Gunung Semeru kembali erupsi dengan letusan yang membentuk kolom abu setinggi 1.000 meter diatas puncak kawah.
Erupsi terdeteksi oleh alat seismograf dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru yang merekam amplitudo 22 mm dengan durasi 155 detik.
Dikutip dari liputan Antara, “Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Rabu 12 Maret 2025 pada pukul 05.49 WIB dengan tinggi kolom mencapai 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Gufron Alwi, dalam laporan tertulis.
Baca Juga: Dana Sekolah Rusak Tambah Rp 14 Miliar, Anggaran Perjalanan Bupati ke Luar Negeri Dihapus
Kolom abu setinggi 1.00 meter tersebut berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan timur.
Di hari yang sama, Gunung Semeru sudah mengalami lima kali erupsi sejak dini hari hingga pagi.
Aktivitas erupsi tersebut tidak mengganggu kegiatan warga, namun warga tetap dihimbau untuk tetap waspada terhadap status Gunung Semeru.
Baca Juga: Jalur Gondanglegi-Bantur Berpotensi Dipadati Wisatawan saat Lebaran
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan rekomendasi seperti, larangan untuk melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh delapan kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat juga tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah maupun puncak Gunung Semeru dikarenakan rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Gunung Semeru dari tahun ke tahun seringkali menunjukkan aktivitas vulkanik, salah satunyaBaca Juga: Operasi Pekat Semeru di Kota Malang Tangkap 53 Tersangka
Sejarah letusan terdahsyat Gunung Semeru berdasarkan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) terjadi pada 8 November 1818.
Selain itu, terjadi letusan kembali pada tahun 1909 yang menjadi salah satu letusan terbesar Gunung Semeru tepatnya pada tanggal 29 Agustus 1909.
Letusan tersebut terjadi dengan aliran piroklastik dan lava yang menghancurkan 38 pemukiman dan 600 hingga 800 hektar lahan pertanian, sekaligus memakan 208 korban jiwa. (nai)
Editor : Aditya Novrian