ADITYA NOVRIAN
CARA belajar Emilda Puteri Aulia,18, sama seperti siswa kelas jurusan IPA pada umumnya. Menghafal dan menghitung rumus fisika, kimia, dan matematika sudah menjadi suguhan sehari-hari di ruang kelas. Namun untuk pelajaran kimia, dia punya motivasi lebih.
Bahkan bisa dibilang Emilda cukup berprestasi di sekolahnya, MAN 2 Malang. Pada 2021 lalu misalnya, dia berhasil mendapat medali emas Olimpiade kimia pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional. Meraih juara pertama olimpiade tingkat nasional menjadi langkah pertamanya untuk melangkah lebih jauh. Emilda terpilih untuk mewakili Indonesia bertarung di Olimpiade Kimia International atau International Chemistry Olympiad (IChO) di China setahun setelahnya.
Emilda tentu tak sendirian berjuang bersaing dengan 326 siswa dari 83 negara peserta. Dia berjuang dengan tiga siswa lain yang menjadi saingannya saat OSN. Tiga siswa yang menjadi timnya adalah Putra Widjaja dari SMA Yakobus, DKI Jakarta, Muhammad Dihya Aby Abdi Manaf dari SMA QSBS Al-Kautsar 561 Tasikmalaya dan Kevin Lius Bong dari SMAK Petra 1 Surabaya. Meski satu tim, saat lomba mereka tetap bersaing satu sama lain karena kejuaraan dilakukan secara individual.
Sebelum berlomba pada 10-17 Juli lalu, mereka menjalani pelatihan nasional (pelatnas) secara online selama tiga tahap. Tahap pertama dilakukan selama dua pekan dan tahap kedua dan ketiga dilakukan 10 hari. Dari pagi sampai malam harus mereka jalani bergelut dengan soal-soal kimia.
"Untuk jadwal pelatnas itu mulai jam 7.30-21.30 di sela-sela itu ada istirahatnya juga," kata Emilda.
Pelatnas yang memakan waktu cukup panjang membuatnya sempat merasa lelah. Tapi dia teringat memiliki tekad harus bisa mengharumkan negara dan sekolahnya. Apalagi dia memiliki motivasi lebih bisa mengalahkan peserta dari China.
Bukan tanpa alasan, peserta dari China kerap mendominasi posisi juara olimpiade kimia itu dari tahun ke tahun. Dengan itu, dia ingin mematahkan rekor dengan mencatatkan namanya di antara peserta dari negara lainnya. Targetnya, minimal bisa berada di tiga besar.
"Belajar sudah tentu dilakukan, tak hanya saat pelatnas. Bahkan setelah digembleng pembina (pelatnas) saya menambah jam belajar lagi," terang siswi asal Genteng, Banyuwangi itu.
Soal demi soal yang diberikan pembina dipelajari olehnya. Rumus-rumus kimia menjadi materi yang harus diingat Emilda. Dia pun totalitas untuk bisa menguasai rumus-rumus kimia dan materi pelajaran kimia lainnya. Tembok di kamarnya pun mau tak mau harus jadi korban.
"Tembok kamar di ma’had (asrama) saya pasang kata-kata motivasi dan rumus kimia, jadi kalau mau berkegiatan disematkan baca dulu," jelas putri dari pasangan Muhamad Khozin dan Umi Basiroh itu.
Selama sebulan, kebiasaan tersebut rutin dilakukan. Waktu satu bulan yang terbilang singkat itu jadi tantangan untuk Emilda. Sebab dia mendapat cerita dari teman-temannya pada pelatnas sebelumnya minimal tiga bulan. Tapi masalah itu bukan alasan baginya untuk mengeluh. Terpenting baginya saat itu adalah harus menang dan menang.
Hari yang dinanti Emilda pun tiba. Namun dia tak terbang ke Tianjin, China sebagai venue lomba. Sebab, acara olimpiade kimia itu dilakukan daring. China yang kembali mengalami peningkatan kasus Covid-19 mau tak mau harus menyelenggarakan lomba secara daring.
Emilda yang sudah terbiasa menyelesaikan berbagai soal kimia via daring tak kesulitan. Soal demi soal dia kerjakan. Sebanyak sembilan soal esai yang diberikan saat itu menurutnya ada yang sulit dan ada yang mudah.
"Saya fokus ke soal yang lebih mudah dulu, baru ke soal yang sulit. Paling sulit kimia kuantum dan kimia organik," kata Emilda.
Selama lima jam diberikan oleh panitia kepada seluruh peserta bisa menyelesaikan sembilan soal tersebut. Setelah berhasil menyelesaikan sembilan soal, Emilda pasrah dengan hasil akhir. Jika mendapat juara tentu senang. Tak juara pun tak masalah karena dia sudah berusaha semaksimal mungkin.
Namun saat pengumuman, dia terkejut namanya masuk jajaran tiga besar. Bahkan Emilda senang bisa berada di posisi kedua alias mendapat medali perak. Dia hanya kalah dari peserta Mongolia yang menjadi juara pertama. Sementara Emilda unggul dari peserta Hungaria dan Armenia yang berada di bawahnya.
Perasaannya pun senang. Target yang dia tetapkan bisa terwujud. Menjadi runner up sudah cukup membanggakan. Tentu hasil yang didapatkan bisa menjadi bekal di masa depan.
"Semoga ke depan bisa terus berprestasi dan jadi bekal untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi," tandasnya. (abm) Editor : Mardi Sampurno