MALANG, RADAR MALANG – Kehadiran Video Assistant Referee (VAR) awalnya diharapkan mampu mengurangi kesalahan wasit dan menghadirkan keputusan yang lebih adil di lapangan. Namun, sepanjang gelaran Piala Dunia 2026, teknologi tersebut justru beberapa kali memicu perdebatan.
Sejumlah keputusan yang diambil melalui bantuan VAR menuai protes dari pemain, pelatih, hingga federasi sepak bola. Bahkan, beberapa insiden menjadi perbincangan luas di media sosial karena dinilai memengaruhi jalannya pertandingan dan nasib sejumlah tim peserta.
Berikut deretan kontroversi VAR yang paling banyak menyita perhatian sepanjang Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Fakta! Ini 5 Alasan Spanyol Harus Takut Lawan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2026
Gol Iran Dianulir saat Menghadapi Belanda
Salah satu kontroversi pada fase grup terjadi ketika Iran harus menerima kenyataan gol mereka dianulir setelah peninjauan VAR. Keputusan tersebut memicu protes karena banyak pihak menilai pelanggaran yang terjadi sebelumnya tidak cukup signifikan untuk membatalkan gol. Insiden ini pun memicu perdebatan mengenai konsistensi penggunaan VAR.
Gol Vinicius Junior Dianulir
Brasil juga sempat dibuat geram setelah gol Vinicius Junior dianulir akibat keputusan VAR. Federasi Sepak Bola Brasil bahkan disebut meminta evaluasi terhadap penggunaan teknologi tersebut karena menilai terdapat inkonsistensi dalam penerapan aturan.
Penalti Kontroversial Belgia atas Senegal
Pertandingan Belgia melawan Senegal menghadirkan salah satu momen paling kontroversial. Wasit awalnya membiarkan permainan berlanjut sebelum akhirnya melakukan on-field review selama beberapa menit.
Setelah peninjauan yang cukup lama, Belgia mendapatkan hadiah penalti yang kemudian memicu kritik dari berbagai pihak karena dinilai terlalu berlebihan dan mengganggu ritme pertandingan.
Gol 'Ujung Kuku' dan Offside yang Terlalu Tipis
Piala Dunia 2026 juga diwarnai sejumlah keputusan offside dengan margin yang sangat tipis. Penggunaan teknologi semi-automated offside beberapa kali menjadi sorotan karena menganulir gol akibat posisi pemain yang hanya berbeda beberapa sentimeter.
Banyak pengamat menilai keputusan tersebut memang sesuai aturan, tetapi mengurangi esensi permainan karena gol dianulir akibat situasi yang nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang.
Messi Lolos dari Kartu Merah
Salah satu keputusan yang paling banyak diperbincangkan melibatkan Lionel Messi. Kapten Argentina itu dinilai beruntung karena tidak mendapatkan kartu merah usai melakukan pelanggaran terhadap pemain Aljazair pada fase grup.
Meski tayangan ulang menunjukkan adanya kontak yang cukup keras, VAR memutuskan tidak merekomendasikan peninjauan lebih lanjut. Keputusan tersebut memicu berbagai teori dan tudingan bahwa Argentina mendapat perlakuan berbeda selama turnamen.
Gol Mesir Dianulir saat Melawan Argentina
Kontroversi lain yang melibatkan Argentina terjadi pada babak 16 besar melawan Mesir. Saat unggul 2-0, Mesir sempat mencetak gol tambahan, tetapi dianulir setelah peninjauan VAR karena dianggap terjadi pelanggaran dalam proses serangan.
Keputusan tersebut memicu kemarahan kubu Mesir, terlebih setelah Argentina mampu bangkit dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-2. Federasi Sepak Bola Mesir bahkan mengajukan keluhan resmi kepada FIFA terkait kepemimpinan wasit.
Selain itu, Mesir juga merasa dirugikan karena tidak memperoleh penalti pada menit-menit akhir pertandingan. Sejumlah mantan pemain dan pengamat sepak bola turut mempertanyakan konsistensi keputusan tersebut.
Gol Jude Bellingham ke Gawang Norwegia
Kontroversi terbaru terjadi saat Inggris mengalahkan Norwegia di perempat final. Gol penyeimbang yang dicetak Jude Bellingham memicu perdebatan setelah bola diduga sempat mengenai kabel kamera atau spidercam sebelum proses gol terjadi.
Namun, FIFA kemudian menjelaskan bahwa data dari teknologi Connected Ball tidak menunjukkan adanya kontak antara bola dan kabel kamera sehingga gol tetap dinyatakan sah. Meski demikian, keputusan tersebut masih menjadi perdebatan hingga saat ini.
VAR Dinilai Terlalu Banyak Mengintervensi Pertandingan
Di tengah berbagai kontroversi tersebut, muncul kritik bahwa VAR mulai terlalu banyak mengintervensi jalannya pertandingan. Sejumlah pengamat menilai teknologi yang seharusnya membantu wasit justru menjadi "bumerang" karena menciptakan kontroversi baru.
Pemeriksaan yang terlalu lama, keputusan offside yang sangat tipis, hingga inkonsistensi dalam interpretasi pelanggaran membuat banyak pihak mempertanyakan efektivitas penggunaan VAR di Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Diego Landis Masuk Daftar Pemain Arema FC Tertinggi Musim 2026/2027
Meski demikian, FIFA tetap menegaskan bahwa penggunaan teknologi akan terus dikembangkan untuk meningkatkan akurasi pengambilan keputusan di lapangan. Turnamen edisi kali ini juga menjadi ajang penerapan sejumlah inovasi baru, seperti Connected Ball, sensor offside, hingga rekonstruksi 3D secara real-time.
Terlepas dari berbagai perdebatan yang muncul, satu hal yang pasti, Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa teknologi belum sepenuhnya mampu menghilangkan kontroversi dalam sepak bola. Sebaliknya, kehadiran VAR justru menghadirkan bentuk perdebatan baru mengenai batas antara akurasi teknologi dan interpretasi manusia dalam mengambil keputusan.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber