Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Prestianni Rule Jadi Sorotan, Aturan Baru FIFA Ancam Kartu Merah bagi Pemain yang Tutup Mulut

Sekar Hayyu W. • Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:00 WIB
Prestianni Rule menjadi salah satu regulasi baru yang diterapkan di Piala Dunia 2026 (Magnific).
Prestianni Rule menjadi salah satu regulasi baru yang diterapkan di Piala Dunia 2026 (Magnific).

MALANG, RADAR MALANG – Selain menghadirkan format baru dengan 48 peserta, Piala Dunia 2026 juga memperkenalkan sejumlah pembaruan dalam penegakan disiplin pertandingan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah aturan yang dikenal luas sebagai Prestianni Rule, yakni regulasi yang memungkinkan pemain menerima kartu merah apabila sengaja menutup mulut saat berbicara dalam situasi konfrontasi dengan lawan.

Aturan tersebut diterapkan FIFA bersama International Football Association Board (IFAB) sebagai upaya mencegah pemain menyembunyikan ucapan yang mengandung unsur rasisme, homofobia, diskriminasi, maupun penghinaan verbal dari sorotan kamera pertandingan.

Baca Juga: Joyland Fest 2026 Hadirkan Slowdive Hingga Caribou, Ini Jadwal serta Harga Tiketnya

Lahirnya aturan ini tidak lepas dari insiden yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dalam laga play-off Liga Champions UEFA 2026 melawan Real Madrid. Saat itu, Prestianni diduga melontarkan ucapan yang bersifat menghina kepada Vinícius Júnior sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

Karena gerakan tersebut menghalangi pembacaan gerak bibir melalui rekaman pertandingan, UEFA harus melakukan penyelidikan untuk memastikan isi percakapan sebelum menjatuhkan hukuman. Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu alasan IFAB mempercepat penerapan regulasi baru agar pelanggaran serupa lebih mudah ditindak pada masa mendatang.

Penerapan aturan tersebut pertama kali terjadi di Piala Dunia 2026 dalam pertandingan Grup D antara Paraguay melawan Turki. Penyerang Paraguay, Miguel Almirón, menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah berdasarkan aturan ini setelah tertangkap kamera menutupi mulut ketika beradu argumen dengan pemain Turki, Mert Müldür.

Melalui pemeriksaan Video Assistant Referee (VAR), wasit diminta meninjau ulang insiden tersebut di monitor tepi lapangan. Setelah melakukan peninjauan, wasit memutuskan memberikan kartu merah langsung kepada Almirón. Ia juga dijatuhi sanksi larangan bermain satu pertandingan.

Tak lama setelah insiden tersebut, aturan yang sama kembali menjadi bahan perdebatan saat Inggris menghadapi Ghana. Gelandang Inggris, Jude Bellingham, terlihat menutupi mulut ketika berbicara dengan Jordan Ayew. Momen itu memicu pertanyaan dari banyak penggemar karena Bellingham tidak menerima kartu merah seperti Almirón.

Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, sebenarnya telah menjelaskan sebelum turnamen dimulai bahwa gestur menutup mulut tidak otomatis dianggap sebagai pelanggaran. Menurutnya, yang menjadi perhatian adalah konteks saat gestur tersebut dilakukan.

"Pemain tetap boleh menutupi mulut dengan tangan atau jersey karena mereka bisa saja sedang berbicara dengan teman. Jadi, jika percakapannya bersifat biasa atau bersahabat, mereka dapat terus melakukannya tanpa masalah," ujar Collina.

Dalam kasus Bellingham, perangkat pertandingan menilai tidak terdapat unsur konfrontasi maupun permusuhan antara dirinya dan Jordan Ayew. Interaksi keduanya dianggap sebagai percakapan biasa sehingga tidak memenuhi kriteria penerapan Prestianni Rule. Berbeda dengan Almirón yang melakukan gestur serupa di tengah situasi adu argumen yang memanas.

Meski mulai diterapkan di Piala Dunia 2026, aturan ini masih memunculkan perdebatan. Sejumlah pihak menilai regulasi tersebut berpotensi disalahgunakan, misalnya ketika pemain sengaja mengajak lawannya berbicara lalu melaporkan gestur menutup mulut kepada wasit agar lawannya mendapat kartu merah.

Baca Juga: 10 Deretan Bakso Favorit yang Selalu Ramai Pengunjung di Malang!

Saat ini, Prestianni Rule masih bersifat opsional atau opt-in bagi setiap kompetisi. Artinya, penyelenggara turnamen dapat memilih untuk menerapkannya atau tidak. Karena itu, masih menjadi pertanyaan apakah kompetisi domestik, termasuk Liga Primer Inggris, akan mengadopsi aturan tersebut mengingat potensi kontroversi dalam penerapannya.

Editor : Aditya Novrian
#Prestianni Rule #Peraturan Baru #piala dunia 2026 #FIFA