BNPB Siapkan Hujan Buatan, Karhutla Bromo Masih Meluas

Aqila Sahira Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Tim melakukan pemadaman di area wisata Gunung Bromo
Tim melakukan pemadaman di area wisata Gunung Bromo

MALANG, RADAR MALANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, masih terus meluas hingga Kamis (6/8/2026).

Titik api yang mulai muncul sejak Senin (3/8) pukul 17.00 WIB kini sudah membakar sekitar 70 hektare lahan yang tersebar di Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang. Sampai saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat kebakaran tersebut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah cepat dengan menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan sebagai salah satu cara mempercepat pemadaman. Operasi ini digarap bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kondisi awan di sekitar lokasi kebakaran.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan bahwa OMC belum bisa langsung dijalankan karena kondisi awan hujan di sekitar Bromo belum memenuhi syarat untuk disemai. Menurutnya, teknik ini hanya efektif kalau ada potensi awan yang cukup tebal dan siap dipicu jadi hujan.

Baca Juga: Kebakaran Bromo Meluas hingga 50 Hektare Lahan, BNPB Berencana Lakukan Waterbombing Pakai Dua Helikopter

Dikutip dari Kompas.com. “Kami sudah berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan operasi modifikasi cuaca. Tetapi, sampai siang ini masih belum ada pertumbuhan awan hujan, sehingga dalam beberapa hari operasi modifikasi cuaca belum bisa diselenggarakan,” ujar Suharyanto.

Selain hujan buatan, BNPB juga mengerahkan dua helikopter water bombing untuk memadamkan api dari udara. Kombinasi OMC dan water bombing ini diharapkan bisa menjangkau titik api yang berada di medan terjal dan sulit diakses tim darat, supaya kebakaran tidak merembet ke kawasan hutan konservasi lain di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Penanganan darurat ini didukung payung hukum dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur lewat Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 tentang status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla, yang berlaku 180 hari sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026. Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga menerbitkan Keputusan Bupati Nomor 300.2/326/426.32/2026 dengan masa berlaku hingga 5 Oktober 2026.

Status siaga darurat ini mempermudah akses bantuan dari pemerintah pusat, mulai dari armada helikopter sampai teknologi modifikasi cuaca. Sebagai langkah antisipasi, TNBTS menutup sementara sejumlah jalur wisata, termasuk jalur Jemplang, demi memberi ruang gerak lebih aman bagi tim gabungan yang bekerja di lapangan.

Baca Juga: Ini Penyebab Rumah Warga Singosari Malang Kebakaran, Kerugian Mencapai Puluhan Juta Rupiah

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat kondisi ini bertepatan dengan puncak musim kemarau yang membuat vegetasi kering dan mudah terbakar. Warga dan wisatawan juga diminta mematuhi arahan penutupan kawasan wisata sampai situasi benar-benar terkendali.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Karhutla Bromo Modifikasi Cuaca Water Bombing BNPB gunung bromo