KEPANJEN – Meskipun musim hujan, angka kebakaran di Bumi Kanjuruhan masih tinggi. Dalam kurun hampir tiga bulan, Satpol PP Kabupaten Malang mencatat ada 19 kali kebakaran. Dua nyawa melayang diamuk si jago merah.
”Mayoritas terjadi pada Januari dan Februari lalu. Untuk Maret masih nihil kejadian,” ujar Komandan Peleton (Danton) Damkar Satpol PP Kabupaten Malang Andik Minarko beberapa waktu lalu.
Dari rentetan kejadian tersebut, mayoritas menyasar permukiman dan industri. Masingmasing terdapat lima kasus. Kemudian sisanya menghanguskan kawasan pertokoan, usaha rumah makan atau restoran, dan kendaraan
Tingginya kasus kebakaran tidak dibarengi kecepatan respons penganan.Dari 19 kasus tersebut, hanya 7 yang tertangani sebelum 15 menit. Andik mengungkap bahwa masih banyak peristiwa yang ditangani tidak memenuhi standar kecepatan.
Baca Juga: Data Damkar Kabupaten Malang: 5 Kecamatan Dilanda Kebakaran
Tidak tercapainya respond time 15 menit ditengarai karena jarak. “Dalam banyak kejadian, jaraknya jauh dari pos atau mako damkar terdekat,” ucap dia.Wilayah-wilayah tempat kejadian kebakaran yang tergolong jauh selama tiga bulan adalah Bantur dan Ngajum dengan masingmasing 2 kejadian. Lalu Kromengan, Poncokusumo dan Gedangan dengan satu kejadian.
Sisanya, Singosari 4 kejadian. Lalu 2 kejadian masing- masing di Bululawang dan Karangploso. ”Kemudian 1 kebakaran di Gondanglegi, Kepanjen, Lawang, dan Wagir,” terangnya.
Disinggung mengenai fatalitas, dia menyebut tidak ada korban jiwa. Namun ada yang terluka akibat amukan si jago merah. “Satu kejadian saja di ruko dekat Pasar Wonokerto, Kecamatan Bantur. Kejadiannya pada 23 Februari lalu,” ungkap Andik.
Dalam kejadian tersebut, api berasal dari bengkel tambal ban. Dalam hal ini, botol spirtus tumpah mengenai api di tungku tambal ban dan meluas hingga menyambar bensin eceran di samping. Dua orang lakilaki asal Wonokerto, Nuri, 35, dan Wawan tersambar di tangan dan punggung. Pada akhirnya, api melalap empat ruko.
Baca Juga: DPRD Kabupaten Malang Wacanakan Damkar Menjadi Dinas
Andik menyebut, kerugian material akibat 19 kali kebakaran tersebut mencapai Rp 3,8 miliar. Kebanyakan angka tersebut berasal dari kebakaran kandang ternak. Namun semua peristiwa tersebut terjadi kala masih dalam musim hujan dan pancaroba. Ketika sudah kemarau, potensi kebakaran diperkirakan bakal meningkat. “Yang patut diwaspadai ini nanti kebakaran lahan,” tandas Andik. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho