Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dalam Dua Tahun, Raih 35 Juara Dai Tingkat Nasional

Mardi Sampurno • Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:15 WIB
BAKAT SEJAK KECIL: Salah satu penampilan M. Zainul Alimil Hakim (kanan) ketika tampil pada Aksi Indosiar, 17 Juli lalu.
BAKAT SEJAK KECIL: Salah satu penampilan M. Zainul Alimil Hakim (kanan) ketika tampil pada Aksi Indosiar, 17 Juli lalu.
Kariernya sebagai dai sangat singkat: hanya dua tahun. Namun M. Zainul Alimil Hakim sudah bisa TV nasional berkat ceramahnya yang menarik simpati juri. Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ini tembus final ajang Akademi Sahur Indonesia (Aksi) Indonesia 2022.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

M Zainul Alimil Hakim salah satu orang yang bisa dikatakan beruntung. Biasanya, sebuah perjuangan butuh waktu yang panjang untuk membuahkan hasil. Namun, tidak untuk pria yang akrab disapa Hakim itu. Dia mulai belajar jadi dai baru dua tahun silam yakni sejak 2020. Meski tergolong singkat, Hakim mengaku usaha yang dikeluarkan pun ekstra. Dia berlatih keras agar punya kemampuan bicara di depan publik. Dia belajar kepada ibundanya dan keluarganya yang lain. Termasuk melihat cara bagaimana para dai menyampaikan nasihat kepada khalayak.

Hasilnya pun tidak sia-sia. Sejak mencoba mengikuti kompetisi dai dua tahun silam itu, kini total sudah ada 35 kejuaraan dai tingkat nasional yang berhasil dia raih. “Tidak semua juara satu. Ada yang juara dua. Ada yang juara tiga juga,” ujarnya.

Kesuksesan saat ini bukan tanpa cela. Pengalaman lomba pertama yang dia diikuti tak membuahkan juara. Namun, dari situlah pria asal Kediri itu semakin terpacu. Sebab, untuk pengalaman pertama dia menyebut hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Hakim menceritakan saat itu dirinya mengikuti lomba dai tingkat nasional di Tebuireng, Jombang. Ada tiga babak yang harus ia ikuti. Babak pertama dirinya harus mengirimkan sebuah video. Lalu video itu akan diseleksi untuk masuk ke babak selanjutnya yakni babak dua. “Saat itu dari babak satu ke babak dua ada sebanyak 360 video dai yang dinilai. Akhirnya dipilih 80 video saja,” ungkapnya.

Hakim mengaku bangga sebab ia termasuk satu dari 80 peserta yang terpilih untuk maju ke babak dua. Lantas 80 peserta yang terpilih akan tampil secara langsung di hadapan juri di Tebuireng, Jombang.

Dari 80 peserta di babak dua itu selanjutnya dipilih enam besar untuk diadu dalam babak grand final. Sayangnya, Hakim tidak termasuk di dalamnya. “Saat itu saya dapat urutan 20. Tapi bagi saya itu sudah pencapaian luar biasa untuk pengalaman pertama,” ungkapnya dengan semangat.

Alih-alih kecewa dengan kegagalannya itu, Hakim malah semakin tertantang untuk mengikuti lomba-lomba lainnya. Akhirnya, mulai lomba yang kedua Hakim tak pernah absen membawa piala dalam setiap kali mengikuti kompetisi. “Yang kedua itu saya ikut lomba dai di SMAN 1 Ponorogo dapat juara 2 tingkat provinsi,” imbuhnya. Tentu saja capaiannya dalam bidang dai membuatnya bangga. Padahal Hakim tak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

Pria yang kini sedang menempuh studi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di UM mengaku menimba ilmu agama dari sang ibunda, Pak Lik (paman), dan Pak Poh (Pak De) . Barangkali semangat berdakwah Hakim teraliri darah ibunda. Sebab, ibunda pria yang kini akan menempuh semester tiga itu adalah seorang hafidz Quran. “Kebetulan Pak Lek dan Pak Poh juga lulusan pondok pesantren terkenal,” ungkapnya.

Untuk itu, Hakim mengaku bisa belajar langsung dari mereka. Di samping itu, sejak sekolah mulai jenjang TK, dirinya selalu masuk di sekolah berbasis Islam. Hal yang tak disangka-sangka dia adalah kesempatan untuk tampil dalam sebuah program televisi nasional di ajang pencarian bakat dai. Ya, lolos dalam ajang AKSI (Akademi Sahur Indonesia) Ramadhan 2022 lalu menjadi pengalaman paling tak terlupakan bagi pria 18 tahun itu. Pasalnya, ketertarikannya dengan dai ternyata sudah sejak dulu. “Tepatnya sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah) saya sudah suka lihat AKSI di Indosiar. Nah, kebetulan juara AKSI pertama itu adalah orang Kediri,” terangnya.

Berangkat dari situlah dirinya mulai memunculkan harapan untuk bisa menjadi juara dalam ajang tersebut. Akhirnya ketertarikannya itu baru ia mulai salurkan sejak dua tahun lalu. Meski anak sulung dari empat bersaudara itu tidak keluar sebagai pemenang, dia mengaku puas dengan perjuangannya itu. “Yang terpenting saya sudah berikan yang terbaik yang saya bisa,” tandasnya. Dia mengaku dalam mengikuti AKSI tak hanya kemampuan dakwahnya saja yang dinilai. Namun, kemampuan lain juga menjadi pertimbangan tersendiri. “Jadi ciri khas, latar belakang, dan prestasi sebelumnya turut menjadi pertimbangan untuk lolos dalam ajang itu,” ucapnya.

Beruntung, selain jago dai, Hakim juga mahir melantunkan salawat dengan lagu-lagu yang syahdu. Tentu saja kemampuannya itu jadi nilai tambah untuk lolos.

Namun, perjalanan kompetisinya harus berhenti di 18 besar saja, Meski begitu perjalanan panjang untuk bisa masuk ke babak tiga dan tampil di TV sudah menjadi hal tak terlupakan bagi Hakim. Ia masih ingat bagaimana dia harus membuat video berdurasi tiga menit untuk mengikuti babak pertama yang diikuti oleh 1.200 peserta dari seluruh Indonesia. Video itu lantas dikirim ke pihak penyelenggara dan diunggah di berbagai media sosial milik pribadi. Setelah dinyatakan lolos, dia masuk babak selanjutnya yakni babak kedua. Hakim kembali tampil di hadapan para kru Indosiar dan tim kreatif melalui zoom untuk menampilkan dakwah secara langsung. Selain itu, dalam babak dua tersebut mulailah dinilai kemampuan lainnya seperti bersalawat.

Akhirnya, konfirmasi keberhasilan lolos babak ketiga 24 besar itu dia terima saat dirinya mengikuti perkuliahan. Tentu rasa haru dan bangga tak bisa ditutupi dari ekspresi wajahnya saat itu. Hakim menyebut dirinya kerap membawakan materi-materi dakwah yang ringan. Artinya, isu-isu yang dia angkat selalu masalah yang dekat dengan kita. Misalnya masalah keberagaman, persatuan, dan menjadi pemuda inspiratif. “Tema-tema yang saya bawakan ya berdasarkan masalah yang ada di sekitar saya sendiri. Saya paparkan lalu saya berikan solusinya,” ungkapnya.

Seperti saat dirinya tampil untuk terakhir kalinya di 18 besar panggung Aksi Indosiar 2022. Hakim dengan percaya diri mengangkat tema amal yang berat. Ia menyampaikan bahwa salah satu amal yang berat adalah membantu sesama. “Sebab, dalam setiap harta yang diberikan kepada kita ada hak orang lain. Untuk itu, mengeluarkannya merupakan sebuah kewajiban setiap orang,” beber dia dalam ceramahnya.

Dia menyebut, sekalipun kita sedang dalam kesusahan, membantu sesama tak akan menghilangkan nilai rezeki. Sebab, Allah tentu akan melipatgandakan apa yang kita keluarkan.

Namun, tentu saja solusi itu berangkat dari dalil agama. Hakim mengaku selalu berkonsultasi dengan ibunda untuk masalah Alquran. Sedangkan, untuk hadits dan kitab dirinya banyak belajar dari Pak Lek dan Pak Pohnya.

Dengan prestasinya dalam bidang dai yang moncer itu, Hakim berniat untuk menimba ilmu agama di pondok pesantren. Namun, sebelumnya dirinya akan fokus untuk menyelesaikan kuliahnya lebih dulu. Sebab, dia punya tanggung jawab juga dalam penyelesaian studinya itu. Hakim mengaku dirinya adalah penerima KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah. Hal itu akibat kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan saja. Untuk itu, dirinya bertekad untuk menyelesaikan pendidikan S1-nya itu sebaik mungkin. Pria yang bercita-cita menjadi guru itu mengaku usai mengikuti AKSI Indosiar 2022 lalu, dirinya kini juga sering mendapat undangan untuk mengisi pengajian. “Jadi keadaan sekarang jauh lebih baik. Semoga saya bisa terus istiqomah belajar dan menebar manfaat,” tutup pria yang hafal 4 juz Alquran itu. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#Sosok #Akademi Sahur Indonesia 2022 #ceramah #Dai #mahasiswa um