Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ini Harapan Ya’qud Ananda Gudban setelah ”Merdeka”

Bayu Mulya Putra • Kamis, 2 Juni 2022 | 21:39 WIB
KUMPUL KELUARGA: Ya’qud Ananda Gudban di rumahnya, kemarin. (NENY FITRIN/RADAR MALANG)
KUMPUL KELUARGA: Ya’qud Ananda Gudban di rumahnya, kemarin. (NENY FITRIN/RADAR MALANG)
BANYAK BERSYUKUR DAN NIKMATI HIDUP BARENG KELUARGA

Selama 4,2 tahun ”sekolah” di Lapas Medaeng dan Lapas Porong, Sidoarjo,
Ya’qud Ananda Gudban sejak 19 Mei lalu, resmi bebas. Apa harapan mantan anggota DPRD Kota Malang ini berikutnya? Berikut penuturannya secara khusus kepada Neny Fitrin, jurnalis Radar Malang di rumahnya, Jalan Ijen, Kota Malang, Rabu (1/6) pagi kemarin.

Bagaimana kabarnya Mbak Nanda (sapaan akrab Ya’qud Ananda Gudban)?

Alhamdulillah, akhirnya. Bisa kembali melihat jalan raya, orang berlalu lalang, melihat kebun, taman, dan tentu saja yang paling membahagiakan bisa berkumpul kembali dengan keluarga.

Bisa diceritakan bagaimana proses kepulangan dari Lapas Porong?

(Terdiam sejenak)….Itu sekitar 19 Mei lalu. Setelah mendapat kabar kepastian bisa keluar, sekitar pukul 09.00 saya siap-siap dan berpamitan dengan penghuni lain. Saat itu keluarga tidak saya kasih tahu karena khawatir tidak jadi dan tidak mau membuat mereka khawatir. Tepat pukul 10.00, ditemani seorang kerabat, saya keluar dari Lapas Porong. Tujuan pertama bertemu suami yang berada di Pasuruan (rumah mertua).

Bagaimana pertemuannya?

Jelas kaget sekali. Bahkan semula tidak menyadari dan mengira saya sebagai tamu. Begitu masker saya buka, suami sangat terkejut. Itu adalah moment paling membahagiakan bagi kami. Karena selama pandemi, sama sekali tidak boleh menjenguk.

Setelah itu?

Sekitar dua jam di Pasuruan, saya langsung ke Malang dan pulang ke rumah untuk bertemu anak-anak. Rasanya sudah tidak sabar. Sebelumnya mereka berpesan, kalau mau keluar diminta ngabari karena ingin bikin surprise. Rupanya kali ini saya yang malah bikin mereka kaget.

Bagaimana rasanya setelah sekian lama tidak bersama anak-anak?

Jangan ditanya sedihnya bagaimana, pasti sangat. Karena saya melewatkan banyak waktu tumbuh kembang mereka. Anak pertama, saya kehilangan moment ketika dia masuk SMA sampai lulus dan sekarang sudah kuliah. Sedangkan anak kedua, saya kehilangan masa-masa SMP-nya. Semua sudah besar, bahkan saya kalah tinggi dari mereka.

Agenda pertama setelah bertemu dengan suami dan anak-anak apa?

Di Malang saya hanya dua hari untuk mengurus dokumen dan sebagainya. Setelah itu saya langsung ke Kupang menengok ayah. Ayah sudah sepuh, sekitar 84 tahun, dan kondisinya sedang drop. Saya di sana sekitar satu minggu, baru setelah itu kembali ke Malang.

Artinya, baru tiga hari saja agak longgar ya?

Benar sekali. Baru tiga hari ini saya berkabar kepada teman-teman dekat. Mohon maaf karena banyak yang tidak punya kontaknya, sehingga tidak semua bisa dihubungi.

Apakah ada rencana lain setelah ini?

Tidak ada. Saya tidak punya rencana apa pun. Hanya ingin menikmati hari ini.

Misalnya di kemudian hari nanti ada yang merangkul kembali untuk berkecimpung di dunia  politik bagaimana?

Saya tidak memikirkan itu (berpolitik). Tidak ada bayangan tentang hari esok. Hanya ingin menikmati hari ini saja (kembali menegaskan).

Kenapa?

Kebebasan ini sangat mahal. Bagaimana saya bisa melihat dunia tanpa sekat dan kembali bersama keluarga. Karena selama 4,2 tahun, sejauh mata memandang yang tampak hanya tembok, jeruji besi, penjaga, dan ketatnya pemeriksaan. Alhamdulillah saya bisa menjalaninya. Politik memang yang membesarkan nama saya (sebelumnya Ketua Partai Hanura), tapi untuk saat ini, saya tidak mau berbicara tentang hal itu lagi.

Apa kesan mendalam selama di Lapas?

Namanya penjara, pasti sangat tidak enak. Semua serba dibatasi. Tapi saya ingin menegaskan bukan berarti tidak ada kebahagiaan di sana. Saya contohnya. Kebetulan saya salah satu penghuni yang dituakan. Selain menjadi imam salat sejak masuk, saya juga menjadi jujukan teman-teman untuk diskusi dan curhat beragam persoalan kehidupan. Saya juga mendirikan majelis pengajian, mengajar, aktif di olahraga, hingga mendatangkan pihak ketiga untuk melakukan acara di dalam Lapas. Mulai penyuluhan kesehatan, baksos, hingga keterampilan.  Karena banyak kegiatan, sehingga waktu terasa cepat berjalan. Tiba-tiba pagi datang, lalu siang menjelang, sore, malam, dan hari berganti kembali.

Kenangan lainnya?

Saya juga selalu tekankan kepada teman-teman sesama penghuni, jangan pernah bercerita tentang kesedihan di dalam lapas, ceritakan saja bahwa kita semua baik-baik saja. Makan cukup, istirahat cukup. Dan yang paling penting, bisa melakukan hal-hal yang mungkin saja tidak bisa dilakukan di luar. Salah satunya menjadi lebih kaya dari sisi rohani karena punya banyak waktu untuk mengkaji Alquran dan artinya.

Apa pesan untuk masyarakat Kota Malang?

Terima kasih, terima kasih atas support dan doanya selama ini. Saya tidak bisa membalas dengan apa pun. Pokoknya terima kasih banyak. (abm) Editor : Bayu Mulya Putra
#bebas #kasus korupsi #Lapas Porong #ya'qud ananda gudban #Lapas Medaeng #Lapas Sidoarjo