MALANG, RADAR MALANG – Peta persaingan Piala Dunia 2026 mulai berubah. Dua kekuatan tradisional Eropa, Belanda dan Jerman, harus mengakhiri perjalanan lebih cepat usai kalah lewat drama adu penalti pada babak 32 besar. Hasil tersebut bukan sekadar menghadirkan kejutan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai masih sekuat apa dominasi tim-tim Eropa di panggung sepak bola dunia.
Jerman menjadi salah satu tim unggulan pertama yang tersingkir setelah takluk dari Paraguay melalui adu penalti. Pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu sebelum Paraguay menang 4-3 dalam tos-tosan. Kekalahan ini terasa semakin pahit karena menjadi kegagalan pertama Jerman dalam adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia.
Tak lama berselang, Belanda mengalami nasib serupa. Tim Oranye gagal melangkah ke babak 16 besar setelah ditahan imbang 1-1 oleh Maroko sebelum akhirnya kalah 2-3 melalui adu penalti. Pelatih Ronald Koeman bahkan mendapat sorotan karena memilih pendekatan bermain yang lebih defensif, keputusan yang dinilai menyimpang dari identitas menyerang Belanda.
Tersingkirnya dua negara tersebut menjadi sinyal bahwa persaingan di Piala Dunia 2026 semakin merata. Negara-negara yang selama ini berstatus kuda hitam mulai menunjukkan kemampuan bersaing dengan kekuatan tradisional. Paraguay tampil disiplin dalam bertahan dan efektif memanfaatkan momentum, sementara Maroko kembali membuktikan bahwa keberhasilan mereka dalam beberapa turnamen terakhir bukanlah kebetulan.
Fenomena ini juga membuat dominasi Eropa di fase gugur mulai dipertanyakan. Meski masih memiliki wakil seperti Prancis, Inggris, Spanyol, Portugal, Belgia, dan Swedia yang masih bertarung, gugurnya Jerman dan Belanda memperlihatkan bahwa nama besar tidak lagi menjadi jaminan untuk melangkah jauh. Setiap pertandingan kini ditentukan oleh konsistensi permainan, efektivitas taktik, hingga ketenangan dalam situasi adu penalti.
Baca Juga: 3 Hidden Gem Wisata Alam di Malang, Cocok untuk Healing saat Akhir Pekan
Bagi Jerman, hasil ini memperpanjang tren mengecewakan setelah gagal bersinar dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir. Sementara bagi Belanda, eliminasi dini memunculkan evaluasi terhadap arah permainan tim serta masa depan Ronald Koeman sebagai pelatih kepala.
Dengan semakin banyaknya kejutan di babak gugur, Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas antarbenua mulai menipis. Tim-tim dari Afrika dan Amerika Selatan kini tak lagi sekadar menjadi penggembira, melainkan mampu menantang bahkan menyingkirkan raksasa-raksasa sepak bola Eropa.
Editor : Aditya Novrian