RADAR MALANG - Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah Menteri Luar Negeri (Menlu), Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) hingga jajaran mantan Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, hari Rabu (4/2). Pertemuan ini mempunyai tujuan untuk ruang diskusi mengenai situasi politik luar negeri Indonesia.
Menteri Luar Negeri, Sugiono, telah mengungkapkan bahwa tidak adanya pro kontra dalam ruang diskusi Prabowo Subianto bersama dengan Mantan Menlu-Wamenlu terkait Board of Peace atau disebut dengan Dewan Perdamaian. Dalam diskusi ini Menteri Luar Negeri mengakui terdapat perspektif yang berbeda meskipun pada akhirnya menghasilkan pandangan yang sama terkait hal tersebut.
Pertemuan ini melibatkan Pengamat Hubungan Internasional, Pegiat Diplomasi, Akademisi, Praktisi, serta Pimpinan dan Anggota Komisi I DPR RI. Menurut Sugiono, pertemuan ini terbuka secara langsung melalui ruang diskusi dua arah antara Prabowo dan para tokoh yang saling bertukar pendapat guna membangun pemahaman bersama.
Diskusi ini tidak ada pro dan kontra. Namun, terdapat pandangan yang berbeda meskipun akhirnya menghasilkan pandangan yang sama terkait arah politik Indonesia. Keikutsertaan Indonesia di Board of Peace ini merupakan sebuah langkah konkret untuk ikut serta secara langsung dalam mengurangi peperangan di Palestina.
Terkait keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) telah dijelaskan oleh Seska Teddy bahwa keanggotaan dalam forum tersebut tidak bersifat tetap serta Indonesia mempunyai kewenangan secara penuh untuk menarik diri sewaktu-waktu. Sementara dana sebesar USD1 miliar atau setara dengan Rp17 triliun yang telah dikaitkan dengan keanggotaan Board of Peace, Seskab mengungkapkan bahwa dana tersebut merupakan dana rekonstruksi Gaza dan tidak bersifat wajib.
Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) merupakan sebuah komitmen untuk membela Palestina serta menginginkan penyelesaian yang adil bagi Palestina.
Penulis : Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian