Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Piala Dunia 2026 Diterjang Heat Dome, Suhu di Kota Tuan Rumah Diperkirakan Capai 43 Derajat Celsius

Sekar Hayyu W. • Selasa, 30 Juni 2026 | 22:47 WIB
Panas ekstrem, heat dome picu suhu sangat tinggi di sejumlah kota tuan rumah piala dunia 2026 (Magnific).
Panas ekstrem, heat dome picu suhu sangat tinggi di sejumlah kota tuan rumah piala dunia 2026 (Magnific).

 MALANG, RADAR MALANG – Persaingan di babak gugur Piala Dunia 2026 tak hanya diwarnai duel sengit antartim. Turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko juga dihadapkan pada ancaman cuaca panas ekstrem akibat fenomena heat dome yang diperkirakan melanda sejumlah kota penyelenggara dalam beberapa hari ke depan.

Fenomena heat dome merupakan kondisi ketika sistem tekanan udara tinggi menjebak udara panas dan kelembapan di suatu wilayah sehingga suhu terus meningkat dan sulit turun, termasuk pada malam hari. Kondisi ini diperkirakan berdampak pada sejumlah kota yang menjadi tuan rumah pertandingan, seperti Kansas City, Philadelphia, East Rutherford (New Jersey), hingga Toronto.

Baca Juga: Gagal Eksekusi Adu Penalti saat Belanda Hadapi Maroko, Anak Patrick Kluivert Disorot

Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat memperkirakan indeks panas atau heat index di beberapa wilayah dapat mencapai 105 hingga 115 derajat Fahrenheit, atau sekitar 40,5 hingga 46,1 derajat Celsius. Suhu yang dirasakan tubuh bisa jauh lebih tinggi dibandingkan suhu udara sebenarnya karena dipengaruhi kelembapan yang tinggi.

Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi memengaruhi performa pemain, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi suporter, relawan, dan petugas yang berada di area stadion, terutama stadion terbuka. Paparan panas berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) apabila tidak ditangani dengan baik.

Sebagai langkah antisipasi, FIFA tetap menerapkan cooling break atau jeda minum pada setiap pertandingan. Kebijakan tersebut telah diberlakukan sejak awal turnamen sebagai upaya menjaga kondisi fisik pemain ketika bertanding dalam cuaca panas. Selain itu, sejumlah kota tuan rumah juga menambah titik penyediaan air minum, area berteduh, dan layanan medis bagi suporter.

Baca Juga: Norwegia vs Pantai Gading: Erling Haaland Jadi Andalan untuk Buru Tiket 16 Besar

Meski beberapa pertandingan dimainkan di stadion beratap dengan pengaturan suhu, seperti di Atlanta, Dallas, dan Houston, banyak laga lainnya berlangsung di stadion terbuka sehingga pemain dan penonton tetap harus menghadapi cuaca panas saat datang maupun meninggalkan arena pertandingan.

Para ahli iklim menilai fenomena cuaca ekstrem seperti heat dome menjadi tantangan baru bagi penyelenggaraan turnamen olahraga internasional. Mereka mengingatkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama dibandingkan sebelumnya, sehingga perlindungan terhadap pemain dan suporter menjadi aspek yang semakin penting dalam penyelenggaraan kompetisi besar seperti Piala Dunia.

Editor : Aditya Novrian
#Heat dome #Panas ekstrem #piala dunia 2026 #FIFA