Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Zahwa, Si ”Spiderman” Cilik Peraih Juara Kejurprov

Mardi Sampurno • Sabtu, 28 Mei 2022 | 00:14 WIB
AMBISI JUARA DUNIA: Zahwa Gassani Sabata menunjukkan sertifikat penghargaan juara 3 tingkat provinsi lomba panjat tebing dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2022. (ZAHWA GASSANI FOR RADAR MALANG)
AMBISI JUARA DUNIA: Zahwa Gassani Sabata menunjukkan sertifikat penghargaan juara 3 tingkat provinsi lomba panjat tebing dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2022. (ZAHWA GASSANI FOR RADAR MALANG)
SEJAK belia, bakat Zahwa sudah terlihat oleh kedua orang tuanya. Menurut ibunya Dini Satyarini, mulai umur dua tahun, Zahwa suka memanjat di tangga rumah neneknya yang terbilang cukup ekstrem

Karena tidak ada pegangan di setiap anak tangga. Melihat anaknya seringkali melakukan hal serupa, hingga akhirnya pada tahun 2020 lalu, tepat pada usia 6 tahun. Zahwa dicoba diikutkan latihan panjat tebing, untuk menyalurkan bakatnya tersebut. “Daripada manjat gak karuan lebih baik saya salurkan kepada tempat yang sesuai dan aman,” kata Dini.

Dalam perjalanannya, untuk mencari klub panjat tebing Zahwa tidak lah mudah. Apalagi tahun 2020 lalu, di mana pandemi masih merebak di tanah air, sehingga membuat aktivitas sangat terbetas. Dini menceritakan, awalnya dia berkeliling ke kampus-kampus yang memiliki komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Namun dengan perkuliahan secara daring, membuat tidak ada aktivitas di lingkungan kampus. Akhirnya, Zahwa mendapat tempat latihan sementara di SMA Diponegoro Tumpang. Sebelum bertemu pelatihnya sekarang dan saat ini dia menjalani latihan rutin di belakang Gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Malang.

Selama sepekan, Zahwa menjalani latihan sebanyak empat kali dengan durasi enam jam. Akan lebih lama lagi ketika mendekati kejuaraan, porsi latihan akan ditambah hingga dua jam. Sehingga waktunya akan sangat tersita dengan menjalani latihan panjat tebing. Namun demikian, sekolah Zahwa tetap harus diperhatikan. “Sebelum dia latihan, sudah dipastikan tugasnya selesai terlebih dahulu,” tuturnya.

Photo
Photo
BERNYALI BESAR: Penampilan Zahwa Gassani Sabata menaklukkan puncak dinding pada Kejuaraan Tingkat Provinsi di Surabaya, 2021 lalu. (ZAHWA GASSANI FOR RADAR MALANG)

Sejak mengawali latihan pertama hingga saat ini, Dini bersyukur Zahwa tidak pernah menangis ketika menjalani latihan. Karena biasanya anak seumuran dia butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan ketinggian. Anak kesayangannya itu baru akan menangis jika tidak berhasil menyelesaikan tantangan ketika menjalani kejuaraan. Hal itu membuktikan tekad yang kuat dari gadis belia itu, dimana dia sangat ingin melewati tantangan di depannya.

Namun dengan usia yang masih sangat junior, tentu saja ada papan yang memang belum bisa dikuasai anak seusianya. “Ketika lima kali mencoba tidak bisa, baru dia akan nangis,” ucap perempuan berhijab itu. Diakui Dini, pada awalnya dia sangat khawatir, karena panjat tebing ini merupakan salah satu olahraga ekstrem. Apalagi di nomor boulder itu tidak ada tali pengaman, jika jatuh akan langsung ke matras. Untungnya Zahwa belum mendapatkan cedera serius selama latihan maupun turnamen. Karena untuk teknik jatuh juga ada latihan tersendiri. “Saya melihat Zahwa sangat senang ketika latihan, meskipun dengan durasi lama. Karena pelatih juga memberikan variasi, jadinya atlet tidak bosan,” terang perempuan yang berdomisili di Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis itu.

Menurut tim pelatih, Zahwa memiliki spesifikasi di nomor boulder dan lead. Sementara untuk speed saat ini masih kurang menguasai. Namun pada tiap latihan, Zahwa tetap diberi materi tentang speed. Karena bisa saja kemampuannya di speed bertambah, dan bisa menguasai semua nomor. “Jadi enam jam itu latihan speed boulder maupun lead,” terangnya.  Dia menambahkan, start awal Zahwa untuk berlatih panjat tebing sudah benar. Karena menurut tim pelatih, standar anak untuk mulai melakukan latihan serius itu pada usia 7 tahun. Sehingga nanti lebih memudahkan melihat bakat dan akan difokuskan di nomor sesuai bakat yang dimiliki.

Sebagai informasi, panjat tebing memiliki tiga nomor yang biasa dipertandingkan. Yakni nomor speed, lead dan boulder. Untuk speed tentu penilaian utama adalah kecepatan atlet untuk meraih garis finish di puncak dinding (wall). Sementara nomor lead juga dinilai waktu tercepat mencapai puncak, tetapi yang berbeda, atlet harus memasang sendiri tali pengaman. Terakhir boulder, kategori yang dilakukan tanpa tali, tapi dilengkapi dengan matras pendaratan untuk keamanan.

Dalam kategori ini, diperlukan teknik yang bagus dari atlet, agar bisa menaklukan dinding. Prestasi tertinggi yang diraih oleh Zahwa ketika menjadi juara tiga di Kejurprov tahun 2021 lalu. Lebih istimewa lagi, pada waktu itu Zahwa baru berusia 7 tahun, tapi mampu mengalahkan atlet lain yang berusia 8-10 tahun. Memang dari tim pelatih memutuskan untuk mengikutsertakan di level umur berikutnya. Agar bisa dinilai batas kemampuan atlet tersebut dan lawannya pasti lebih bagus dibanding bertanding dengan atlet yang seumuran.

Ketika ditanya bagaiamana prosesnya juara, Zahwa tampak masih malu-malu mengungkapkan. Maklum, gadis itu baru berusia 7 tahun. Namun tekadnya untuk menjadi atlet level dunia sudah terlihat sejak belia. Dia bahkan sudah memiliki dua atlet idola dan sering menonton trik atau cara atlet tersebut ketika menaklukkan arena panjat tebing (dinding). Dua atlet idola Zahwa adalah Arie Susanti dari Indonesia dan Marin Nakamu dari Jepang. “Tidak tahu (kenapa bisa juara),” jawab Zahwa singkat dengan malu-malu.

Sebagai orang tua, Dini juga tidak memperkirakan Zahwa bisa melaju sejauh itu di Kejurprov. Padahal lawannya merupakan atlet yang lebih tua dan berpengalaman. Selain itu, pada Kejurprov tahun lalu, anaknya baru menjalani latihan panjat tebing selama setahun. “Jadi mulai awal ya sekadar itu seleksi tingkat Malang dulu. Ternyata lolos dan di Jatim dapat medali perunggu, semua kaget,” tutur Dini.

Dia menambahkan, kalau level Kota Malang Zahwa selalu menjadi nomor satu di kelompok umurnya. Bulan depan, Zahwa bakal bertanding untuk pertama kalinya di tingkat nasional. Dia akan mengikuti festival panjat tebing di Jogjakarta. Sama seperti sebelumnya, Zahwa akan turun di nomor usia 10-11 tahun, dibanding mengikuti kategori usia 6-9 tahun. Dini menekankan, akan mendukung impian Zahwa sepenuhnya untuk menjadi atlet profesional. Karena dia melihat tekad yang kuat dari gadis kecil itu. Meskipun sebenarnya panjat tebing ini awalnya hanya untuk jadi hobi. Namun seiring berjalannya waktu, anak itu sudah mengatakan ingin menjadi atlet profesional ketika dewasa. “Tapi tetap sekolahnya harus diprioritaskan,” tekannya. (adk/abm) Editor : Mardi Sampurno
#Zahwa #Si ”Spiderman” Cilik #Kejurprov #radar malang