KEPANJEN – Bumi Kanjuruhan termasuk daerah yang sering diterjang bencana alam. Dalam setahun, yakni 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 248 kali bencana. Mayoritas gempa bumi, yakni 187 kali kejadian (selengkapnya lihat grafis)
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang Purwoto memaparkan upaya penanggulangan bencana. Salah satunya memfokuskan pada mitigasi. Hal itu terlihat dari pembentukan 114 desa tangguh bencana (Destana). “Tahun 2025 lalu ada tiga destana yang kami danai secara aktif. Tahun ini kemungkinan ada lima,” ujarnya.
Dia mengatakan, pembentukan destana meningkatkan kewaspadaan masyarakat terutama di daerah rawan bencana. Mereka dituntut bisa mandiri untuk menanggulangi bencana. ”Paling tidak ya tahu cara menyikapi bencana yang terjadi dan bisa memberi pertolongan pertama,” terangnya.
Selain itu, dia melanjutkan, tiap desa juga diminta menginventarisasi alat-alat yang berguna, seperti gergaji, palu, hingga kendaraan roda empat untuk evakuasi saat bencana terjadi.
Di samping itu, pihaknya juga mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim untuk merekayasa hujan. Yaitu dua pesawat yang disiagakan di pesisir pantai selatan untuk menabur garam atau kapur saat diperlukan. “Per hari, operasionalnya mencapai Rp 40 juta untuk dua pesawat,” lanjut Purwoto.
Pesawat beroperasi ketika awan mendung mulai berkumpul di atas laut. Pesawat siaga menaburkan garam agar cepat terjadi hujan dan awan tidak sampai ke daratan. Apabila awan mendung sudah telanjur di atas daratan, dia mengatakan, bakal ditaburi kapur agar awan menyebar. Sehingga hujan bisa merata dan tidak deras di titik tertentu saja.
Disinggung mengenai titik rawan bencana, dia menyebut 17 kecamatan. Mulai bencana angin kencang, banjir, hingga tanah longsor. “Untuk wilayah rawan bencana tetap sama, ada di daerah pesisir dan pegunungan,” beber Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan. Untuk bencana rawan longsor adalah Kecamatan Ngantang, Pujon, dan Kasembon.. Sementara Pakis, Bululawang, dan Gondanglegi rawan tersapu angin kencang.(aff/dan)
Editor : Aditya Novrian