RADAR MALANG - Pada Rabu (23/10), sidang paripurna perdana Kabinet Merah Putih dilaksanakan di Kantor Presiden. Presiden kedelapan RI, Prabowo Subianto memberikan arahan tegas terkait penggunaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Dalam pembukaannya, Prabowo meminta laporan detail mengenai alokasi APBN dari setiap kementerian dan lembaga. Ia menekankan bahwa pengalokasian anggaran harus dilakukan dengan lebih efisien, terutama dalam hal “remeh” seperti kegiatan seremonial dan perjalanan dinas ke luar negeri.
Prabowo meminta Menteri Keuangan (Menkeu) dan seluruh jajaran menteri di kabinet menelusuri lagi APBN hingga Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
“Saya minta Menteri Keuangan. Saya minta semua menteri koordinator. Saya minta semua menteri telusuri lagi alokasi APBN. Pelajari lagi DIPA, pelajari lagi,” ujar Prabowo di hadapan kabinetnya.
Baca Juga: Pisahkan Kemendikbudristek Jadi Tiga Bagian, Prabowo Ingin Pendidikan Indonesia Semakin Optimal
Prabowo menyoroti sejumlah kegiatan yang menurutnya terlalu membebani anggaran negara tanpa memberikan dampak signifikan bagi pembangunan.
“Saya minta detail kegiatan-kegiatan yang terlalu seremonial, terlalu banyak seminar, terlalu banyak sarasehan, terlalu banyak konferensi, terlalu banyak perjalanan luar negeri, mohon dikurangi,” tegasnya.
Prabowo juga mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang memberi contoh dalam hal efisiensi anggaran. Fokus utama pemerintahannya, menurutnya, adalah meningkatkan pembangunan ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
"Jangan mengada-ada, (misalnya) studi banding belajar pramuka ke negara lain. Saya minta efisien," tambah Prabowo.
Sebelumnya, Prabowo menggarisbawahi bahwa kerja sama dan konsolidasi internal di setiap kementerian wajib ada untuk mencapai target pemerintahan.
Dalam rangka membangun hal tersebut, Prabowo mengumumkan rencana untuk mengadakan kegiatan pembekalan di Magelang, Jawa Tengah, dalam beberapa hari ke depan. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di kawasan akademi militer.
“Daerah Magelang merupakan sentra perlawanan kita terhadap penjajah sejak ratusan tahun lalu. Dikenal sebagai daerah perjuangan Pangeran Diponegoro di antara lima gunung, Magelang membawa aura tradisi keberanian, heroisme, dan cinta Tanah Air,” jelasnya. (Mahija)
Editor : Aditya Novrian