WAGIR – Jembatan Babar yang menghubungkan dua desa, kemarin malam (8/9) ambrol. Ambrolnya jembatan sepanjang 18 meter dengan lebar 3 meter itu akibat dilewati truk bermuatan pasir. Truk dengan nopol BG 8035 UP yang melintas tersebut juga ikut terjatuh.
Pengemudi truk, Wijaya mengatakan, sebelumnya dia sempat ragu apakah jembatan tersebut kuat ketika dilintasi truk bermuatan berat. Versi dia, warga sekitar mengarahkan bahwa jembatan tersebut bisa dilintasi mobil, sehingga dia nekat melanjutkan perjalanan. Apalagi petunjuk jalan di google map juga mengarahkan dia melewati jembatan tersebut. “Saya tanya warga, katanya bisa dilewati mobil. Arahan google maps juga sama,” ujar Wijaya kemarin.
Pria asal Desa Sempalwadak, Kecamatan Bululawang itu mengaku terpaksa melewati jembatan tersebut lantaran jalur biasanya ditutup akibat hajatan warga. Berdasar arahan warga dan google map, dia melewati jalan alternatif tersebut.
Jembatan tersebut melintang di atas sungai babar. Menghubungkan Dusun Wadung, Desa Wadung, Kecamatan Pakisaji menuju Dusun Sukoanyar, Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir. “Di tengah jalan, tiba-tiba jembatan yang saya lewati ambrol jatuh bersamaan dengan truk saya,” kata Wijaya.
Wijaya mengaku baru pertama kali lewat jalan tersebut. Terlebih memang tidak ada petunjuk jalan, apalagi portal penghalang yang menandakan kendaraan seperti truk dilarang melintasi jembatan tersebut. “Seharusnya kalau ada acara warga, diberi petunjuk jalan. Ini sama sekali tidak ada,” keluhnya.
Srimami, 60, warga sekitar yang rumahnya berjarak 5 meter dari jembatan itu mengaku mendengar suara keras. Ketika keluar rumah untuk mengetahui sumber suara tersebut, dia terkejut melihat jembatan ambrol dan di antara patahan jembatan tersebut terdapat truk. Dia sempat menduga pengemudi truk meninggal akibat kecelakaan tersebut. Srimami dan warga sekitar langsung membantu Wijaya. Mereka bersyukur lantaran pengemudi truk hanya mengalami luka-luka ringan.
Dia mengatakan, jembatan berbahan besi itu sudah lama digunakan warga, termasuk dirinya yang berjualan jamu di Sukoanyar. Namun hanya sepeda motor. ”Jarang dilewati mobil. Paling hanya mobil kecil dan pikap muatan buah,” kata dia.
Di tempat yang lain, Kepala Desa (Kades) Wadung Mahyudin mengatakan, jembatan penghubung dua desa itu dibangun sejak 1992 oleh swadaya masyarakat dibantu. Juga ada bantuan dari pabrik gula (PG) Kebonagung. Menurut dia, keberadaan jembatan tersebut sangat penting. ”Sering dilewati para pekerja, termasuk petani sawah,” katanya.
Mahyudin menambahkan, jembatan tersebut menjadi solusi warga untuk memangkas jarak dan waktu. Jika tidak lewat jembatan tersebut, pengendara harus mengambil arah memutar dengan waktu tempuh 30 menit, sedangkan jika melewati jembatan hanya 10 menit. ”Maka dari itu peran jembatan penghubung tersebut memiliki peran penting untuk mobilisasi dua desa,” kata dia.
Mahyudin membeberkan, jembatan itu sebenarnya hanya boleh dilalui kendaraan roda dua. Sebelumnya dia sudah memasang patok atau penanda di persimpangan sebelum jembatan. Tujuannya agar mobil atau kendaraan roda empat tidak lewat jembatan tersebut. “Namun beberapa kali juga patok (penanda) dihilangkan oleh warga, sehingga terjadi seperti sekarang (ambrol),” kata Mahyudin. Dia mengestimasi perbaikannya membutuhkan dana lebih dari Rp 300 juta. (yad/dan)
Editor : A. Nugroho