KEPANJEN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang memaparkan terjadi 187 kali bencana gempa bumi di sepanjang 2025. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Stasiun III Malang Mamuri menjelaskan, berdasar peta distribusi episenter atau pusat gempa bumi, kejadian gempa tersebut sebagian besar berpusat di laut selatan Pulau Jawa.
“Gempa-gempa itu rata-rata memiliki magnitude (kekuatan) di bawah 5 Skala Richter (SR) dan tidak dirasakan masyarakat,” kata dia.
Namun, dia melanjutkan, ada juga gempa yang dirasakan masyarakat. Pada 2025 lalu, terdapat empat kali gempa yang dirasakan masyarakat. Salah satunya gempa bumi berkekuatan 4,8 SR yang terjadi pada 11 September 2025 lalu. Gempa tersebut berlokasi di laut jarak 152 kilometer arah tenggara Kabupaten Malang dengan kedalaman 63 kilometer.
Gempa bumi tersebut merupakan jenis gempa bumi menengah yang berdampak dan dirasakan di daerah Kabupaten Malang dengan skala intensitas III MMI (Modified Mercally Intensity). Artinya, getaran dirasakan nyata dalam rumah seperti ada truk yang lewat. Sedangkan di Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar, gempa dirasakan dengan skala intensitas II MMI. Artinya, getaran dirasakan beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Sementara di Kota Malang, dengan skala intensitas II-III MMI.
Mamuri menjelaskan, gempa bumi tersebut tercatat melalui sensor. BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang memiliki sekitar 20 sensor. Tiga sensor di antaranya berada di Bumi Kanjuruhan, yakni Gedangan dan Poncokusumo. “Getaran tanah bisa dikatakan gempa ketika enam sensor yang saling berdekatan tersebut sama-sama mendeteksi gempa. Kalau hanya satu, bisa saja hanya ada truk lewat atau sejenisnya,” kata dia.(yun/dan)
Editor : Aditya Novrian