Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sulap Limbah Popok Jadi Pot, Diapresiasi TV Malaysia dan Turki

Mardi Sampurno • Selasa, 9 Agustus 2022 | 18:54 WIB
JEBOL LAGI: Sejumlah pekerja Perumda Tugu Tirta melakukan perbaikan pipa yang jebol di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang kemarin siang (1/9). (ADITYA NOVRIAN/RADAR MALANG)
JEBOL LAGI: Sejumlah pekerja Perumda Tugu Tirta melakukan perbaikan pipa yang jebol di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang kemarin siang (1/9). (ADITYA NOVRIAN/RADAR MALANG)
Beragam apresiasi telah diterima Rudy Eko Prasetyo. Ini berkat inovasinya mengolah limbah popok bayi menjadi pot tanaman dan patung. Dia pun kini laris menjadi narasumber pelatihan di berbagai kota  

Tahun 2016 tepatnya bulan November telah menjadi titik awal terciptanya ide kreatif Eko. Di rumahnya, Dusun Klerek, Desa Torongrejo, RT 2, RW 2 Nomor 2 ini awalnya banyak terdapat kain atau handuk bekas. Akhirnya, dia mulai menciptakan sebuah pot bunga dari handuk bekas tersebut. Akan tetapi, membuat pot dari bahan handuk bekas ini berulang kali gagal. Sehingga, dia harus mencari bahan lain untuk mengubah sampah menjadi hal yang berguna.

Suatu ketika pria kelahiran Batu, 5 Mei 1970 ini menyusuri sungai yang ada di sekitar Kota Batu. Dia melihat onggokan limbah popok bayi. 

”Setiap 3 hari sekali, saya selalu rutin melakukan susur sungai. Ternyata, di sungai itu 70 persen sampah didominasi popok,” terang Koordinator Penyapuan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu ini. 

Tanpa berlama-lama, Eko langsung bergegas menuruni sungai dan mengambil sekumpulan popok itu. Dengan perlahan, dia mencuci satu per satu popok di aliran sungai. Sesampainya di rumah pun, popok tersebut disiram dengan air mengalir. Kemudian, direndam dalam adonan obat antibakteri selama 30 menit hingga 1 jam. 

”Fungsi obat antibakteri ini untuk membersihkan kuman yang menempel pada limbah popok. Selain itu, popok harus dijemur di terik sinar matahari,” ujar Eko. 

”Lalu, popok tersebut dicampurkan dengan lem dan semen untuk menjadi kreasi pot tanaman,” sambungnya lagi. 

Tak disangka, berkat ide memanfaatkan limbah popok menjadi pot tanaman ini, Eko memulai memproduksi massal dengan bekerjasama dengan Posyandu, Ibu-ibu PKK, dan Bank Sampah se-Kota Batu. Pasalnya, dia harus mendapatkan limbah popok untuk mengurangi sampah dan mengembangkan karya kreatifnya. 

Berawal dari 5 hingga 10 pot berbahan popok di tahun 2016, selama kurun tiga tahun Eko berhasil menciptakan 100 pot per harinya. Untuk harga pot rata-rata Rp 10 ribu (diameter 20 cm), Rp 20 ribu (diameter 30 cm) dan Rp 30 ribu (diameter 50 cm). 

Aksinya tersebut diapresiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu. Alhasil, satu per satu undangan untuk menjadi pembicara dan pelatihan pembuatan pot dari popok mulai berdatangan. 

”Waktu tahun 2018 hingga 2019, dalam sehari saya bisa mendapat telepon 5 hingga 10 kali. Saya tidak menyangka dampaknya dari sampah popok menjadi pot ini luar biasa,” terang ayah tiga anak ini. 

Pada 2018, Eko mulai mengisi acara pelatihan pembuatan pot dari popok di Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) seJawa Timur di Sengkaling. Karya milik Eko ini berhasil mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu, tahun 2019 Eko mulai sering menjadi pembicara di berbagai daerah. Yakni, Kota Batu, Malang, Probolinggo, Sampang (Madura), Mojokerto, Jogjakarta, Pekanbaru (Riau), hingga yang terbaru pada 23 Juli 2022 diundang untuk memberikan pelatihan pot dari popok oleh PT Paiton Energy. 

Dalam setiap pelatihan, Eko akan menjadi mentor yang memberikan contoh proses pembuatan pot dari popok. 

”Saat pelatihan kepada Bank Sampah PT Paiton Energy dan masyarakat sekitar, saya kaget dengan fakta bahwa limbah popok di sana selalu dibuang ke sungai ataupun laut. Padahal, limbah popok ini itu diperkirakan 100 tahun tidak dapat terurai,” jelasnya lagi. 

Selama pelatihan pembuatan pot, Eko selalu menekankan pada proses pencucian popok. Pasalnya, tahapan pencucian ini dinilai cukup lama. 

”Ya, selain memakan waktu yang cukup lama dalam pencucian dan perendaman obat antibakteri, ternyata banyak orang yang enggan untuk menyentuhnya karena bau dan kotor,” terang peraih penghargaan atas pengabdian pengelolaan lingkungan hidup dari Yayasan Ujung Aspal Provinsi Jawa Timur Tahun 2022 ini. 

Tak hanya menjadi pembicara, Eko pun juga sering diliput media nasional dan videonya pun pernah ditayangkan di TV Turki dan TV Malaysia. Sebab, hasil karya pot berbahan popok saat kisaran tahun 2016 hingga sekarang dinilai memiliki sisi unik dan memiliki nilai kebermanfaatan secara langsung. 

Eko menyampaikan, dasar pemikirannya hanya satu hal yaitu cintai lingkungan dan berikan bimbingan kepada masyarakat. 

”Selama ini yang saya jadikan prinsip adalah rawatlah bumi dan lingkungan. Jika lingkungan kita bersih, maka lingkungan pun sehat. Apalagi air itu sumber kehidupan sekaligus warisan bagi anak cucu kita kedepannya,” tutupnya. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#Olahan Limbah #Limbah Popok Jadi Pot #Rudy Eko Prasetyo