur.
Bus itu langsung menabrak kendaraannya dari belakang.
Dia, istri, dan anaknya langsung terpental.
Saat itu, Syafiudin mengaku masih sadar dan langsung berdiri untuk mencari anak dan istrinya.
”Saya sempat menggendong anak saya, masih hidup, masih bernapas, saya bisa merasakannya,” ucap dia dengan terisak.
Sementara saat mendekati istrinya, dia tahu bahwa yang bersangkutan sudah meninggal.
Syafiudin beserta buah hatinya langsung dibawa ke rumah sakit.
Namun, nahas, putri semata wayangnya dinyatakan meninggal dunia.
Kecelakaan itu menjadi pukulan keras baginya.
Sebab, rencana liburan yang telah dia jadwalkan jauh-jauh hari menjadi momen duka.
Syafiudin sudah berada di Kota Batu Senin lalu (6/1).
Dia berencana kembali ke Jember pada hari ini (9/1) menggunakan kereta api.
Kecelakaan itu membuat handphone miliknya rusak dan tak bisa menghubungi keluarga di rumah.
Dia sempat meminta pihak rumah sakit untuk mencari sanak saudaranya yang tinggal di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Beruntung, keluarganya berhasil dihubungi.
Tangis Syafiudin pun pecah ketika mendengar suara keluarganya melalui video call.
Sesak yang dia tahan sejak masuk IGD langsung pecah.
Dia menangis tersedu-sedu sembari menyalahkan dirinya sendiri.
”Saya tidak kuat, saya tidak bisa,” kata sembari menangis dan memukuli ranjang serta badannya.
Pihak keluarganya tampak mencoba menenangkannya.
Begitu juga tim medis di RS Hasta Brata Batu.
Kemarin (9/1), dia dinyatakan bakal menjalani operasi akibat dislokasi di lengan kanannya.
Sementara itu, jenazah istri dan anaknya telah dijemput pihak keluarga dini hari kemarin (9/1).
Kedua jenazah kabarnya dimakamkan di Lumajang, kemarin siang.
Syafiudin tak bisa menemani masih dalam proses pemulihan. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana