Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia dan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta menyepakati proyek pinjaman untuk mengurangi risiko bencana gunung berapi di Indonesia.
Nota kesepahaman tersebut ditandatangani pada Selasa oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Abdul Kadir Jailani, serta Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi.
Dalam konferensi pers, Ueda Hajime, Kepala Bagian Ekonomi Kedutaan Jepang, mengungkapkan bahwa proyek ini bernilai 23,148 miliar yen atau sekitar Rp2,38 triliun.
Pinjaman tersebut memiliki bunga tetap sebesar 1,6 persen dan masa pengembalian selama 30 tahun, termasuk masa tenggang (grace period) selama 10 tahun.
Proyek ini bertujuan mendukung keberlanjutan pembangunan sosial dan ekonomi di kawasan vulkanis Indonesia dengan fokus pada pengendalian erosi, pemeliharaan infrastruktur pengurangan risiko bencana, serta langkah-langkah nonstruktural untuk mitigasi dan pemulihan kerusakan akibat letusan gunung berapi.
Tiga gunung yang menjadi sasaran utama program ini adalah Gunung Kelud di Jawa Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Gunung Agung di Bali.
Pelaksanaan proyek yang didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) ini dijadwalkan berlangsung mulai Desember 2024 hingga Juli 2031.
Dalam kesempatan yang sama, Kemlu RI dan Kedutaan Jepang juga menandatangani nota untuk dua proyek pinjaman lainnya, termasuk program pengembangan terpadu pelabuhan perikanan dan pasar ikan internasional senilai 15,545 miliar yen atau sekitar Rp1,6 triliun.
Total nilai kedua proyek pinjaman tersebut mencapai 38,693 miliar yen atau Rp3,9 triliun.
Kesepakatan ini diharapkan mampu mempererat hubungan bilateral Indonesia-Jepang serta memperkuat mitigasi risiko di sektor bencana alam dan pengembangan sektor perikanan. (silvia)
Editor : Aditya Novrian