Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sehari Belajar 10 Jam, Kalahkan 17 Ribu Peserta

Mardi Sampurno • Kamis, 23 Juni 2022 | 19:15 WIB
MENUJU PENTAS DUNIA: Emilda Puteri Aulia menunjukkan penghargaan usai menjuarai salah satu lomba akademis nasional bertajuk Ruang Guru Competition.
MENUJU PENTAS DUNIA: Emilda Puteri Aulia menunjukkan penghargaan usai menjuarai salah satu lomba akademis nasional bertajuk Ruang Guru Competition.
Prestasi nasional diukir Emilda Puteri Aulia. Siswi MAN 2 Kota Malang terpilih menjadi perwakilan Indonesia di ajang Olimpiade Kimia Internasional pada bulan Juli mendatang. Sukses ini dia raih dengan perjuangan berat setelah melewati berbagai tahapan. Dia juga berhasil menyisihkan sekitar 17 ribu siswa yang mengikuti Kompetisi Sains Nasional (KSN) dari seluruh Indonesia. -ANDIKA SATRIA PERDANA-

Perjalanan Emilda menjadi perwakilan Indonesia di olimpiade tingkat internasional diawali pada bulan Juni 2021 lalu. Proses seleksi dilakukan melalui ajang KSN yang digelar oleh Puspernas (Pusat Prestasi Nasional). Berbagai tingkatan dilaluinya, dari tahapan sekolah, kabupaten dan kota, provinsi hingga terakhir yakni tingkat nasional pada bulan November.

Bahkan tak berhenti sampai di situ. Untuk mewakili Indonesia di ajang internasional, Emilda kembali harus menjalani seleksi dengan 17 siswa lainnya yang berhasil meraih medali. Hingga akhirnya tersisa empat siswa saja yang akan mewakili Indonesia di ajang International Chemistry Olympiad (IChO) ke-45. IChO adalah kompetisi akademis bidang ilmu kimia yang merupakan salah satu cabang dari Olimpiade Sains Internasional. IChO pertama kali diadakan di Prague, Czechoslovakia, pada tahun 1968. Tahun 2022 ini, kompetisi itu bakal digelar secara daring di Tianjin China mulai 10-18 Juli 2022.

Berhasil menjadi salah satu wakil Indonesia di olimpiade kimia terbesar di dunia itu bagaikan mimpi bagi Emilda. Meskipun dia sebelumnya pernah mengikuti olimpiade tingkat dunia lainnya pada jenjang SMP. Pada tahun 2018 lalu, Emilda mengikuti International Junior Science Olympiad (IJSO) di Botswana Afrika. Namun IChO ini tentunya lebih spesial, karena dirinya harus menyingkirkan beberapa lawan kuat hingga ribuan siswa dari seluruh Indonesia. Sebut saja lawan kuat dari SMA Petra Surabaya, dari Jakarta ada MAN Insan Cendekia dan SMA Penabur. "KSN lalu berjalan lancar, tapi kendalanya hanya di jeda pengumuman dari tingkat kota ke provinsi itu mepet. Sehingga persiapan sangat singkat. Alhamdulillah masih bisa meraih emas," ujarnya.

Menurutnya dengan adanya pandemi, juga membuat perubahan yang berarti dalam perlombaan dibandingkan saat dia SMP dulu. Tahun 2021 lalu, KSN digelar secara full daring. Sedangkan pada 2018, perlombaan sains yang diikuti Emilda pada jenjang SMP digelar secara luring. Sehingga membuat dirinya bisa mendatangi daerah-daerah yang belum pernah dikunjungi. Sedangkan dengan full daring, hanya laptop yang berada di depannya. "Serunya dulu itu bisa jalan-jalan ketika lomba sudah selesai. Kemarin ya tidak bisa, jadi rindu perlombaan secara offline sebenarnya," terangnya.

Namun ada keuntungan lain, kata Emilda, dengan adanya perlombaan secara daring, gadis berusia 18 tahun itu pernah dalam sehari bisa mengikuti 3 lomba sekaligus di hari yang sama. Hal itu tidak bisa dilakukan ketika perlombaan secara luring. Karena dalam sehari, hanya bisa maksimal mendatangi satu tempat perlombaan saja. "Keuntungan dari perlombaan secara daring itu lebih fleksibel. Meskipun pasti pusing pernah ikut tiga perlombaan dalam sehari, karena soalnya beda-beda," katanya, disertai tertawa kecil.

Diungkapkan Emilda, kunci dirinya berhasil menjadi perwakilan Indonesia pada olimpade internasional sebanyak dua kali utamanya karena doa orang tua. Selain itu, ketekunannya dalam belajar membantu dia bisa mengalahkan ribuan orang di ajang KSN beberapa waktu lalu. Meski tak ada perlombaan, Emilda rutin mengingat materi khususnya mata pelajaran kimia. Ditambah lagi, MAN 2 Kota Malang memberikan dukungan kepada setiap siswanya, dengan adanya ekstrakurikuler olimpiade. Sehingga setiap pekan, setidaknya 2 kali Emilda mengikuti pelatihan di ekskul tersebut. "Mulai kelas 10 saya ikut ekskul itu. Meskipun ada perlombaan, masih ada latihan soal-soal. Mungkin itu yang membantu saya hingga saat ini," ungkapnya.

Sementara persiapan ideal untuk mengikuti sebuah perlombaan, kata Emilda, kurang lebih secara intensif selama satu bulan. Biasanya tiap hari, durasi pelatihan selama dua jam atau tiga jam. Namun, khusus untuk persiapan turun di ajang IChO tahun ini, Imelda mengikuti beberapa tahapan pelatnas. Pekan ini, mulai tanggal 20-30 Juni, Emilda melakoni pelatnas periode ketiga. Di mana selama periode tersebut, dia mengikuti pelatihan sepuluh jam setiap harinya. "Mulai jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Tetapi ada waktu istirahat pada Dzuhur, Asar dan Maghrib," tuturnya.

Persiapan intensif ini demi mewujudkan target Emilda, yakni meraih medali emas di ajang internasional itu. Pasalnya, tahun 2021 lalu, perwakilan Indonesia hanya berhasil meraih 1 medali perak dan 3 perunggu di kejuaraan tersebut. Sehingga, diharapkan prestasi tahun ini ada peningkatan.

Dengan persiapan yang digeber bulan Juni dan pelaksanaan lomba pada bulan Juli, artinya Emilda juga harus merelakan masa liburannya untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Di saat teman-teman lainnya menikmati liburan, dirinya harus belajar mati-matian sebagai modal persiapan tampil di ajang internasional tersebut. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah berarti bagi Emilda, karena saat ini dirinya sedang berusaha menggapai mimpinya. Yakni mengikuti olimpiade internasional dan berhasil meraih medali emas pada kejuaraan bergengsi itu. "Nanti mungkin liburnya bisa digeser. Karena saya terpilih mewakili Indonesia, kesempatan ini harus benar-benar saya manfaatkan dengan baik," tandasnya. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#olimpiade #Internasional #prestasi #Nasional #kimia