MALANG KOTA – Tindakan asusila yang dilakukan oknum dokter tidak hanya terjadi di Jawa Barat.
Selasa lalu (16/4), perempuan bernama Qorry Aulia Rachmah mengaku pernah mendapat pelecehan seksual dari dokter Persada Hospital pada 27 September 2022.
Meski kasusnya sudah terjadi lebih dari dua tahun lalu, Qorry berencana membawanya ke jalur hukum.
Qorry menceritakan pengalaman pahit itu secara terbuka melalui akun Instagram miliknya, @qorryauliarachmah.
Hingga kemarin sore, kisah tersebut sudah dibagikan sebanyak 3.412 kali.
Unggahan itu pun mendapat banyak komentar.
Rata-rata memberi dukungan dan berterima kasih telah berani speak up atau angkat bicara demi mencegah kejadian serupa pada orang lain.
Dalam unggahannya, perempuan asal Bandung itu mengaku pernah dirawat di Ruang VIP Alamanda milik Persada Hospital pada 2022.
Dia menjalani perawatan untuk penyakit vertigo dan sinusitis.
Awalnya Qorry datang ke RS tersebut pada 26 September 2022 dan menjalani serangkaian pemeriksaan di IGD.
Termasuk pemeriksaan rontgen.
Setelah itu, salah seorang dokter pria berinisial Ar meminta nomor ponsel Qorry dengan dalih akan mengirim hasil rontgen.
Qorry mengiyakan dan akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan VIP.
Esoknya, Ar benar-benar menghubungi Qorry.
Tak hanya mengirimkan hasil rontgen, ternyata dokter lulusan Universitas Katolik Widya Mandala itu terus-menerus mengirimkan pesan yang tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan.
Misalnya, ajakan ngopi di kafe atau sekadar menanyakan kondisi Qorry.
Ajakan tersebut tidak digubris.
Pada hari yang sama, Ar menyampaikan kalau hendak melakukan pemeriksaan terhadap Qorry secara personal pada pukul 15.30.
Qorry pun datang ke rumah sakit untuk memenuhi prosedur itu.
Pada saat pemeriksaan, Ar ternyata meminta Qorry membuka pakaian.
Baju pasien berupa kimono dengan tali yang digunakan Qorry juga ditarik sehingga bisa terbuka.
Setelah itu, Ar melakukan pemeriksaan menggunakan stetoskop.
Pemeriksaan dilakukan cukup lama pada area dada hingga payudara.
Ar bahkan mengarahkan kamera ponsel ke dada Qorry, seolah ingin mengambil video atau foto.
Qorry yang tidak nyaman sempat menanyakan tindakan yang dilakukan Ar.
Dia juga memaksa kembali menutup baju tanpa berani melakukan tindakan kasar.
Melihat sikap Qorry, Ar hanya diam.
Akhirnya, Qorry meminta Ar keluar dari ruangan dengan alasan ingin beristirahat.
Setelah sang dokter keluar, Qorry menghubungi salah seorang temannya untuk datang menjenguk.
Kepada sang teman, Qorry menceritakan keresahannya.
Saat dikonfirmasi melalui direct message Instagram, Qorry mengaku tidak memiliki banyak bukti.
Bukti yang ada justru di ponsel lama yang hilang.
Hanya sedikit bukti yang tersisa.
”Untuk informasi sementara, yang bersangkutan masih dokter IGD di rumah sakit tempat saya dirawat dulu,” sebutnya.
Qorry juga mendapat kabar bahwa pihak rumah sakit sudah memanggil dr Ar pada Selasa malam (15/4), sekitar pukul 19.00.
Setelah pemanggilan itu, sang dokter diminta pulang.
Untuk langkah selanjutnya, Qorry mengaku akan membawa masalah itu ke ranah hukum.
”Kebetulan ada lawyer di Malang yang bersedia mendampingi secara sukarela,” imbuhnya.
Saat dikonfirmasi, Supervisor Humas Persada Hospital Sylvia Kitty Simanungkalit membenarkan bahwa Ar merupakan dokter di Persada Hospital.
Saat ini yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara sambil menunggu proses investigasi internal yang sedang berjalan.
”Kami menolak dengan tegas segala bentuk pelanggaran etik,” ucap Kitty.
Pihaknya juga membentuk tim investigasi internal untuk menelusuri kasus tersebut secara menyeluruh.
Apabila terbukti, mereka akan menindak tegas pelaku sesuai hukum yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Malang Raya dr Sasmojo Widito SpJP(K) mengaku belum mendapat laporan resmi dari Persada Hospital.
Dia justru mengetahui kasus tersebut dari pihak lain.
Menurut Sasmojo, IDI Cabang Malang masih akan melakukan rapat internal untuk membahas kasus di Persada Hospital. (mel/fat)
Editor : A. Nugroho