Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Awalnya Servis Kendang, Kini Jago Bikin Angklung dan Gamelan

Mardi Sampurno • Jumat, 19 Agustus 2022 | 16:25 WIB
TELATEN: Arik Sugiyanto sedang menggarap pesanan pembuatan alat musik tradional di tempat kerjanya kemarin malam.
TELATEN: Arik Sugiyanto sedang menggarap pesanan pembuatan alat musik tradional di tempat kerjanya kemarin malam.
Arik Sugiyanto bukanlah pelaku seni. Dia juga tidak memiliki keluarga dengan latar belakang seniman. Namun, berawal dari keinginan membantu kawannya di paguyuban kuda lumping Kota Malang, pria asal Lesanpuro itu justru bisa hidup dari produksi perangkat seni. Bahkan pesanan sudah datang dari berbagai pelosok tanah air.

NABILA AMELIA

SEMUA bermula sebelas tahun silam, tepatnya pada 2011. Saat itu ada seorang kawan mengeluh lantaran kendang yang biasa digunakan untuk pentas kuda lumping rusak. Arik yang kala itu bekerja sebagai pengawas di sebuah supermarket, iseng menawarkan diri untuk membetulkan kendang tersebut. Ternyata dia bisa melakukan perbaikan

Pengalaman pertama memperbaiki kendang itu justru menjadi titik balik hidupnya. Arik mulai tertarik mendalami seluk beluk alat musik tradisional. Tanpa disangka-sangka, pada tahun yang sama dia malah mendapat pesanan untuk membuat gamelan Jawa. Padahal sebelumnya sama sekali belum pernah membuat alat musik tradisional berbahan logam itu.

Agar tidak mengecewakan pemesan, pria 36 tahun itu langsung pergi ke pertunjukan wa yang untuk menonton sekaligus mengukur gamelan. Berbekal pensil serta kertas, Arik mengukur gamelan yang digunakan oleh kelompok pemusik yang mengi ringi pertunjukan wayang. Pengamatan bentuk, bahan, dan ukuran yang dia dapatkan langsung dibawa pulang.

Selanjutnya, bapak satu anak itu bekerja keras untuk menyelesaikan pembuatan gamelan sebaik-baiknya. Tentu bukan pekerjaan mudah, mengingat untuk membuat satu set gamelan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. ”Ternyata orang yang pesan gamelan itu merasa puas. Sejak saat itu mulai tersebar kabar bahwa saya bisa membuat alat musik. Banyak juga yang tanya,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, Arik mulai banjir pesanan. Tidak hanya dari Kota Malang, tetapi juga merambah ke daerah-daerah lain. Seperti Kabupaten Malang, Kota Batu, Sidoarjo, Kediri, Nganjuk, dan Lamongan. Bahkan pesanan juga datang dari luar pulau, seperti Kalimantan, Samarinda, Maluku, dan Papua.

Dalam satu kali pemesanan, Arik bisa meraup omzet hingga belasan juta rupiah. Dengan keuntungan yang cukup besar, dia yang kala itu masih bekerja sebagai pengawas supermarket memutuskan untuk berhenti. Sebab, membuat alat musik tradisional jauh lebih menguntungkan.

Di samping gamelan dan kendang, Arik juga belajar membuat peralatan senni tradisional lain, seperti pecut kuda lumping hingga angklung. Saat ini pesanan terbanyak justru untuk alat musik angklung. Bahkan pesanan angklung tetap ada selama pandemi Covid-19.

Untuk satu set angklung, minimal orang harus memesan 15 buah. Kalau untuk kebutuhan grup tentu lebih banyak lagi. Mininal harus dua set yang terdiri dari 30 angklung. Menurut Arik, angklung bisa menjadi primadona karena sangat fleksibel. Banyak dibutuhkan seniman karena bisa digunakan untuk musik jalanan. Beda dengan alat musik lain yang biasanya hanya digunakan untuk pentas. Karena itulah, saat pandemi produksi angklung tetap berjalan, meski sedikit berkurang.

”Kalau sebelum pandemi, dalam satu tahun pesanan bisa sampai puluhan set. Pada saat pandemi berkurang hampir 90 persen. Sekarang berangsur-angsur banyak yang pesan. Ada yang dari Lawang, Kota Batu, Wagir, serta Kalimantan,” imbuhnya.

Terkait proses pembuatan alat musik tradisional, Arik mengaku cukup mudah. Terutama jika sudah memiliki pemahaman terkait dasar pembuatannya. Yang menantang adalah pencarian bahan baku angklung, yakni bambu wulung atau dikenal juga dengan pring ireng.

Dia menjelaskan, bambu wulung dipilih karena konturnya yang keras dan kaku. Hal itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan nada agar sesuai karakter. Apalagi Arik juga harus melayani pemesanan angklung Malangan dan angklung Sunda yang karakter suaranya berbeda. Biasanya, bambu wulung yang bagus dia temukan di pinggiran wilayah Malang. Itu pun dia harus bersaing dengan pengusaha gazebo.

”Bambu bahan angklung juga butuh perawtaan sebelum digunakan. Ada treatment khusus, yakni merendam dengan pupuk. Lebih murah menggunakan Urea,” ujarnya. Semakin lama direndam, maka hasilnya semakin bagus. Biasanya Arik merendam bambu cukup lama, sampai stok yang kering habis lebih dulu.

Untuk pengiriman pesanan jarak jauh, Arik biasanya memberikan perlindungan dobel agar anklung tidak rusak karena benturan. Paling umum menggunkan kayu palet di bagian kanan, kiri, atas, dan bawah.

Di samping menerima pe mesanan, Arik beberapa kali di minta memberikan pelatihan pembuatan alat musik tradisional. Misalnya pelatihan membuat angklung di Dewan Kesenian Malang (DKM) beberapa waktu lalu. Ada juga beberapa pelati han di luar kota, seperti Bali.

Arik menyadari bahwa dunia musik terus berkembang. Termasuk tuntutan kualitas produk alat musik yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, dia juga terus berinovasi dalam meningkatkan produknya untuk memuaskan pemesan. ”Misalnya dalam membuat angklung, saya menggunakan tuner untuk mengatur akurasi nada dan level suara. Baik tuner yang analog maupun aplikasi. Ini supaya lebih presisi,” tandasnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Gamelan #Angklung #Produksi Perangkat Seni #Paguyuban Kuda Lumping Kota Malang