INDONESIA - Kerusuhan besar pecah di Indonesia ketika seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, Affan Kurniawan, tewas tertabrak kendaraan lapis baja milik polisi saat aksi protes di depan gedung DPR, Jakarta.
Insiden ini menyulut kemarahan publik, terutama di kalangan mahasiswa dan pengemudi ojol, yang sejak awal menuntut penghapusan tunjangan hunian anggota DPR senilai Rp 50 juta per bulan, anggaran yang dianggap jauh tidak seimbang dengan kondisi ekonomi masyarakat luas.
Sejak itu, aksi protes yang dipimpin mahasiswa dan sejumlah pengemudi sebelas berlanjut selama beberapa hari dan meluas ke berbagai kota seperti Surabaya, Bandung, hingga Bali.
Petugas menggunakan gas air mata, water cannon, dan barikade jalan untuk mencegah massa mendekat ke wilayah parlemen. Aksi makin beringas ketika demonstran membakar gedung DPRD di Makassar, menewaskan tiga aparatur sipil dan merusak fasilitas publik.
Merespons tekanan publik, Presiden Prabowo Subianto akhirnya mencabut tunjangan hunian dan menangguhkan kunjungan kerja ke luar negeri guna fokus mengendalikan situasi. Ia juga menvonis beberapa aksi massa sebagai “terorisme” atau “pengkhianatan.” Beberapa pejabat polisi pun ditahan dan kasus Affan sedang diselidiki secara transparan.
Namun para pemimpin mahasiswa menilai kebijakan pemerintah hanya mengurangi simbol-simbol dan belum menyentuh akar persoalan seperti oligarki politik, ketimpangan ekonomi, dan reformasi struktur negara. Sejumlah lembaga hak asasi manusia juga mengecam penggunaan bahasa represif oleh pemerintah.
Gangguan ini juga berdampak serius pada ekonomi dan mobilitas publik. Nilai tukar rupiah melemah tajam, Ekonomi tertekan, dan transportasi kota di berbagai wilayah sempat lumpuh karena demonstrasi dan sistem peringatan keamanan yang ketat. (cj)
Editor : A. Nugroho