MALANG KOTA – Gempa bumi yang terjadi pada Selasa (27/1) pagi berdampak pada operasional perjalanan kereta api di wilayah Malang. Sedikitnya lima kereta relasi Malang terpaksa berhenti sementara untuk memastikan kondisi jalur, sarana, dan prasarana perkeretaapian dalam keadaan aman.
Gempa tercatat terjadi sekitar pukul 08.22. Tak berselang lama, PT Kereta Api Indonesia (KAI) langsung melakukan langkah pengamanan dengan menghentikan sejumlah perjalanan kereta. Pemberhentian dilakukan baik di stasiun maupun di petak jalan sesuai posisi masing-masing rangkaian saat kejadian.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Pacitan, Getaran Terasa hingga Malang Raya
Lima kereta yang sempat berhenti sementara tersebut terdiri dari Kereta Api Matarmaja relasi Malang–Pasarsenen yang berhenti selama 40 menit. Selanjutnya Kereta Api Penataran relasi Surabaya Kota–Malang–Blitar berhenti sekitar 35 menit.
Selain itu, Kereta Api Ijen Ekspres relasi Ketapang–Malang juga diberhentikan sementara selama 29 menit. Kereta Api Betmakola Tanker yang mengangkut bahan bakar minyak tercatat berhenti selama 28 menit. Sementara Kereta Api Kertanegara relasi Purwokerto–Malang berhenti sekitar 21 menit.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono mengatakan, penghentian sementara dilakukan sebagai prosedur standar keselamatan pascagempa. Langkah tersebut bertujuan memastikan tidak ada gangguan pada jalur rel, jembatan, maupun fasilitas pendukung lainnya.
”Masing-masing kereta ada yang berhenti di stasiun dan ada yang berhenti di petak jalan. Kami melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi benar-benar aman,” ujar Mahendro.
Baca Juga: BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Catat Catat Ada Total 179 Gempa Bumi dalam 11 Bulan
Pemberhentian kereta berlangsung mulai pukul 08.23 hingga 09.01. Setelah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan tidak ditemukan gangguan, perjalanan kereta kembali dilanjutkan secara bertahap.
Mahendro menegaskan, keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama KAI. Setiap potensi risiko harus dipastikan terlebih dahulu sebelum perjalanan dilanjutkan. (mel/adn)
Editor : Aditya Novrian