KABUPATEN - Setelah latihan, seluruh anggota Tim Arema FC duduk melingkar di depan pintu masuk lapangan Stadion Kanjuruhan, kemarin sore. Mereka memanjatkan doa bersama untuk korban tragedi Kanjuruhan. Itu jadi bagian dari peringatan 1.000 hari tragedi paling memilukan dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Perwakilan suporter dihadiri Ali Rifki, Presidium Aremania Utas. Dia yang biasanya serius, tampak lebih sering menundukkan kepala. ”Dalam adat Jawa, 1.000 hari merupakan hal yang sakral,” kata dia. Kegiatan doa bersama kemarin juga menjadi momentum pengingat terhadap korban dan tragedi tersebut.
”Tidak hanya dalam angka (1.000 hari) saja, di setiap kesempatan kami akan selalu mengutamakan doa untuk korban tragedi Kanjuruhan,” tambah dia. Doa bersama berlangsung sekitar 60 menit. Semua pemain ambil bagian.
Termasuk mereka yang ikut menyaksikan secara langsung kengerian tragedi Kanjuruhan. Seperti Jayus Hariono, Dedik Setiawan, Muhammad Rafli, Johan Ahmat Farizi, Achmad Figo, dan Dendy Santoso.
Di tempat lain, aksi Kamisan yang berlangsung di Jakarta dan Malang kemarin (26/6) juga mengangkat tema peringatan 1.000 hari tragedi Kanjuruhan. Di Jakarta, ratusan massa berkumpul di depan Istana Negara, di Jakarta Pusat sejak pukul 15.00. Massa menuntut keadilan untuk keluarga korban yang belum puas dengan putusan hukum terhadap tragedi kelam yang membuat 135 nyawa melayang itu.
Dengan spanduk bertuliskan angka 1.000 berwarna putih dan berlatar belakang hitam, dua perwakilan keluarga korban dari Malang ikut berorasi. Keduanya yakni Rizal Putra Pratama dan Bambang. Setelah berorasi di depan Istana Negara, mereka berpindah ke Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan. ”Di sana kami lanjutkan aksi dengan membuka pameran,” ujar Rizal.
Benda-benda bersejarah yang dipamerkan seperti dari ventilasi dari Gate 13, foto Alat Pemadam Api Ringan (APAR) kedaluwarsa yang dipakai aparat saat kejadian, hingga foto-foto dan baju korban. Semuanya dibawa Rizal dan Bambang dari Malang untuk ditunjukkan kepada khalayak.
Pameran tragedi Kanjuruhan itu diberi judul ”Seharusnya Tak Lega Setiap Laga”. Menyindir manajemen Arema FC yang tetap menjalankan aktivitas klub sepak bolanya. ”Besok kami akan menyalakan seribu lilin di depan Mabes Polri,” lanjut pemuda berusia 24 tahun itu.
Puluhan massa juga berkumpul di depan Balai Kota Malang sekitar pukul 16.00. Mereka hadir untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pembicaraan tentang tragedi Kanjuruhan tidak boleh berhenti.
”Aksi berorasi di pinggir jalan ini menjadi hal relevan untuk merawat ingatan,” kata Fahmi, Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Malang. Seperti diberitakan, tadi malam sejumlah keluarga korban juga menggelar tahlilan 1.000 hari. (aff/zan/by)
Editor : A. Nugroho