Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

78 Rumah di Kanjuruhan Rusak karena Bencana Hidrometeorologi

Mahmudan • Sabtu, 22 Februari 2025 | 19:55 WIB
BENCANA: Tim BPBD Kabupaten Malang meninjau lokasi banjir di Jalan Diponegoro, Lawang pada Selasa sore (19/2). (BPBD KABUPATEN MALANG FOR RADAR KANJURUHAN)
BENCANA: Tim BPBD Kabupaten Malang meninjau lokasi banjir di Jalan Diponegoro, Lawang pada Selasa sore (19/2). (BPBD KABUPATEN MALANG FOR RADAR KANJURUHAN)

KEPANJEN – Hampir setiap hari Bumi Kanjuruhan diterjang bencana seperti banjir, angin kencang, hingga tanah longsor.

Setidaknya, kondisi tersebut terlihat dalam dua bulan belakangan.

Dalam kurun 52 hari, yakni sejak Januari lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 51 kali bencana.

Yakni berupa banjir, angin kencang, dan longsor.

Akibat kejadian tersebut, 78 rumah mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat.

Kejadian terbaru pada Selasa sore (19/2).

Lima rumah di Jalan Diponegoro RT 01, RW 11, Kelurahan Lawang, Kecamatan Lawang terendam air luapan dari Sungai Bendo.

Air mulai merendam permukiman warga sekitar pukul 16.00.

“Akibat air dari kali bendo meluap dan menggenangi rumah-rumah warga,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.

Luapan air sungai tersebut mengenai lima rumah yang berada di tepi barat sungai.

Rumah-rumah yang terendam adalah milik Choiriyah, 65; Yudha Praseta, 47; Trisno Yuwono, 58; Bambang Kriswarid, 72; dan Syaiful Huda, 57.

Semuanya terendam air setinggi 30 sentimeter.

Total ada 19 jiwa yang terdampak bencana tersebut.

Banjir baru dinyatakan surut sekitar pukul 18.00.

Setelah itu dilanjutkan dengan bersihbersih rumah di lokasi-lokasi terdampak.

Semua kegiatan baru dinyatakan rampung pukul 20.34.

Tidak ada kerugian materi akibat peristiwa tersebut.

Juga tidak ada korban jiwa.

”Selama Januari hingga hari ini (kemarin, 21/2), banjir total ada delapan kali, longsor 32 kali, dan angin kencang ada 11 kejadian,” sebut Sadono.

Dia lantas merinci 78 rumah warga mengalami kerusakan.

Terdiri atas 69 rumah rusak ringan dan 9 rusak ringan.

Kerugian materi yang timbul berdasar perhitungan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat sekitar Rp 377,6 juta.

Biasanya, dia melanjutkan, angin kencang mengakibatkan atap ambruk atau hilang tertiup angin.

Untuk longsor, dalam beberapa kejadian material longsornya mengenai bagian belakang rumah, yakni bagian dapur.

Sementara untuk banjir, Sadono menyebut sangat jarang ada rumah yang rusak karena tergenang air.

Kebanyakan hanya berupa genangan akibat luapan sungai atau irigasi.

Yang disebabkan air hujan tidak tertampung saluran atau banyak sampah dan sedimen.

”Kecuali banjir di Desa Kedungrejo, Kecamatan Pakis pada 24 Januari lalu, itu kategorinya banjir bandang kecil. Ada rumah yang temboknya jebol kena tergerus air,” kata dia.

Akibat kejadian banjir parah di Pakis itu, 35 rumah rusak.

30 tergolong rusak ringan dan 5 rusak sedang. (biy/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#rumah rusak #BPBD #kanjuruhan #Bencana hidrometeorologi